
Tik!
Terdengar suara jemari yang baru saja Ray gerakan, tiba-tiba saja kerumunan tersebut sudah ditarik mundur oleh beberapa orang berpakaian serba hitam. Beberapa diantaranya sudah jatuh, terjerembab ke tanah.
"Tu tuan." Nisha membuka matanya dengan sangat besar, saat mendapati para tetangganya seperti itu.
"Sstthh! Saksikan saja sayang. Aku tidak akan membiarkan mereka semakin menjelek-jelekan dirimu dan nenek, itu tidak akan aku biarkan." Ray kembali menarik tubuh Nisha yang kembali mendekati dirinya.
Cup!
Tubuh Nisha seketika menegang, mendapatkan kecupan pada perlahan satu pipinya. Kejadian itu juga membuat para warga yang sudah berhamburan kaget dan ikut terdiam, ada diantara mereka bahkan sudah tergeletak tidak sadarkan diri.
"Tu tuan anda." Nisha menempelkan salah satu telapak tangannya pada pipinya yang sudah terkena kecupan tersebut dan menolehkan wajahnya menghadap Ray.
Ray yang tahu mendapatkan tatapan tajam dari Nisha, namun ia berpura-pura untuk tidak menanggapinya.
"Saya peringatkan kalian semuanya dan dengarkan baik-baik! Saya adalah calon suami dari Nisha, wanita yang kalian fitnah dan kalian hina. Apapun yang kalian ucapkan, itu tidak berpengaruh apapun kepada saya. Dan semuanya itu tidak bisa saya terima, bersiaplah untuk menerima akibatnya." Ray memberikan isyarat menggunakan gerakan bola matanya kepada para pria berpakaian serba hitam tersebut.
Pergerakan dari para pria berbaju hitam tersebut sangat cepat, mereka adalah anggota dari kelompok dunia bawah yang Ray pimpin untuk selalu siaga. Mereka membubarkan kerumunan tersebut dengan begitu cepat, entah apa yang mereka lakukan untuk hal tersebut.
"Siapa anda sebenarnya?" Tanya Nisha yang sudah begitu sangat penasaran dengan setiap kejadian yang menimpa dirinya, bahkan hampir di seluruhnya akan selalu ada Ray.
"Ada apa, kenapa kau bertanya seperti itu baby?" Ray yang mendengar perkataan Nisha, segera ia membawa untuk duduk bersama dan tak lupa ia juga mengajak Soraya.
Niat tulus yang Ray miliki, kini ia akan mengutarakannya kepada wanita tersebut secara langsung.
"Nyonya Soraya, sebelumnya saya mohon maaf atas kejadian tadi. Sebenarnya saya kemari untuk menyatakan apa yang saya rasakan kepada cucu anda, saya ingin melamar Nisha untuk menjadi pendamping hidup saya." Ray menggenggam tangan Nisha dan mengecupkan sesekali.
"Panggil saja nenek, sama seperti Nisha."Sahut Soraya pada Ray yang menyebutnya dengan Nyonya, Ray pun menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.
__ADS_1
Namun tidak bagi Nisha disaat itu. Seakan mendapatkan boom waktu yang sangat dahsyat, membuat Nisha dan soraya benar-benar kaget. Apalagi Nisha yang tidak mengetahui maksud dan tujuan Ray dari awal mereka bertemu sampai saat ini, namun ini masih belum membuat Nisha mengetahui semuanya.
"Tuan, jangan pernah mempermainkan sebuah pernikahan dengan seperti ini. Kita saja tidak saling mengenal, anda dengan seenaknya datang ingin menjadikan saya sebagai istri anda. Ini sungguh aneh, lepaskan tangan anda!" Nisha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Ray dengan paksa, sehingga membuat tanda kemerahan pada tangannya.
Seakan diluar nalarnya, Nisha meninggalkan Ray begitu saja dan masuk ke dalam kamarnya. Hanya tertinggal Soraya dan Ray disana, suasana menjadi hening.
"Boleh nenek bertanya padamu nak?" Soraya memecah keheningan.
"Iya nek, silahkan." Menghela nafasnya yang berat, Ray memejamkan matanya sejenak.
"Nenek tidak tahu apa yang sudah terjadi diantara kalian berdua, sepertinya Nisha benar-benar tidak mengetahui maksud dan tujuan dari nak Ray kepada dirinya. Selama ini, Nisha sudah banyak menelan kepahitan dari tudingan orang-orang disekitar sini terhadap dirinya. Duku, saat dia masih bersekolah juga mendapat hinaan dan juga cacian. Semenjak saat itu, dia tidak ingin berteman dengan orang-orang dari kalangan atas. Mungkin begitu juga pada nak Ray, dia tidak ingin mendapatkan hal itu kembali." Kemudian Soraya menjelaskan kembali mengenai cucunya tersebut kepada Ray, membuat Ray sangat merasa sakit mendengarnya.
Menundukkan wajahnya, Ray termenung dengan kata-kata yang diucapkan oleh Soraya kepadanya. Mendengar jika Nisha mengalami berbagai kejadian ya g tidak begitu mengenakan, berpura-pura tegar dengan semua yang ia alami.
"Dari awal aku melihatnya, aku merasakan sesuatu yang sangat berarti dan merasa tidak mau kehilangannya. Disaat dia menangis, hatiku begitu sakit walaupun hanya dengan melihatnya saja. Hingga saat ini, aku menyakini jika Nisha adalah orang yang tepat untuk mendampingiku. Apa aku salah untuk segera memintanya nek?" Mengusap wajahnya dengan kasar, Ray seperti sangat frustasi dengan situasi seperti ini.
"Lebih baik kamu pulang saja dulu nak, nanti biar nenek yang akan bicara pada Nisha. Lagian juga, kasihan teman-temanmu diluar sana kelamaan menunggu. " Soraya mengira jika orang-orang diluar sana adalah teman Ray.
Terlihat dari luar jendela, para anggota Ray masih berjaga-jaga. Ray kembali menghembuskan nafas beratnya, apa yang dikatakan oleh Soraya memang benar adanya. Jika memaksakan keadaan seperti ini, yang ada malah menambah rumit hubungannya dengan Nisha.
Soraya yang melihat hal tersebut hanya bisa tersenyum, ia juga merasakan jika Ray sangat tulus kepada cucunya. Hanya saja, ada sesuatu yang sangat mengganggu matanya saat melihat diri Ray. Ray sudah menghilang dari pandangannya dan satu persatu pria berpakaian hitam pun ikut meninggalkan halaman rumah sederhana itu.
Malam harinya...
Tok tok tok.
"Nisha, boleh nenek masuk." Merasa sudah lebih baik, Soraya menghampiri kamar Nisha.
Tek!
"Iya nek, masuklah." Nisha membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Soraya untuk masuk.
__ADS_1
Mereka pun kini duduk bersama pada pinggiran dari tempat tidur kecil milik Nisha, menyerahkan sebuah tas kecil berwarna biru langit kepada Nisha. Melihat benda tersebut, membuat kening Nisha berkerut.
"Ini dari Ray, dia menitipkannya pada nenek."
"Nanti saja dibukanya, nenek hanya ingin mengatakan padamu Nish. Sudah saatnya kamu hidup dengan lebih baik nak, jangan terus memikirkan orang lain yang selalu menindasmu. Lagi pula, Ray sepertinya orang yang begitu tulus padamu. Jangan kecewakan orang seperti itu nak, lupakan masa lalu yang tidak akan pernah bisa untuk kita rubah kembali. Jalani masa depan yang akan kau hadapi nak, ikuti kata hatimu. Nenek akan selalu mendukung setiap keputusan yang kamu ambil nak, pikirkanlah baik-baik." Soraya menepuk-nepuk pundak Nisha dengan perlahan dan keluar dari kamar tersebut.
Menatap tas kecil pemberian Ray, Nisha membukanya dengan perlahan. Sedikit kaget dengan apa yang ada didalamnya, namun Nisha hanya bisa menghela nafas panjangnya.
Ddrrtt...
Ddrrtt...
Tiba-tiba ponsel tersebut bergetar saat berada ditangan Nisha, hanya menampilkan.
...❤ calling......
Kening Nisha berkerut sangat banyak melihat tampilan tersebut, namun ia hanya mendiamkan saja dan meletakkannya di atas tempat tidur. Akan tetapi, ponsel itu terus bergetar tanpa henti. Dengan penuh menahan egonya...
"..." Nisha menerima panggilan telfon tersebut tanpa bicara.
"Maaf, jika kau menjadi merasa tidak nyaman dengan semuanya. Namun aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk tetap bersamamu baby, apapun itu. Istirahatlah baby, mulai dari detik ini kita akan menghadapi apapun itu bersama-sama. Berikan aku sedikit semangat, baby." Sikap Ray yang pantang mundur, terus membuat Nisha geleng-geleng kepala.
"Menyuruh istirahat, tapi ngajakin ngobrol terus." Kesal Nisha.
"Hahaha..." Terdengar tawa Ray yang sangat jernih.
Aneh! Nisha berceloteh didalam hatinya.
Percakapan pun terhenti, Ray menutup telfonnya. Baru saja hendak memejamkan matanya, Nisha dikagetkan lagi dengan suara notifikasi masuk.
...❤...
__ADS_1
Selamat beristirahat sayang, jangan terlalu memberatkan pikiranmu untuk hal-hal yang tidak berguna. Mari berjalan bersama-sama, love you sayang.
Tanpa sadar setelah membaca isi pesan dari Ray, sebuah senyuman kecil yang begitu tulus terlihat pada wajah Nisha.