
Aktivitas pagi seperti biasa sedang berlangsung, Soraya kini membantu Nisha yang sedang membuat masakan yang cukup asing baginya.
"Makanan apa itu nak? Nenek tidak pernah melihat ataupun merasakannya. Pakai saus dan keju, apa tidak membuat enek?" Soraya melihat Nisha sedang menaburi keju parut di atas makanan tersebut.
"Ini namanya spaghetti nek, di atasnya disajikan dengan saus bolognese dan juga ditaburi keju sebagai topingnya. Nenek mau mencobanya?" Nisha menatap Soraya dengan senyuman.
"Sepertinya lidah nenek sangat asing dengan masakan itu, tidak biasanya kamu memasaknya dalam jumlah yang cukup banyak. Apa ada yang memesannya?" Terlihat ada lima kotak-kotak dalam ukuran sedang yang Nisha isi dengan makanan tersebut.
"Mas Ray mau dimasakin sesuatu nek, Nisha tidak tahu makanan kesukaannya. Jadinya cuma menu ini yang Nisha kira cocok untuknya, sengaja buatnya lebih. Siapa tahu nanti disana ada yang mau, tapi. Nenek harus cobaan dulu rasanya, paling tidak lidah kita mengenal rasa dari makanan orang kelas atas nek, hehehe." Nisha menyuapkan satu sendok makan yang berisikan spaghetti ke dalam mulut Soraya.
Mulut wanita paruh baya itu mulai bergerak untuk merasakan makanan yang menurutnya aneh dan baru pertama kalinya ia lihat, ekspresi wajah itu menunjukkan gejala yang cukup menggambarkan rasa dari makanan tersebut.
"Manis, asin, emm gurih. Duh Nish, mulut nenek rasanya aneh. Lebih baik kamu kasih roti saja sama nenek." Soraya berusaha untuk menghabiskan dan menelan makanan tersebut di dalam mulutnya, meneguk air didalam gelas hingga kandas.
"Hahaha, maaf nek. Rasanya juga menurut Nisha agak gimana ya, sepertinya mie instan akan lebih baik. Namanya juga makanan orang kelas atas nek." Senyuman Nisha pada kelucuan pada hari ini.
Membereskan semua perlengkapan dapur yang sudah ia gunakan, dibantu oleh sang nenek hingga selesai. Tak lama kemudian terdengarlah suara ponsel miliknya yang berbunyi, lalu Nisha segera mengambilnya.
...❤ calling......
"Hallo..."
"Sebentar lagi Heru akan sampai, bersiaplah baby."
"Ia mas, tapi. Aku takut rasa makanannya tidak akan cocok dengan lidahmu, nenek saja merasa aneh dengan rasanya."
"Itu karena kalian belum terbiasa memakannya, bawa aja baby. Apapun masakanmu itu, akan terasa sangat nikmat dimulutku." Ray menyakinkan pada Nisha dan tidak ingin membuatnya kecewa, walaupun ia belum merasakan rasa dari masakannya.
"Baiklah, apa ada yang kamu inginkan lagi mas?"
"Tidak ada sayang, kehadiranmu yang sudah aku inginkan. Titip salam buat nenek, aku tunggu sayang."
__ADS_1
Pembicaraan itu telah selesai, Nisha merapikan kotak-kotak yang berisikan makanan tersebut ke dalam sebuah tas kecil dan sebuah botol tahan panas kedalamnya. Terdengar suara klakson dari arah luar rumah, menandakan jika heru sudah tiba.
"Nek, Nisha berangkat ya." Berpamitan dan tak lupa mencium punggung tangan dari sang nenek.
"Iya nak, hati-hati ya. Jika harus dihindari, maka hindarilah."Soraya yang mengetahui kejadian yang menimpa cucu itu pada saat ia bekerja, ketakutan itu selalu menghantuinya.
"Iya nek, Nisha akan lebih berhati-hati untuk ke depannya. Nisha pamit ya nek, nenek juga hati-hati dirumah."
Soraya menjawabnya dengan memberikan senyuman manis untuk sang cucu, mendengar kejadian yang menimpa Nisha sangat membuat hatinya sakit. Hanya karena ia berasal dari keluarga yang tidak sederajat dengan teman-temannya, hingga ia dikucilkan. Dan kini, orang tersebut kembali menghampiri kehidupan mereka yang sudah dikatakan lebih baik.
Selama dalam perjalanan menuju kantor Ray, Nisha lebih banyak diam dan wajahnya juga begitu tegang.
"Nona, apa anda baik-baik saja?" Heru memecah kesunyian diantara mereka, melihat wajah tegang Nisha yang tampak begitu aneh.
"Hem, tidak ada. Aku baik-baik saja, kak Heru sudah lama kerja sama mas Ray?"
"Hah, nona. Panggil saja saya dengan nama, nanti tuan akan marah."
"Baik nona, saya sudah lima tahun bersama tuan." Heru merasa begitu tersanjung dengan perkataan Nisha yang menganggap dirinya sebagai saudaranya sendiri.
"Kak, apakah aku pantas untuk berdiri disisi mas Ray? Apakah ada wanita lain yang pernah mengisi hari-harinya?" Pandangan mata Nisha menatap jauh pemandangan dari balik kaca mobil.
"Bukan kapasitas saya untuk menjawabnya nona, lebih baik tuan sendiri yang menjawabnya." Heru tidak ingin bersikap berlebihan mengenai kehidupan pribadi seorang Ray.
"Aku, aku merasa tidak pantas untuk semuanya kak. Kehidupan mas Ray masih banyak yang tidak aku ketahui, dan juga perbedaan diantara kami berdua begitu nyata."
Hening, itulah yang kini terjadi setelah Nisha mengatakan apa yang selama ini menjadi ganjalan didalam hatinya.
"Percaya dan yakinlah, tuan Ray adalah orang yang begitu sangat hangat. Hanya anda yang bisa membuatnya menjadi seperti saat ini, tidak ada wanita yang pernah bisa menyentuhnya."
"Benarkah?!" Nisha merasa tidak percaya dengan penjelasan dari Heru kepadanya.
__ADS_1
Anggukan kepala Heru sebagai jawabannya, namun hati Nisha masih belum terlalu yakin akan hal tersebut. Karena baginya orang seperti Ray, tidak akan ada wanita yang tidak tertarik padanya.
"Kita sudah sampai, nona."
Tanpa disadari, mobil yang membawa dirinya sudah tiba didepan sebuah gedung besar yang sangat megah. Nisha keluar dari mobil sembari menunggu Heru memarkirkan mobilnya, Nisha terlebih dahulu masuk ke dalam gedung tersebut.
"Apa benar mas Ray bekerja disini? Huh, dulu aku pernah kemari sebagai pengantar makanan dari Cafe dan sekarang sama saja." Mata Nisha tak henti-hentinya menatap setiap sudut bangunan tersebut dengan takjubnya.
Dengan menenteng tas yang berisikan makanan buatannya, Nisha berjalan begitu saja tanpa tujuan.
Dugh!
"Maaf, maafkan saya."Nisha tanpa sengaja bertabrakan dengan salah satu karyawan wanita disana.
Memandangi Nisha dari atas sampai ke ujung kakinya, wanita tersebut terlihat begitu tidak suka dengan apa yang baru saja ia alami.
"Maaf? Lain kali pakai tu mata, jangan pakai kaki kalau melihat jalan. Kamu siapa? Kenapa gem***el seperti kamu bisa masuk, keluar sana. Disini tidak menerima orang seperti kamu, dasar gem***el." Wanita mendorong tubuh Nisha dengan cukup keras dna kuat, sehingga membuat Nisha terdorong ke arah belakang dan terjatuh.
"Akh!" Teriak Nisha saat tubuhnya mendarat dengan kasar di lantai.
Keributan tersebut mengundang perhatian banyak orang, Heru yang baru saja tiba dari parkiran mobil merasa heran.
"Ada apa ini?" Heru menerobos kerumunan para karyawan disana.
"Nona! Minggir, menyingkir kalian semuanya!" Teriakan Heru membuat kerumunan tersebut menyingkir.
Membantu Nisha yang kesulitan untuk berdiri, Heru menatap tajam kepada salah satu karyawan yang berdiri dihadapan Nisha.
"Nona tidak apa-apa?"
"Iya kak, aku tidak apa-apa kak. Maaf, sudah membuat keributan." Nisha merasa bersalah telah menyebabkan kerumunan disana.
__ADS_1