Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
46.


__ADS_3

Bermaksud tidak ingin memperpanjang permasalahan yang ada, Nisha terus meminta maaf dan merendahkan dirinya agar hal tersebut bisa terselesaikan.


"Maaf nona, saya akan mengganti kerugian anda. Berapakah saya harus menggantinya?"


Merasa terhina dengan ucapan Nisha, yang Seolah-olah dirinya mampu untuk memberikan kerugian yang ada.


"Heh, aku yakin jika orang seperti kalian tidak akan sanggup untuk membayarnya. Sepatuku ini edisi terbatas, hanya ada beberapa di negara ini."


"Beneran? Ah anda sudah berbohong, sepatu seperti itu banyak sekali ditempat penjual barang tiruan. Mau memeras kami ya, dasar orang kaya yang suka sekali menindas orang kecil, lecetnya juga tidak terlihat tapi mau minta ganti rugi yang besar." Jihan benar-benar sudah kehabisan kesabaran menghadapi wanita tersebut.


Plak!


Sebuah tamparan mendarat tepat pada pipi Jihan, terlihat jika begitu kuatnya tamparan tersebut sehingga meninggalkan tanda kemerahan disana. Merasa amarah dalam dirinya sudah sampai ke ubun-ubun, Jihan bermaksud untuk melakukan pembalasan. Namun dengan cepat Nisha menahannya agar tidak semakin membuat kegaduhan.


Menyepakati untuk ganti rugi, Nisha harus membayarkan sejumlah uang untuk wanita tersebut. Mereka pun pulang dengan rasa kesal yang cukup membuat kantong bolong.


"Sudah, tidak perlu di ingat-ingat lagi. Saatnya beristirahat dan menyiapkan diri untuk besok, jangan lupa roti tumpuknya dimakan." Nisha berpisah dengan Jihan dan masuk ke dalam kontrakannya.


aa


.


.


Beraktivitas seperti biasanya, Jihan dan Nisha melanjutkan pekerjaan mereka dengan bersemangat. Disaat semua karyawan pabrik tersebut sedang fokus, terdengar pengumuman untuk segera berhenti dari aktivitas yang ada. Mereka semua di kumpulkan di halaman luar dari pabrik tersebut, dan disinilah awal dari sesuatu ya g tidak pernah diduga.


"Perhatian semuanya! Disini saya akan mengenalkan seseorang yang saat ini merupakan pemilik dari pabrik kita, dia sudah lama menetap di luar negeri dan kini telah kembali. Dia adalah nona Queen !"


Suara tepukan tangan begitu bergemuruh menyambut kedatangan sang pemilik pabrik tempat dimana mereka bekerja, betapa kagetnya saat orang pemilik dari nama Queen itu menaiki tempat untuk ia bicara.


"Sssttthh, Cha. Mampus kita, wanita itu ternyata yang punya pabrik. Gimana kabar nasib kita kalau wanita itu tahu, semoga saja jantung kita tidak ikut copot ini." Jihan menyenggol siku Nisha yang saat itu berdiri disampingnya.

__ADS_1


Sebelum Jihan menyenggol sikunya, Nisha sudah terlebih dahulu memikirkan apa yang sudah terlihat dimatanya. Namun ia mendamaikan pikirannya agar tidak terganggu, perkenalan dengan pemilik pabrik telah selesai dan mereka kembali untuk melanjutkan pekerjaannya.


Dalam satu minggu telah berlalu sejak kedatangan pemilik pabrik, pada hari ini diadakan jamuan atas kesuksesan Queen dalam penjualan produk yang dihasilkan dan keuntungan yang didapatkan oleh pabrik miliknya. Sebenarnya Nisha dan Jihan tidak terlalu mengetahui mengenai produk apa yang mereka hasilkan. Mereka hanya bertugas untuk memisahkan salah satu jenis tumbuhan yang akan di olah kembali, tumbuhan itu sangat khusus ditanam pada lahan milik pabrik. Disana juga mereka merakit berbagai bentuk persenjataan yang dikerjakan oleh karyawan laki-laki, wajar saja jika pemilik dari tempat tersebut menjadi orang yang cukup kaya.


Hampir semua karyawan hadir dalam acara tersebut, berbagai jenis hidangan tersedia dan terlihat sangat menggiurkan untuk dinikmati.


"Hai, boleh ikut bergabung?" Sapaan dari seorang pria yang menghampiri meja dari Jihan dan Nisha.


"Boleh, silahkan saja." Nisha mempersilahkan pria tersebut untuk duduk bersama mereka.


"Kalian dari tim apa? Aku dari tim B, Hanafi." Pria itu memperkenalkan dirinya.


"Jihan, dan Iini Nisha. Makan makan, lumayan perbaikan gizi." Cengir Jihan tanpa memperdulikan yang lainnya.


Sedangkan Nisha, ia hanya berusaha menikmati acara tersebut. Tidak ada percakapan yang lebih dari mereka, puncak acara pun segera dimulai. Akan tetapi, Nisha dan Jihan memilih untuk segera pulang. Mereka berdua tidak terbiasa dengan acara seperti itu, hanya ingin menikmati hidangannya saja.


Bugh!


Berbeda dengan Nisha, tubuhnya seketika menegang saat melihat orang yang kini berhadapan dengan dirinya. Sorot mata itu menandakan jika orang tersebut dalam keadaan yang sangat marah, kedua tangannya mengepal dengan kuat.


"Argh! Kenapa rambutnya ditarik, Hei lepaskan ini sakit!" Rambut Jihan telah ditarik oleh tangan orang tersebut.


"Heh, akhirnya kita bertemu lagi. Tentunya kau masih ingat denganku, iya kan?!" Tarikan itu semakin kuat, membuat Jihan berteriak dengan cukup keras.


"Aargh!"


Hal tersebut membuat Nisha sontak saja membantu temannya, ia menahan tangan Queen yang terus menarik rambut Jihan. Terjadilah keributan yang mengundang perhatian orang lain.


Bugh!


Nisha terhuyung membentur dinding setelah tubuhnya mendapatkan dorongan dari Queen.

__ADS_1


"Kalian berdua, mencari gara-gara sama saya! Satpam! Bawa mereka kedua ke dalam ruangan saya, jangan ada yang berani membantunya. Cepat!" Queen menyeringai dengan sangat puas.


"Lepas, nona saya mohon jangan bawa kami. Kami mohon." Nisha memberontak saat dirinya disertai oleh pihak keamanan, dengan rasa sakit pada tubuhnya akibat terhempas pada dinding.


Keduanya pun dibawa menuju ruang pribadi milik Queen, tidak ada yang bisa membantah ucapan dari sang pemilik pabrik besar itu.


"Selamat bertemu kembali, tentu kalian masih sangat ingat dengan saya. Hahaha." Queen tertawa membuat Jihan dan Nisha mengkerutkan keningnya.


Duduk dengan cukup manis dan elegan dihadapan keduanya, Queen menyeringai akan sesuatu yang akan ia berikan kepada keduanya.


"Kalian masih ingin bekerja disini?" Pertanyaan yang cukup mengejutkan.


Baik Jihan maupun Nisha, mereka berdua saling bertatap-tatapan satu sama lain. Pertanyaan yang cukup menjebak untuk dijawab.


Brakh!


"Kalian punya telinga kan, jawab!"


"I iya nona, kami masih ingin bekerja disini." Dengan begitu terbata-bata, Nisha segera menjawab perkataan Queen.


"Nona? Heh, panggil saya dengan sebutan nyonya. Baiklah, kalau kalian masih ingin bekerja disini. Walaupun saya cukup muak kepada kalian, tapi tidak akan memecah kalian berdua. Tapi ada satu syarat yang harus kalian penuhi."


"Mau tidak mau, kalian harus menerimanya. Jika tidak." Queen mengarahkan tangannya seperti hendak menembak kepada Jihan dan Nisha.


"Tunggu dulu, kami berdua salah apa? Kenapa tiba-tiba dengan seenaknya saja anda memberikan menghukum begitu pada kami berdua, ini tidak adil lah." Jihan yang memprotes perlakuan yang diberikan Queen kepada mereka.


Plak!


"Sepertinya, kalian benar-benar menginginkan hukuman dari saya ya. Baiklah." Tamparan mendarat pada pipi Jihan akibat dari ia menentang seorang Queen.


Maka hari itu adalah hari yang begitu menyeramkan untuk Jihan dan Nisha, mereka harus lembur dengan jam yang berlebihan dalam aturan seorang karyawan.

__ADS_1


__ADS_2