Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
93.


__ADS_3

Mendapati perusahaan dan juga klan yang ia pimpin mengalami kendala, benar-benar membuat Ray kalangan kabut untuk mencari siapa dalang dari kekacauan yang terjadi. Namun semua kekacauan itu tiba-tiba saja mereda dan hilang begitu saja, kondisi pun kembali normal pada hari itu juga. Hal itu semakin membuat kepala Ray rasanya ingin pecah, belum juga ia mengetahui siapa dalangnya dan secepat itu pula keadaan menjadi pulih kembali.


"Apa kalian sudah menemukannya?" Ray yang kini sedang berada di markas, berusaha mencari petunjuk.


"Belum, sepertinya dia begitu menguasainya dan menghapus jejaknya tanpa ada sedikitpun celah untuk orang lain melihatnya." Jawab Heru yang hampir putus asa untuk mencari siapa yang sudah melakukan hal tersebut.


"Benar tuan, walaupun keadaan sudha kembali pulih. Para pemegang saham terus menanyakan peristiwa tersebut dan bagaimana keamanan investasi mereka untuk kedepannya." Ucapan Felix terdengar seperti ada kata menyerah.


"Cari sampai dapat, jika hal itu tidak kalian temukan. Aku akan melepas kalian dari klan." Bernada tinggi dan tegas dalam ucapannya, Ray mengeluarkan kalimat terakhirnya jika kasus itu tidak terpecahkan.


Mendengar ucapan tersebut, membuat semua mata yang berada disana terbelalak. Menurut Ray, ini adalah kasus dimana dirinya benar-benar seperti dipermalukan dengan sangat halus. Walaupun keadaan berpihak padanya, namun tetap saja diri Ray merasa ia sangat menjadi tidak berguna.


Kepergian Ray dari markas, membuat Bibby mengeluarkan recehan gerutunya Tanpa sadar, ia memberitahukan siapa yang awalnya memberitahukan penemuan tersebut. Dan itu sangat dan sangat membuat anggota lainnya tidak percaya.

__ADS_1


"Siapa yang berani membuat keadaan seperti ini? Saat ini, tuan Ray pasti sangat marah. Aku juga pada awalnya tidak percaya jika tuan muda menemukan permasalahan pada jaringan akses milik klan kita dan juga milik perusahaan tuan, tapi. Siapa yang sudah memulihkan semuanya itu kembali seperti semula lagi, tuan muda tidak mungkinkan?" Bertopang dagu seperti sedang memikirkan sesuatu yang cukup serius, namun apa yang sudah Bibby ucapankan adalah awal dari masalah baru.


Sreth!


Kerah kemeja yang Bibby kenakan saat itu tertarik sangat kuat, sehingga membuatnya menjadi sulit bernafas. Ia menahan gerakan tangan yang menempel pada kemejanya, namun disaat matanya menangkap wajah pemilik dari tangan tersebut dan membuat dirinya menjadi mengurungkannya.


"Jelaskan apa yang sudah kau ucapkan tadi! Tuan muda? Tuan muda siapa?!" Heru dengan menatap tajam pada Bibby, dimana bola matanya menampakkan kemarahan yang begitu besar seperti yang terjadi pada Ray sebelumnya.


Tubuh Bibby mendadak menegang mengetahui Heru yang mencengkram kemejanya, orang kepercayaan Ray serta Felix dan juga yang lainnya sudah memberikan layaknya ancaman untuk nyawanya. Begitu ragu dan dilema yang cukup besar untuk Bibby saat ini, perjanjian dirinya terhadap tuan mudanya sedang dipertaruhkan.


"Katakan! Aku tidak akan mentolelir siapa dirimu ataupun posisimu saat ini, jika kau masih menutupi semuanya. Cepat katakan!" Bentakan dari Heru dan juga suara senjata itu sudah siap untuk mengeluarkan amunisinya, membuat Bibby menelan salivanya dengan begitu kasar.


Glek!

__ADS_1


Keringat membanjiri wajah dan juga tubuhnya, Bibby benar-benar di buat dilema dengan keadaan. Ia masih mempertahankan dirinya untuk tidak mengatakan yang sebenarnya, masih setia untuk bungkam.


"Arkh!" Titik saraf vital pada tubuh Bibby mendapatkan serangan.


"Katakan atau nyawamu aku lenyapkan detik ini juga!" Felix pelakunya dengan tatapan membunuh.


Diantara pilihan untuk hidup atau mati, Bibby benar-benar tidak bisa untuk mempertahankan semuanya.


"Tuan tu an muda Nath Nathan." Dengam terbata-bata, Bibby menjawab rasa penasaran semua anggota disana.


Hening, itulah yang terjadi setelah Bibby menjawabnya. Cengkraman tangan itu melemah dan terlepas, kini Bibby merasakan asupan udara yang melegakan.


"Kau jangan mengada-ada Bibby, tidak mungkin anak seusia itu bisa menjalankan jaringan rumit." Heru mengusap wajahnya dengan kasar, tidak mempercayai apa yang baru saja ia dengar.

__ADS_1


"Benar, untuk apa aku berbohong dengan nyawa yang hampir lenyap." Jawab Bibby dengan mengusap bagian lehernya yang baru saja lepas dari rasa sakit.


Untuk menambah keyakinan yang lainnya, Bibby memperlihatkan beberapa bukti jika anak seusia itu adalah dalang dari peretasan dan juga penemu dari masalah yang dihadapai oleh mereka.


__ADS_2