
Senyuman dengan disertai debar jantung yang tak beraturan, membuat Ray menjadi salang tingkah.
...Baby ❤ is calling......
Ray menerima panggilan telfon dalam keadaan berjalan sangat cepat menuju ruang kerjanya.
"Hallo baby. Ada apa?" Ray mendaratkan tubuhnya untuk mendarat di kursi kerjanya.
Tidak ada suara yang didengar telinga Ray saat itu, hal itu membuat Ray mengkerutkan keningnya.
"Sayang, Nisha!" Nada bicara Ray yang terdengar panik memanggil Nisha.
Berulang kali Ray memanggil Nisha, namun masih saja tidak ada tanggapan apapun dari panggilannya.
"Nisha jawab! Jangan membuatku panik seperti ini, apa terjadi sesuatu padamu sayang. Jawablah." Ray begitu kaget saat mendapatkan panggilan telfon dari Nisha.
Hingga beberapa saat keheningan terjadi, Ray benar-benar panik saat tidak adanya jawaban dari Nisha. Namun ia berusaha untuk menghadapinya dengan tenang, menunggu hingga saat wanitanya itu berbicara sendiri dengan sambungan telfon masih terjadi.
"Kamu dimana?" Tiba-tiba suara Nisha memecah kesunyian yang terjadi diantara mereka.
"Sayang! Akhirnya bisa mendengar suaramu lagi, maaf belum bisa menemuimu. Lagi ada sedikit masalah di negara seberang yang harus diselesaikan, jangan terlalu sibuk bekerja." Ray bernafas dengan lega setelah mendengar suara wanitanya.
"Baiklah, segera pulang jika pekerjaannya disana sudah selesai. Aku tutup telfonnya."
"Tunggu baby, kau harus bertanggung jawab. Aku sudah menyerahkan semua pekerjaanku pada Felix dan sekarang aku sedang mengganggur, temani aku sayang. Akan aku ganti ke video call saja."
Segera menggantikan sambungan telfon tersebut dari telfon biasa menjadi video call, pada awalnya Nisha ragu untuk menerimanya. Mereka pada akhirnya saling melihat wajahnya satu sama lain Ray begitu bahagia bisa melihat dan berbicara pada Nisha disaat hati dan pikirannya dipenuhi oleh permasalahan yang harus segera diselesaikan, memberikan semangat untuk dirinya.
__ADS_1
"Sayang." Ray melihat kepala Nisha yang sudah menutupi layarnya, menandakan jika dia sudah tertidur.
"Sudah tidur rupanya, hoam. Kau begitu membuatku menjadi candu padamu sayang." Ray juga merasakan rasa kantuk yang luar biasa, tidak biasanya ia merasakan hal ini.
Setelah selesai dengan tugasnya, Felix kembali menemui tuannya untuk melaporkan apa yang sudah ia kerjakan. Mengetuk pintu ruangan milik Ray berkali-kali namun tidak mendapatkan respon apapun, ia memberanikan diri membuka pintu tersebut dan masuk mencari keberadaan tuannya.
"Tuan, tuan Ray."
Felix mencari keberadaannya Ray dan pada akhirnya ia menemukan tuannya itu sudah terlelap, saat ia mendekatinya. Terlihat ponsel milik Ray masih menyala, mengetahui apa yang sudah terjadi yang pada akhirnya Felix mengurungkan niatnya untuk menyampaikan kepada Ray. Membiarkan tuannya untk beristirahat, karena memang sudah kurang lebih satu bulan ini Ray sulit untuk beristirahat apalagi untuk tidur.
Melihatmu bisa tidur dengan lelap seperti ini saja, membuat saya sangat bahagia tuan. Ternyata, kehadiran nona Nisha sangat membawa pengaruh positif untukmu tuan. Semoga ini akan terus berlanjut.
Perbedaan waktu yang berbeda diantara dua negara, membuat Nisha bang un tubuh dahulu. Karena pada saat ia sedang berkomunikasi dengan Ray, ditempatnya sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Berbeda di negara seberang yang pada saat itu masih di pagi hari, dan kini Nisha telah bangun dari tidurnya karena sinar matahari sudah menerobos masuk ke dalam kamarnya.
"Hoam, ternyata sudah pagi." Nisha merenggangkan setiap ototnya agar merasa nyaman.
Tanpa sengaja tangannya menyentuh ponsel yang berada didekatnya, ia pun meraihnya.
Ia melihat wajah Ray yang begitu tenang, walaupun dalam keadaan tertidur tidak mengurangi kadar ketampanannya. Ia terus memandangi wajah yang sudah sangat rindukan, memang Nisha belum sepenuhnya memberikan hatinya kepada Ray. Namun ia juga tidak ingin membohongi dirinya sendiri, jika dirinya merindukan pria itu.
"Sudah puas melihatnya, baby."
"Yak!"
Nisha menjadi kaget saat Ray tiba-tiba saja membuka matanya dan ia mengetahui jika Nisha sedang memperhatikan dirinya. Wajah Nisha sontak saja berubah menjadi kemerahan karena merasa malu, kepergok sedang memperhatikan wajah Ray.
"Hahaha, kau benar-benar membuatku gemas sayang. Mandi sana, wajahmu penuh dengan corak berbagai bentuk."
__ADS_1
Mendapati dirinya dengan berbagai corak, Nisha langsung menggerakkan tangannya untuk mengusap wajahnya. Namun lagi-lagi ia menjadi malu, karena Ray telah membohongi dirinya.
"Dasar pembohong! Dasar curang."
"Hahaha, jangan marah sayang. Salam untuk nenek, disini baru saja akan malam. Ah, perut ini terasa sangat keroncongan. Aku akan mengisinya dulu sayang, jangan meninggalkan ponselmu lagi. Jika itu masih terjadi, aku akan memberikanmu hukuman." Ray mengedipkan salah satu bola matanya kepada Nisha.
"Hem, baiklah. Jangan terlalu memberikanku harapan yang belum bisa aku balas, maaf. Aku belum bisa membuka hatiku untukmu tuan."
"Biarkan semuanya berjalan dengan mengikuti waktu sayang, perlahan rasa itu akan tumbuh. Namun untukku, kau sudah menjadi pemilik hati dan jiwa ini. Aku akan kembali dalam beberapa hari lagi, masih ada yang harus aku kerjakan disini."
"Iya iya, selesaikan saja dulu semuanya. Jangan khawatir, disini Heru menjagaku dengan sangat baik. Terima kasih tuan.
"Hem, bisakah tidak menyebutku dengan panggilan tuan, sayang. Itu sangat membuatku seperti bos dan karyawan saja."
"Memangnya aku harus menyebutkan apa? Pak bos, tuan besar, ..." Belum terselesaikan kalimat tersebut, Ray sudah menyelanya terlebih dahulu.
"Beb, ya Beb saja. Mulai saat ini, kamu harus menyebutku dengan sebutan Beb. Oke sayang." Seolah-olah Ray memaksa Nisha untuk memanggil dirinya dengan apa yang ia katakan.
"Hah, tidak adakah yang lainnya tuan? Terdengar sangat berlebihan, seperti pasangan muda-mudi yang sedang jatuh cinta." Protes Nisha terhadap Ray.
"Hei, kita kan juga seperti itu sayang. Jadi, apa yang salah."
"No no dan no. Mas saja, iya mas aja sudah cukup bagus kok. Sudah ya, nenek sudah terdengar suaranya dari luar. Cepat kembali."
Tidak perlu menunggu persetujuan dari Ray untuk hal yang ia ucapkan, Nisha dengan cepat memutuskan sambungan video call tersebut. Ia juga tidak ingin jika Ray melihat wajahnya yang sudah memerah seperti tomat, menahan rasa malu dan juga berusaha menutupi rasa kagumnya kepada pria tersebut.
Aduh, kenapa aku jadi tambah aneh seperti ini ya. Padahal aku tidak ada niatan untuk membuat dia semakin merasa ada harapan, tapi. Aku juga merasakan jika dia begitu tulus dan tidak ada kebohongan sedikit pun disana, huh. Semoga saja perasaanku ini tidak salah menilainya.
__ADS_1
Melanjutkan kegiatan seperti biasa, Nisha segera membantu sang nenek dalam hal pekerjaan rumah. Setelah selesai, ia juga bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Karena hari weekend, sudah dipastikan pengunjung Cafe akan ramai. Dan benar saja, terdengar suara klakson mobil dari halaman rumahnya. Heru sudah Tina disana, siap untuk menghantarkannya.
...----------------...