Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
53.


__ADS_3

"Jangan menangis lagi, sayang. Mas mohon." Ray membujuk Nisha agar tidak terus-terusan menangis.


Seakan tidak bisa untuk menahannya lagi, Nisha mengeluarkan semua kekuatan suaranya.


"Aarrgghh!!!"


Haykal yang masih berada disekitar kamar perawatan Nisha dan Heru yang baru saja tiba disana, mereka mendengar suara teriakan yang cukup keras dari dalam kamar tersebut. Keduanya saling bertatapan dan segera bergegas menuju tempat yang menjadi sumber keributan.


Brak!


"Eh..." Keduanya terpana dengan pemandangan yang kembali merusak mata mereka.


"Aish, kalau mau bermesraan itu jangan membuat orang lain terlibat. Hari ini sudah dua kali mataku rusak karena kalian, kali ini apalagi Ray." Haykal berdengus kesal.


"Diam kau!" Kalimat tegas yang Ray keluarkan kepada Haykal.


"Tunggu Ray, Nisha!" Heru menyela perdebatan yang terjadi, menangkap sesuatu yang tidak beres pada tubuh adiknya itu.


Dengan cepat ia menghampiri pasangan tersebut dengan menatap Nisha, terlihat keringat membanjiri wajahnyanya. Ray yang masih berdiri disampingnya menatap heran kepada Heru, sorot matanya seakan meminta jawaban akan apa yang dilakukan oleh Heru.


"Hiks hiks." Nisha menangis dengan perlahan dan itu membuat Ray menjadi panik.


"Sayang, ada apa? Maaf, jangan menangis lagi. Mas benar-benar minta maaf."


Kedua pria disana seketika membulatkan kedua matanya, bahkan Haykal sempat-sempatnya menggosok-gosok telinganya seakan yang ia dengar adalah sebuah kalimat yang salah. Begitu pun Heru, bahkan mulutnya membulat dengan apa yang di ucapkan oleh seorang Ray.


Dengan tangisan serta kalimat yang Ray ucapankan sudah cukup membuat kejutan untuk dunia bawah, seorang Ray yang begitu dingin dan kejam. Bahkan ia mengucapkan kalimat 'maaf ' dan sebegitunya lembut hanya kepada seorang Nisha.


"Sia-sia saja aku kabur dari kamu mas, kalau tahu begini. Lebih baik aku habisin saja harta kamu dan kabur sejauh mungkin, operasi plastik jika perlu. Hiks ..."


"Apa? Jadi, kamu menangis hanya karena ini?!" Suara Haykal meninggi saat tahu penyebab kenapa Nisha menangis.


Bugh!

__ADS_1


Sebuah bungkus yang Heru bawa, kini melayang mengenai wajah Haykal.


"Kalian selesaikan saja urusan ini, jangan membuat kami menjadi penonton setia kalian berdua. Huh, tahu begini lebih baik aku ke perusahaan saja." Heru berdengus kesal dan menarik lengan Haykal keluar dari kamar tersebut, namun sebelum benar-benar keluar.


"Wanita itu sudah mendapatkan sedikit dari permainan kita, untuk selanjutnya biarkan kami yang bertindak. Jika menunggu kau, malah mataku akan ternodai lagi dan jiwa jombloku meronta. Sha, sepatutnya untuk menelfon nenek. Dan satu lagi, temanmu itu benar-benar membuatku sakit telinga. Bye."


Brakh!


Pintu tertutup dan hanya ada dua insan yang sedang bertatapan satu sama lainnya, Ray menuntun Nisha untuk kembali berbaring.


"Jangan memikirkan hal-hal yang akan membuat pusing, maaf kan mas yang sudha membuat dirimu menjadi salah paham sayang." Ray mengecup punggung tangan Nisha yang masih ada selang infusnya.


"Maksud mas, salah paham bagaimana?" Kening Nisha berkerut saat Ray mengatakan jika Nisha telah salah menilai.


Ray tersenyum saat mendapati Nisha yang begitu ingin mengetahui maksud dari perkataannya, mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Menunjukkan suatu rekaman video mengenai kejadian dimana Ray mendapatkan panggilan telfon dari seseorang terlihat dalam, rekaman tersebut Nisha yang tidak sengaja mendengar percakapan yang tidak secara utuh seluruhnya. Dan saat ini, Nisha telah mengetahui yang sebenarnya.


Membuang muka yang sudah berubah warna menjadi merah menahan malu, Nisha merasa sangat bo**h dengan sikapnya yang begitu egois dan tidak mau mempercayai suaminya sendiri.


"Jangan pernah pergi lagi, mas sangat tersiksa sayang. Jika kamu mempunyai keluh kesah ataupun sesuatu yang menganjal di hati, tanyakan saja langsung sama mas. Kamu adalah istri mas, sudah sepatutnya mengetahui semuanya apa yang mas lakukan. Jangan menahan semuanya lagi, mas siap sayang."


"Jangan pernah mengulanginya lagi, berjanjilah untuk selalu terbuka tentang apapun."


Kembali membawa Nisha ke dalam pelukannya, Nisha menganggukkan kepalanya sebagai tanda jika ia mengerti dan menyetujui perkataan Ray. Dirinya pun membalas pelukan yang Ray berikan.


"Aku merindukanmu mas, maaf sudah membuatmu khawatir. Tapi,..."


"Kenapa?" Ray mendapatkan perkataan Nisha yang terhenti.


"Sekali lagi maaf, ada beberapa barang pemberian mas sudah aku jual." Denga ragu Nisha mengatakan hal tersebut.


Ray melepas pelukannya dan menatap Nisha dengan cukup dalam, dengan sikap Ray yang seperti itu. Membuat Nisha merinding dan takut untuk menatap wajah suaminya yang terlihat sangat menyeramkan, melebihi dari seseorang yang akan melenyapkan musuhnya.


Cletak!

__ADS_1


"Auw!" Mengusap keningnya yang menjadi sakit terkena sentilan dari jemari ekkar suaminya.


"Mas!" Memasang wajah cemberutnya kepada Ray.


Bukannya memberikan penjelasan, tapi Ray kembali dengan wajah datarnya dan tiba-tiba saja.


"Hahaha." Tawa itu terdengar begitu lepas dan sangat ceria.


Mendapati suaminya tertawa, kening Nisha semakin banyak kerutannya. Masih dengan tawanya, namun perlahan Ray meredamnya dengan menyatukan keningnya dengan kening istrinya.


"Apapun yang mas miliki adalah milikmu juga sayang, semuanya itu tidak akan habis. Malah mas bingung mau menghabiskannya dengan cara apa, sudah jangan dipikirkan. Sekarang fokuslah untuk sembuh dan kita akan kembali ke mansion, mansion begitu sepi sayang."


"Argh! Kenapa di cubit, ini sakit sayang." Ray menjauh dari Nisha dan mengusap perutnya yang terkena cubitan kecil.


"Sakit? Bohongnya ketahuan banget mas, tembakan peluru sna sabetan senjata tajam saja belum seberapa buat kamu. Masa karena cubitan segitu saja sudah meringis."


"Aah!" Nisha berteriak saat tubuhnya menghantam dengan keras dada Ray.


"Sudah bisa ya, terima kasih sudah hadir dalam kehidupan mas."


"Hahaha, iya mas. Terima kasih juga sudah begitu sabar menghadapi istrimu ini yang masih suka bersikap kekanakan, tapi. Hahaha."


Nisha terus tertawa seperti sedang menahan rasa geli, Ray tidak menyadari jika dirinya lah yang menyebabkan hal tersebut.


"Hei, kenapa terus tertawa sayang?"


"Hahaha, i i ni. Hahaha, sudah mas hentikan!" Kali ini Nisha mendorong tubuh suaminya itu agar bisa memberikan jarak diantara mereka.


"Ada yang salah?" Ray merasa ada yang aneh dengan tertawanya Nisha.


Istrinya itu hanya menganggukkan kepalanya dengan menahan senyuman yang masih ada, kedua tangannya meraih wajah Ray dan mulai mengusapnya.


"Sudah saatnya kamu membersihkannya mas, ini membuatku selalu tertawa saat kamu mendekatkan wajah ini padaku. Jika tidak mau juga tidak apa-apa, kamu terlihat semakin dingin saja mas." Nisha menarik satu helai rambut tipis itu dan berhasil membuat Ray berteriak lagi dengan begitu keras.

__ADS_1


"Nisha! Awas ya." Keduanya saling melepaskan rasa rindu.


__ADS_2