Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
69.


__ADS_3

Tidak dapat melakukan seperti biasanya, Niki dengan amarahnya kini berada dalam kekuasaan Ray.


"Tidak selamanya dirimu bisa menjadi seperti yang kau inginkan, berubahlah untuk menjadi lebih berguna." Ray menepuk-nepuk satu sisi pipi Niki dengan cukup keras.


"Bre****k! Kau benar-benar bukan manusia, Ray! Lepaskan!" Niki memberontak untuk melepaskan dirinya dari ikatan yang diberikan padanya.


"Sepertinya, kau harus mendapatkan sedikit pelajaran untuk hari ini. Cara yang kamu gunakan sudah tidak bisa membuatku percaya, aku percaya pada mereka semua."


"Dan satu lagi, jangan pernah menyebut istriku dengan mulutmu yang kotor ini. Karena itu tidak akan berpengaruh apapun kepadaku, karena dia adalah sumber kekuatanku dan bukan kelemahanku. Camkan itu baik-baik, Niki."


Krakh!


Krakh!


"Argh!" Erang Niki disaat kedua kakinya mengeluarkan suara patahan.


Merasa sedikit puas dengan aksinya kali ini, Ray berjalan meninggalkan Niki begitu saja. Ia ingin sekali untuk menghabisi nyawa rivalnya itu, akan tetapi mengingat Nisha saat ini sedang mengandung. Maka hal itu ia serahkan kepada Herh dan lainnya, Ray memilih untuk pulang.


Dalam perjalanan pulang ke mansionnya, Ray membuka sebuah rekaman yang dikirimkan oleh Meri dan beberapa orangnya. Rekaman tersebut memperlihatkan seorang wanita yang dengan beraninya melumpuhkan lawannya dengan menggunakan senjata yang tidak pernah ia sentuh sebelumnya, Ray pun tampak heran dengan aksi sang istri.


...Bagaimana kamu bisa seperti itu sayang, heh. Aku kecolongan lagi, dirimu dan baby sudah membuat jantungku hampir berhenti berdetak. Kali ini dirimu tidak akan aku biarkan untuk menyentuhya lagi, itu sangat berbahaya....


Terdapat senyuman kebanggaan tersendiri dari dalam diri seorang Ray kepada istrinya, wanita yang sudah berani menggenggam jiwa dan hatinya sehingga tak tergoyahkan lagi sedikitpun.

__ADS_1


Akan tetapi, yang membuat perasaan Ray menjadi tidak tenang adalah luka yang terdapat pada lengan Nisha. Dimana selama ini dirinya selalu menjaga wanita tersebut agar tidak terluka sedikitpun dan kini luka itu berada pada tubuhnya. Mempercepat laju kecepatan kendaraannya, Ray menginginkan dirinya agar cepat tiba di mansion dan bertemu Nisha.


.


.


Brakh!


Suara pintu mobil tertutup dengan sangat keras, terlihat Ray yang baru saja tiba dan segera berlarian memasuki mansion.


"Sayang! Sayang!" Ray berteriak dengan sangat keras sambil berlarian menaiki tangga.


Para anggota yang berada disana dan juga Henley hanya bisa menatap tuan mereka, kedatangan Ray sudah dapat dipastikan jika ia begitu mengkhawatirkan Nisha.


"Tuan!" Meri yang baru saja akan keluar kamar utama, menjadi kaget karena kemunculan Ray disana.


"No na..."


Syuth!


Tubuh Ray langsung menghilang begitu saja dari pandangan Meri, karena pria itu sudah terlebih dahulu masuk ke dalam kamar.


"Huh, tuan Ray." Meri menghembuskan nafasnya untuk membuang rasa keterkejutannya.

__ADS_1


Membiarkan kedua pasangan itu berada didalam sana, Meri memilih untuk berjaga-jaga di luar kamar.


"Sayang!" Ray menghampiri Nisha yang sedang berbaring dengan keadaan lengan yang sudah tertutupi perban putih.


"Mas Ray? Kamu sudah datang." Nisha berusaha untuk bangkit dari pembaringannya, namun hal itu mendapat penolakan dari Ray.


"Tiduran saja." Ray menggenggam tangan kanan Nisha dan sesekali memberikannya kecupan manis.


Keduanya saling menceritakan kejadian yang mereka alami, setelah puas. Nisha menatap wajah suaminya itu dengan pertanyaan.


"Ada apa mas? Apakah ada yang aneh dariku?"


Tidak ada jawaban yang dikeluarkan Ray, namun keduanya masih saling bertatapan satu sama lainnya. Ray menyadari jika Nisha menyembunyikan sesuatu darinya dan itu telah membuat dirinya menjadi takjub atas semuanya.


"Jangan menggunakan senjata selama masa kehamilan ini sayang, nanti keduanya bisa jadi akan mewarisi keahlianmu itu. Cukup aku saja yang bertugas menjaga kalian." Ray mengusap dan memberikan kecupan pada perut Nisha dan itu mendapatkan respon yang cukup baik dari calon anak mereka.


Dugh!


Dugh!


"Ah, apa itu sayang?" Ray merasa heran dengan apa yang baru saja ia rasakan.


Nisha tersenyum, betapa bahagianya ia melihat wajah Ray yang begitu antusias atas respon yang diberikan oleh kedua calon anaknya.

__ADS_1


"Mereka memberikan respon aktif untuk daddy."


Wajah Ray terlihat sangat kaget bercampur dengan kebahagian yang tiada bandingannya, karena ini adalah pengalaman dan juga kehidupan yang baru saja ia alami.


__ADS_2