Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
41.


__ADS_3

Semua rangkaian peristiwa yang cukup menguras seluruh tenaga dan juga pikiran telah terlewati, Ray memilih untuk tetap berada di sisi Nisha. Menatap wajah yang masih terlihat begitu pucat, dengan mata yang masih tertutup.


...Sayang, maaf untuk semuanya ini. Jika saja dari awal kamu tidak terlibat dalam duniaku, kamu tidak akan menjadi seperti ini, sayang. Namun, aku berjanji untuk selalu menjagamu bahkan dengan nyawaku....


Keadan dan situasi kini sudah mulai normal kembali, Ray tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan untuk melakukan pembalasan. Untuk saat ini, ia memilih untuk memberikan dukungan kepada sang istri untuk segera pulih kembali.


"Mas, kamu sudah bangun?" Nisha yang baru saja membuka matanya dari rasa lelapnya.


"Iya sayang, bagaimana keadanmu?"


"Sudah lebih baik, mas tidak kerja?" Nisha yang juga merasa tidak enak jika Ray selalu mengambil pekerjaannya ke rumah.


"Ni, mas kerja kok. Kamu minum dulu, setelah itu sarapan." Ray terlihat sangat memanjakan istrinya.


"Aku mau mandi dulu mas, masih bau keringat." Nisha memperagakan menciu aroma tubuhnya sendiri dan menutup hidungnya, dan hal itu berhasil membuat Ray tersenyum.


"Hahaha, siapa bilang istri mas ini bau? Akan mas beri hukuman orang itu, enak saja mengatakan jika kamu bau. Yang ada kamu itu harum, yang dimana membuatku selalu ingin seperti ini." Ray memeluk tubuh Nisha yang masih berada di atas tempat tidur.


"Mas, geli ah. Aku mau mandi dulu." Nisha berusaha untuk menghindari, ia merasa jika tubuhnya masih bau keringat.


"Bau keringat? Walaupun kamu bau, mas tetap cinta dan hanya kamu yang akan menjadi satu-satunya wanita yang sangat berarti dalam hidup mas ini. Jadi, bolehkah?" Ray menggoda Nisha dengan menggunakan wajahnya.


Bugh!


"Auw... Sayang! Ini sakit."

__ADS_1


Mendapatkan sikap Ray yang tidak mau melepaskan dirinya, Nisha dengan terpaksa menggunakan kakinya sebagai senjata pamungkas untuk melepaskan diri. Menekan perut yang sudah menjadi petak-petak yang bersekat menggunakan kakinya, yang pada akhirnya Ray terjatuh ke lantai dengan posisi bagian bokong yang terhempaskan.


"Aduh mas, ma maaf." Tidak ingin berlama-lama berada disana, Nisha memilih untuk kabur dan masuk ke dalam kamar mandi.


Klek!


Tok tok tok!


"Sayang, buka pintunya. Kamu harus bertanggung jawab, bokongku sakit sayang." Ray merengek seperti anak kecil, ia mengejar Nisha yang masuk ke dalam kamar mandi dan berharap bisa berduaan disana.


Namun sangat disayangkan, Nisha terlebih dahulu mengunci pintunya dari dalam. Hal itu membuat dirinya bisa bernafas lega, tidak memperdulikan suara Ray yang setengah berteriak menyebut namanya. Nisha melakukan tujuan utamanya untuk membersihkan diri, setelah selesai ia pun keluar dari sana.


Dengan perlahan ia membukanya dan mengintip dari balik pintu yang ia buka, merasa tidak ada orang yang ia maksud. Pintu itu terbuka lebar dan Nisha berjalan dengan leluasa menuju meja riasnya, beruntungnya di dalam kamar mandi sudah ada pakaian ganti miliknya yang biasa ia letakkan.


...Kemana mas Ray? Katanya lagi kerja....


Bagaikan terkena sambaran petir di siang bolong, detak jantung Nisha semakin cepat. Air mata itu lolos dengan sendirinya dan jatuh membasahi wajah yang baru saja segar, berjalan perlahan menjauh dari tempat tersebut. Dengan tertatih, Nisha berusaha untuk tenang.


Berdiam diri di dalam kamar, itulah yang kini Nisha lakukan. Menenangkan hati yang sebelumnya sudah menemukan ketenangan dan kini harus merasa kecewa lagi.


"Sayang, sudah sarapan?" Ray begitu tenang mendekati Nisha yang berada di pinggiran tempat tidur.


"Belum mas, belum lapar." Nisha menjawab sekenanya saja.


"Jangan melupakan sarapanmu sayang, ih iya. Mas akan ke negara seberang hari ini, perusahaan disana sedang mengalami kendala. Mas sendiri yang harus turun tangan untuk menyelesaikannya, kamu tidak apa-apakan kalau mas tinggal? Atau kamu bisa menginap saja bersama nenek." Ray mengucapkan hal tersebut bersamaan dengan dirinya membereskan beberapa pakaian untuk ia bawa.

__ADS_1


"Biar aku saja mas." Menawarkan bantuannya untuk Ray membereskan pakaiannya.


"Tidak sayang, kamu istirahat saja. Ini juga sudah selesai, mas berangkat ya." memberikan beberapa kecupan pada wajah sang istri dan paling utama adalah bagian bibirnya.


"Emm." Ingin rasanya Nisha menolaknya, namun ia tidak mau membuat Ray kecewa pada dirinya.


Beberapa saat berlalu, Ray meninggalkan Nisha begitu saja dengan berjalan cepat keluar dari kamar. Dengan kepergian Ray yang mendadak, membuat nisha seakan-akan hancur.


Melihat dari balik jendela kamarnya, mobil hitam milik Ray telah pergi. Rasa sesak di dalam dada itu semakin membuatnya tidak bisa bernafas.


...Kamu menutupi semuanya dariku mas, kamu memang pantas untuk mendapatkan kebahagian dan tidak mempunyai beban dengan keberadaanku. Terima kasih dengan semuanya mas, hanya orang bo**h sepertiku yang tidak tahu diri untuk selalu bersamamu dan membuat orang lain terlibat dalam semua hal yang aku perbuat....


Hingga ke esok harinya, Ray yang tidak menghubungi Nisha. Semakin memperkuat semua hal yang berada di pikiran Nisha saat itu, mempersiapkan diri akan semuanya. Berpamitan dengan pelayan mansion untuk menginap dirumah sang nenek, yang dimana Soraya setelah Nisha menikah dengan Ray. Ia dibawa oleh Heru untuk tinggal bersamanya, dan hal itu tidak diketahui oleh supir yang saat itu menghantarkan Nisha.


"Terima kasih pak, tidak usah menunggu. Nanti nenek akan membuka pintunya."


"Baik Nona."


Tanpa rasa curiga sedikitpun, supir yang saat itu tidak mengetahui jika rumah tersebut sudah lama tidak dihuni. Supir tersebut meninggalkan Nisha dan kembali ke mansion.


Merasa situasi telah aman, Nisha melihat sejenak pada rumah sederhana yang menjadi tempat ia tumbuh besar.


"Maafkan Nisha nek, Nisha sudah tidak jujur dengan kalian. Nisha butuh waktu untuk semuanya ini." Nisha berguman dan menenteskan air mata, lalu ia beranjak dari sana dan menuju suatu tempat yang sudah ia tentukan sebelumnya.


Sebelum pergi dan mengawali semuanya dari awal, Nisha menjual ponsel dan juga beberapa perhiasan yang ia punya. Membuat buku tabungan baru dengan menggunakan data yang berbeda, yang sebelumnya sudah ia buat dengan bantuan dari sahabatnya Devi. Melepaskan semuanya yang bisa membuat jejak mengenai dirinya, lalu ia memghembuskam nafasnya yang berat.

__ADS_1


Meninggalkan tempat tersebut dengan cepat, ia tidak ingin membuat orang lain curiga. Biasanya Heru akan bersamanya, namun tidak kali ini. Heru sedang mendapatkan tugas dari Ray untuk menangani anak cabang perusahaan di negara A, dan itu membutuhkan waktu yang cukup lama.


__ADS_2