
Dor!
"Fuh, jangan suka membuang waktu dengan sia-sia. Lihat tanda ini, apakah ada di tubuh mereka? Dengan melihatnya saja, kita sudah mendapatkan siapa dalang dari semuanya ini." Ternyata Bibby terlebih dahulu melepaskan tembakan yang tepat mengenai kepalanya tawanan tersebut.
Benar apa yang dikatakan oleh Bibby, Felix mendapatkan tanda tersebut pada bagian bahu kanan dari tawanan tersebut. Sebuah gambar noda hitam dan pada gambar itu pada bagian tengahnya terdapat titik merah, sudah dipastikan itu adalah musuh mereka dahulu yang selalu ingin menjadi yang utama dalam organisasi dunia bawah. Akan tetapi, semuanya itu tidak akan pernah terwujud.
Dalam pikiran Felix, musuhnya kali ini benar-benar sudah mempunyai nyali yang sangat besar. Jika terdahulunya mereka selalu bersembunyi dan tidak berani menampakkan jati dirinya, tapi tidak untuk saat ini. Lalu ia mengambil ponsel dan menghubungi Ray.
"Bersiaplah, mereka sudah tiba." Pembicaraan singkat, namun semuanya begitu tajam.
.
.
Seakan tidak terjadi apa-apa, Nisha bersama Meri tidak melakukan sesuatu di dalam kamarnya. Akan tetapi mereka tetap dalam keadaan siaga, akan tetapi tidak untuk diluar dari ruangan tersebut
Dor!
Suara tembakan saling bersahutan diantara dua kelompok, tidak ada jeda sama sekali untuk suara-suara tersebut. Bahkan baku hantam tidak dapat dihindarkan, tidak ada yang mau untuk kalah dan mengalah.
Sementara itu, Ray dan Heru fokus untuk mencari celah agar dapat menemukan titik terang dalam hal penyekapan Soraya.
Bugh!
Bugh!
Serangan demi serangan terjadi, satu persatu pihak lawan dapat dikalahkan. Para anggota yang dipimpin oleh Ray mulai dapat menguasai keadaan, ada juga beberapa anggota mereka mengalami cedera yang membuat tubuh mereka tumbang.
"Kali ini, kalian tidak akan mendapatkan kesempatan lagi untuk bernafas." Henley yang memimpin aksi tersebut dengan seringainya, berhasil membuat beberapa pihak musuh sangat kewalahan.
__ADS_1
Melihat banyak sekali tubuh yang bergelimpangan akibat dari penyerangan, mereka terus waspada akan terjadi sesuatu hal yang tidak mereka duga. Dan benar apa yang sudna mereka duga, penyerangan yang terjadi pada mansion dan juga markas mereka ini hanyalah sebuah pengalihan perhatian.
Henley dengan beberapa orang kepercayaannya menelusuri setiap sudut yang ada dan juga memperhatikan situasi serta keadaan saat setelah terjadi aksi penyerangan, menemukan tanda yang sama pada tubuh para pihak lawannya. Tanda yang sudah diberitahukan oleh Felix dan juga Bibby, dengan itu Henley berpikiran akan terjadi hal yang lebih besar dari apa yang terjadi saat ini.
Crash!
"Akh! Sial!" Henley merutuki dirinya sendiri, bahu kanannya terkena sabetan senjata tajam.
Pergerakan yang terjadi sangatlah cepat dan juga membuat pelakunya tidak begitu nyata terlihat.
"Heh, menggunakan bayangan. Baiklah, aku pun sudah merasa pegal menahan semuanya. Dan saatnya, semuanya harus diselesaikan." Henley kembali menyeringai.
Seorang pria berdiri di hadapan Henley, tatapan itu begitu sangat tajam dan seakan-akan menghunuskan senjata tajam pada tubuhnya. Dia adalah Kenzo, orang kepercayaan dalam kelompok yang selalu menyerupai bayangan dalam setiap aksinya, akan tetapi bagi Henley itu bukanlah sesuatu yang harus ia takut.
"Hari ini kau tidak akan lolos lagi, aku sudah terlalu lama menunggu saat ini." Henley membalas tatapan dari Kenzo.
"Heh, terlalu percaya diri." Remeh Kenzo dengan apa yang dikatakan oleh seorang Henley.
Mereka berdua selalu ditemukan dalam situasi yang benar-benar tidak baik, mempunyai dendam tersendiri akibat dari pertarungan yang selalu mereka lakukan.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Perkelahian pun tak dapat dihindari, atas dasar dendam lama. Pertarungan mereka begitu menegangkan, bahkan Henley tidak memberi kesempatan untuk Kenzo menyerangnya.
Keduanya saling memberikan serangan, tubuh mereka terpental satu sama lain. Kekuatan yang mereka punya saat ini tidak bisa diremehkan.
__ADS_1
Menghapus cairan kental berwarna merah dari sudut bibirnya, membuat tubuh Hanley bergetar. Sang lawannya sudah tersenyum melihat Henley seperti itu, bahkan dengan sangat percaya dirinya. Kenzo berjalan mendekati Henley, disaat yang lainnya masih saling menyerang satu sama lain.
Secara brutal, Kenzo menyerang Henley yang sudah tak berdaya. Tidak memberikan sedetik pun untuk Henley bisa bernafas dengan baik, serangan itu kembali menghantam tubuhnya.
Meras puas dengan apa yang sudha ia lihat, Kenzo menghentikan aksinya dan melempar tubuh Henley begitu saja.
"Hahaha, tamatlah kalian semuanya!" Suara itu begitu keras terdengar.
Pihak Henley tidak bisa berbuat apa-apa, melihat tubuh salah satu pemimpin mereka sudah mendarat dengan cukup keras ke bawah. Bukannya menyerah, mereka tetap memberikan perlawanan kepada pihak lawan.
Suara Kenzo yang sangat menyakiti jika dirinya sudah menang, memberikan sedikit celah dari keteledorannya disaat berperang.
Dor!
Dor!
Dua seluncuran peluru melesat dengan sangat cepat menembus kepala orang yang tertawa itu, berdiri dengan tubuh yang dipenuhi dengan beberapa luka dan memar.
"Sudah aku bilang, kau tidak akan lolos lagi." Henley berjalan mendekati tubuh orang yang menjadi rivalnya itu.
"Dan satu lagi, aku tidak suka suaramu yang jelek itu." Menepuk-nepuk pipinya dan berjalan menjauh.
Kenzo tertembak disaat dirinya lengah dan merasa sudah menang atas pertarungannya saat itu, membuat dirinya harus merelakan nyawanya untuk terlepas dari raganya.
Tidak lupa mengintruksikan pada anggota lainnya untuk segera menyelesaikan misi mereka, dan benar saja. Dengan melihat pemimpin mereka berjalan dengan cukup baik dan masih bernafas, mereka semuanya kembali bersemangat dan tidak ada kata lelah untuk menang.
"Semuanya sudah terkendalikan, tuan." Laporan seorang anggota kepada Henley yang sedang mengatur nafasnya.
"Hem, jangan lupa untuk membereskan semuanya. Jangan biarkan tersisa sedikitpun, bila perlu kalian bakar semuanya." Henley berjalan meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1