Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
54.


__ADS_3

Kembalinya Nisha, perlahan membuat Ray juga mulai berbenah. Henley, salah satu orang kepercayaan kini berada di mansiom untuk bertemu dengannya.


"Selamat pagi tuan, nyonya." Sapa Henley saat mendapati Ray dan Nisha menghampirinya.


Ray hanya menganggukkan kepalanya dan duduk bersama Nisha, Henley segera menyerahkan sebuah berkas yang merupakan laporan hasil kerjanya.


"Bagaimana wanita itu?" Ray menanyakan hal tersebut tanpa melihat Henley, matanya fokus membaca berkas yang berada ditangannya.


Deg!


...Wanita? Kenapa mas Ray mengatakan wanita disaat ada aku disini, seperti otaknya mulai gesrek....


Nisha mengumpat suaminya itu didalam hati, ia tidak habis pikir kenapa Ray bisa-bisanya membahas wanita dihadapannya. Namun ia berusaha untuk tenang dan mengikuti apa yang suaminya itu lakukan.


"Perempuan itu kabur dan seperti perkiraan kita sebelumnya tuan, adanya kerjasama dengan pihak lain yang begitu besar pengaruhnya." Henley menambahkan sebuah bukti rekaman dari sebuah benda berlayar datar namun lebih besar dari ponsel.


Begitu fokusnya Ray melihat rekaman tersebut, wajahnya begitu datar dan tidak ada menampakkan rasa kemarahan sedikitpun. Itulah Ray sebenarnya, ia akan menunjukkan wajah semua emosinya hanya saat berada bersama istrinya.


"Tetap awasi pergerakannya, mereka tidak bisa dianggap remeh. Dan juga, psycopat itu beri saja pelajaran sedikit." Menyudahi melihat rekaman dan melempar berkas tersebut begitu saja di atas meja.


"Baik tuan, apa anda akan ke perusahaan hari ini?"


"Siapkan saja rapat inti dua jam dari sekarang, pecat semuanya yang masih berdalih dan absen. Pergilah."


"Baik tuan, saya permisi nyonya." Henley beranjak dari tempatnya dna menundukkan sebagian tubuhnya sebagai tanda hormat kepada tuannya.


Setelah hilangnya Henley dari pandangan keduanya, Ray menggenggam tangan Nisha dan mengajaknya menuju meja makan.


"Hari ini, kamu ikut mas ke perusahaan."


"Hah! Em, memangnya ada apa mas? Lebih baik aku dirumah saja, lagian juga kamu nanti pasti sibuk. Yang ada akan mengganggu saja mas." Nisha merasa tidak pantas untuk ikut Ray ke perusahaan, apalagi dirinya bingung akan mengerjakan apa saja disana.


"Mas hanya tidak ingin kamu berbuat aneh-aneh lagi." Ray menikmati makanan yang sudah Nisha letakkan ke dalam piring miliknya.


"Aneh, maksud mas kabur?" Nisha seakan menekankan kalimat tersebut, dan membuat wajah itu kembali datar dan sedingin es.

__ADS_1


Lirik mata Ray menajam menatap Nisha yang menahan tawanya, dengan mudahnya Nisha memberikan tanda dua jari menggunakan tangannya.


"Hehehe, maaf. Itu tidak akan terulang lagi mas, disini juga sudah banyak sekali penjaga yang kamu tugaskan. Tapi, bolehkah aku mengajak nenek dan Jihan kemari? Emm atau ke mall bo..."


"Mereka akan dihantarkan oleh Heru, oke." Ray menyela perkataan Nisha, benar-benar Ray tidak ingin kejadian sebelumnya terjadi kembali.


Menyelesaikan sarapan paginya, kini mereka berjalan berdua untuk menghantarkan Ray berangkat bekerja. Didepan pintu utama, Felix sudah menunggu.


"Selamat pagi tuan, nyonya." Menundukkan sebagian tubuhnya dan mengambil tas dari tangan Ray.


"Hem, nanti kalau mau apa-apa. Bilang saja sama bi Clara, dan jangan lupa."


"Jangan lupa apa?" Kening Nisja berkerut.


"Setiap satu jam sekali, kirim kabar sama mas. Tidak ada penolakan dan sasaran sayang, mengertilah."


"Iya iya mas, siap tuan." Nisha bergaya seperti sedang hormat kepada seorang pemimpin.


"Arkh! Mas!"


"Sa sayang, kita kerumah sakit sekarang!"


"Tu tunggu mas, siapa yang sakit sih." Nisha menahan dirinya dari tangan Ray yang akan membawanya.


"Pi pipi kami sayang, ah." Ray merutuki dirinya sendiri yang sudah lepas kendali.


Terus menolak untuk pergi kerumah sakit, Nisha menenangkan suaminya yang sangat panik.


"Sudah mas, ini tidak apa-apa. Kamu juga sih, bercandanya suka kelewatan. Pergi sana, kasihan Felix sudah menunggu lama."Nisha mendorong Ray masuk ke dalam mobil dna menutupnya dengan keras.


"Berangkat saja Felix, jangan dengarkan kicauan tuanmu."


Brak!


Lambaian tangan dari Nisha, kaca jendela mobil terbuka. Terbuat raut wajah Ray yang menatap Nisha dengan penuh arti dan juga khawatir. Namun, sebisa mungkin Nisha menutupi rasa khawatir suaminya itu dengan senyuman. Disaat bayangan mobil Ray telah hilang dari pandangan, Nisha dengan cepat mengusap pipinya yang terasa panas. Ia melihat wajahnya disaat sudah berada di dalam kamarnya menggunakan cermin, tidak bisa ditutupi lagi warna merah kebiruan itu sudah terpampang jelas.

__ADS_1


"Tenaga apa yang kamu punya sih mas, kok bisa ni pipi modar dengan warnanya. Huh, resiko punya suami mafia. Hap!" Nisha menutup mulutnya yang sedang mengibahin suaminya itu.


"Maaf mas, gibahnya cuma sedikit." Lalu Nisha melanjutkan aktivitasnya bersama bibi Clara.


.


.


Kedatangan Ray diperusahaan, membuat semua pandangan karyawan wanita terpaku padanya. Dengan ketampanan yang ia miliki dan juga kharismanya sebagai pemimpin begitu pekat, membuat orang lain terpana terutama kaum hawa.


"Bagaimana?" Ray menanyakan sesuatu kepada Felix saat mereka berdua memasuki lif khusus milik Ray.


"Seperti yang anda duga tuan, mereka sekarang sedang menyiapkan yang anda minta."


"Hem, lakukan dengan cepat. Aku sudah lama berbuat hati pada mereka."


"Baik tuan."


Ting!


Pintu lif terbuka, keduanya langsung masuk ke dalam ruangan Ray dan juga di ikuti oleh Caca yang sudah menunggu mereka. Berbagai laporan sudah terlampir pada berkas yang kini dibawa oleh sekretarisnya, tanpa menunggu lama. Ray segera menganalisis berkas tersebut, tidak ada tanggapan apapun dari Ray. Wajah dinginnya sudah kembali menjadi makanan sehari-hari bagi Caca, begitu juga dengan beberapa orang kepercayaan dari tuannya.


"Bawa berkas ini saat rapat."


"Baik tuan."


Berkas itu dilemparkan begitu saja oleh Ray di atas meja, Felix menyodorkan sebuah rekaman kepada Ray.


"Siapkan saja, hubungi Bibby untuk melanjutkannya."


Anggukan Felix menyatakan jika mereka sudah siap melaksanakan apa yang telah tuannya perintahkan, rapat akan segera dimulai dalam waktu sepuluh menit lagi. Raut wajah Caca sudah tidak bisa di ekpresikan lagi, takut, cemas dan panik sudah menjadi satu.


...Wuih, tuan sudah kembali ke mode awal. Sepertinya akan ada pertunjukan drama terbaik di dalam perusahaan ini, sayang sekali jika harus di lewatkan....


Sepuluh menit berlalu, langkah besar itu berjalan menuju ruang rapat yang telah dipersiapkan. Suasana ruangan begitu tegang, semua peserta sudah berada di dalam ruangan tersebut. Bagaikan sedang berada di tengah padang pasir yang begitu tandus dan gersang, tidak ada kesempatan untuk menikmati suasana yang sejuk. Walaupun pendingin udara di dalam ruangan tersebut sudah begitu maksimal, tetap saja terasa panas.

__ADS_1


__ADS_2