
Brakh!
Brakh!
Pintu terbuka dalam dua kali tendangan, sebelum Heru memasukinya. Jihan terlebih dahulu menerobos masuk ke dalam.
"Cha, Cha." Teriak Jihan.
Heru mengkerutkan keningnya, mendengar suara Jihan yang begitu cempreng menurut dirinya. Lalu ia menggelengkan kepalanya, berharap tidak akan berurusan lagi dengan wanita itu.
"Tolong! Tuan tolong, Icha ..." Jihan keluar dari kamar kecil dan menghampiri Heru yang masih berdiri didepan pintu.
"Ada apa? Suaramu itu, kecilkan sedikit. Nanti aku dituduh berbuat yang tidak-tidak, menyusahkan saja."
"Ish, tampan-tampan tapi mulutnya pedes kayak bon chili. Ayo tuan, tolong teman saya. Dia menggigil!"
Mendengar perkataan Jihan, Heru nampak khawatir tapi ia tidak ingin ceroboh dan begitu saja percaya dengan perkataan Jihan. Siapa tahu, wanita tersebut bukan Nisha.
"Kalian itu wanita, mana mungkin aku masuk dengan sembarangan. Lagian juga, belum tentu wanita didalam sana adalah orang yang aku cari." Protes Heru kepada Jihan.
Plak!
"Dasar pria tidak punya hati, walaupun dia bukan wanita yang anda cari tapi setidaknya gunakan jiwa sosial anda untuk memberikan bantuan."
Menghembuskan nafas beratnya, Heru berharap ini adalah kesialannya karena bertemu dengan wanita yang membuat telinganya berdengung.
Langkah kakinya mengikuti Jihan dari arah belakang, saat melihat seorang wanita yang dimaksud oleh Jihan tersebut. Benar saja, tubuh itu benar-benar bergetar karena menggigil.
"Cha, bangun Cha. Kita ke dokter saja ya, tubuh kamu panas sekali." Jihan mencoba membangunkannya dengan perlahan.
"Egh egh. A a ku ti tidak apa-apa, hanya saja kepalaku sedikit pusing."
Perlahan Nisha membalikkan tubuhnya, disaat itu. Heru mendengar suara yang sangat ia kenali, untuk memastikan hal tersebut. Ia memasuki kamar kecil tersebut dan sungguh pemandangan yang sangat teduh, melihat seseorang yang sudah ia cari-cari.
__ADS_1
Menghampiri keduanya, Heru berjongkok dihadapan tempat tidur kecil tersebut. Mengusap puncak kepala Nisha dengan perlahan, membuat wanita itu sadar akan kehadirannya.
"Kak Heru." Suara lirih itu terdengar sangat pelan.
"Iya, ini kakak. Kita akan ke dokter dahulu, tidak usah berpikiran berat untuk saat ini." Heru membantu Nisha dan Jihan untuk masuk ke dalam mobil yang ia gunakan.
Isi kepala Jihan sudah berputar-putar mengenai siapa Heru, dan Heru dikagetkan lagi dengan pemandangan noda darah pada pakaian Nisha di bagian punggung. Ia mempercepat untuk membawa Nisha kerumah sakit, namun disana tidak ada. Karena rumah sakit berada di kota dan jaraknya tidak bisa mereka capai dengan keadaan Nisha yang seperti ini, Heru mengeluarkan benda pipihnya dan menghubungi seseorang. Tak lama kemudian mobil yang digunakan mereka melaju dengan kecepatan yang cukup kencang.
"Hei tuan, nyawa kami sangat berharga." Jihan merutuki Heru yang melajukan mobil dengan sangat cepat.
Tidak menghiraukan apa yang dikatakan Jihan, Heru memfokuskan dirinya agar bisa mencapai titik yang sudah disepakati.
"Cha, Cha bangun. Hei, jangan membuatku takut begini Cha?" Jihan mendapati jika tubuh Nisha semakin panas dan kedua matanya telah menutup dengan nafas rapat.
Jihan terus mengguncang tubuh Nisha dan mentoel pipinya, dirinya sangat merasakan khawatir yang berlebihan.
"Ada apa?" Heir menyadari keributan yang Jihan lakukan.
"Tuan, badannya semakin panas. Seperti Icha tidak sadarkan diri, bagaimana ini tuan!"
"Cepat keluar, kita akan membawanya kerumah sakit." Meraih tubuh Nisha dengan cepat.
Begitu kagetnya Jihan saat melihat ada sebuah helikopter yang sudah mendarat disana, apalagi melihat Heru telah menaikinya dan berbicara sebentar dengan beberapa orang yang akan membawa mobilnya.
"Cepat naik!" Teriakan Heru membuyarkan semua pikiran Jihan.
"Aaa iya."
Pintu telah tertutup, helikopter itu beranjak meninggalkan landasannya. Terlihat didalam sana sudah ada Haykal, ia langsung bergerak memberikan pertolongan pertama untuk Nisha.
"Hei, mau kamu apakah temanku? Dasar pria mesum, jauhkan tanganmu darinya!" Jihan yang belum mengetahui siapa Haykal, dengan cepat ia menepis tangan pria itu dari tubuh Nisha.
"Kau yang apa-apaan, aku ini dokter! Heru, siapa dia? Aish, singkirkan cepat." Haykal yang merasa terganggu.
__ADS_1
"Dia teman Nisha, dia dokter pribadi kami. Percayakan padanya." Heru menarik Jihan untuk sedikit memberikan ruang untuk Haykal memeriksa Nisha.
Gerakan tangan Haykal sangat cepat, dalam beberapa saat ia langsung memasangkan sebuah infus pada punggung tangan Nisha. Menambahkan tiga suntikan yang berbeda warna dan bentuk melalui saluran infus tersebut, terlihat jika Haykal menghembuskan nafas beratnya.
"Kamu, tolong bantu aku membalik tubuh Nisha." Haykal menunjuk Jihan untuk menolongnya.
Tanpa penolakan dan tidak banyak tanya, Jihan segera menuruti apa yang dikatakan oleh Haykal. Perlahan mereka melakukannya, Haykal menggunakan sebuah gunting untuk merobek sedikit pakaian itu. Terlihat sebuah luka yang begitu menggenaskan, Haykal memejamkan matanya sejenak lalu ia memberikan sinyal dengan menekan sebuah tombol biru pada sebuah benda.
Wajah Heru mendadak dingin dan datar, dengan keadaan seperti itu. Jihan hanya bisa terdiam, ia memandangi Nisha dengan begitu sendu.
...Siapa kamu sebenarnya Cha? Kenapa mereka begitu sangat panik dan khawatir dengan keadaanmu? Kamu berhutang banyak penjelasan padaku Cha....
Dalam waktu sepuluh menit, helikopter itu mendarat pada landasan disebuah gedung yang cukup tinggi. Saat terbukanya pintu disana, terlihat sudah menunggu beberapa orang berpakaian serba putih dan ada seseorang yang sangat membuat Jihan mengkerutkan keningnya .
"Apa yang terjadi?!" Suara itu begitu tegas dan sorot matanya sangat tajam, menyeramkan.
"Cepat! Nanti saja aku jelaskan." Haykal mengabaikan pertanyaan yang dilontarkan oleh pria itu.
Mengutamakan nyawa, Haykal segera membawa Nisha menuju ruang tindakan. Jihan dan Heru berdiri berdekatan di depan ruang tindakan. Namun tidak untuk pria yang masih membuat Jihan penasaran.
"Duduklah." Heru menghampiri pria tersebut.
Pria itu hanya diam memandangi ruang tindakan yang masih tertutup rapat didepannya, ia tidak bergeming sedikitpun dengan apa yang Heru katakan.
"Nisha tidak akan suka melihatmu seperti ini, Ray."
Ya, pria itu adalah Ray. Ia yang mengutus Heru untuk segera menemukan Nisha dan memberitahukan keadaan dimana ia bertemu dengan wanitanya.
"Argh!" Ray menyandarkan punggungnya pada dinding dan meremas rambut kepalanya dengan sangat kuat menggunakan kedua tangannya.
Pria bertubuh kekar itu luruh dan jatuh terhempaskan ke bawah, menundukkan kepalanya dan disertai bahunya yang bergetar. Ray menangis, itulah yang terjadi.
"A a aku yang telah menyebakan nyawanya selalu dalam bahaya, suami seperti apa aku ini, argh!!"
__ADS_1
Tidak ada yang bisa Heru lakukan, ia hanya bisa berdiri disamping Ray yang masih menyalahkan dirinya sebagai penyebab semuanya. Namun mereka melupakan seseorang yang memperhatikan mereka disana, Jihan. Kali ini, jantungnya seakan berhenti saat mendengar kata 'suami' dari mulut Ray.