
Brakh!
"Argh!" Nisha meringis kesakitan saat pecahan gelas itu melukai tangannya.
Semua perhatian teralihkan kepada mereka, Queen sudah berdiri dengan angkuhnya dihadapan Nisha yang masih berlutut dibawah.
"Kamu lagi, ternyata belum cukup hukuman yang sudah saya berikan!"
"Maafkan saya Nyonya." Nisha dengan memelasnya agar Queen tidak memberikannya hukuman lagi, walaupun sebenarnya itu semua bukan kesalahan Nisha.
"Merusak acaraku saja, Singkirkan wanita ini. Aku sudah muak melihatnya melakukan kesalahan terus menerus, cepat!" Berlalu begitu saja setelah memberikan perintah kepada bawahannya untuk membawa Nisha keluar dari acara tersebut.
Dengan langkah gontai, Nisha menuruti semua perkataan Queen padanya. Sedangkan Jihan, ia masih berkutat dengan melayani tamu VIP untuk masalah makanannya dan tidak mengetahui apa yang terjadi pada Nisha.
Kericuhan itu sudah dapat diselesaikan, langkah Nisha berhenti saat ia mendengar suara yang sangat begitu ia kenali. Ia membalikkan tubuhnya dan mencari darimana sumber suara tersebut, orang yang membawa Nisha untuk keluar dari acara itu masih menarik tangannya agar segera pergi. Awalnya Nisha sangat ingin mencari pemilik suara tersebut, namun mengingat kembali semuanya ya g telah menyebabkannya pergi. Ia mengurungkan niatnya.
Sruth!
Tiba-tiba saja orang yang membawa Nisha telah jatuh tidak sadarkan diri saat mereka sudah tiba di perbatasan gedung, Nisha sangat kaget dengan hal tersebut. Tidak mendapati siapa pun disana, membuat Nisha segera berlari menjauh. Akan tetapi, baru saja beberapa langkah ia pergi. Ada suara yang menghentikan langkahnya.
"Nisha!"
Nisha mengkerutkan dahinya dimana disana ia menggunakan nama Icha dan bukan Nisha, bagaimana bisa ada yang mengetahui nama itu. Saat ia membalikkan tubuhnya, dirinya sangat dibuat kaget dengan keberadaan pemilik dari suara yang ingin ia cari sebelumnya.
"Mas Ray!" Gumam Nisha dengan perlahan.
Tatapan keduanya saling bertemu, terlihat jika Ray sangat merindukan wanita yang berada dihadapannya ini. Sudah berapa lama kehilangan belahan jiwanya, hanya karena kesalahpahaman. Ray berjalan dengan perlahan menghampiri dimana Nisha berada, namun tubuh wanita itu dengan keras menolak kehadirannya.
"Stop! Jangan mendekat." Tolak Nisha dengan begitu keras, ia melangkah mundur untuk menjauh dari Ray.
"Kenapa? Jangan pergi lagi sayang, mas mohon. Nisha!" Ray berteriak saat melihat Nisha melangkah menjauh darinya.
"Pergilah, jangan mengikutiku." Nisha terus melangkahkan kakinya, akan tetapi langkah itu terhentikan saat mendapati ada tiga orang pria berbadan besar menghalangi dirinya.
Dibalik pria tersebut, tiba-tiba saja Queen Queen muncul dari sana. Seperti biasanya, ia menyeringai menatap kepada Nisha.
"Mau kemana kamu, hah?! Hukumanmu belum selesai, jangan harap bisa kabur dariku. Cepat berikan!" Queen mengadahkan tangannya untuk menerima sesuatu dari pengawalnya, dan itu adalah sebuah cambuk.
__ADS_1
Tubuh Nisha seketika kaku, melihat benda tersebut membuat dirinya semakin takut.
Cetash!
"Argh!" Benda tersebut menyentuh punggungnya.
Disaat Queen mengayunkan kembali benda tersebut, namun bukan tubuh Nisha yang terkena sabetan dari cambuk tersebut melainkan tangan kekar Ray yang sudah menahannya agar tidak mengenai tubuh Nisha.
"Ray! Apa yang kamu lakukan disana? Ah, maafkan aku. Kamu tidak apa-apakan?" Queen yang berpura-pura untuk memberikan perhatiannya kepada Ray, agar dapat mendapatkan simpati darinya.
"Jangan bertindak arogan dihadapan orang banyak, itu akan menghilangkan citramu sebagai pemimpin disini. Biarkan wanita ini pergi." Ray melepaskan tali cambuk itu dan melangkah pergi begitu saja tanpa melihat Nisha.
"Ray tunggu, Ray!" Melihat Ray pergi, Queen juga mengejarnya dan melupakan Nisha disana.
Menatap kepergian orang yang begitu ia hindari, disaat telah bertatap muka. Orang itu menghindarinya begitu saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, begitu banyak pertanyaan tentang apa yang terjadi.
...Ada apa ini? Aku Seolah-olah tidak mengenal dan melihatku mas, sebelumnya kamu mengejar dan memanggil namaku. Apa maksud dari semuanya ini, membuatku semakin pusing saja. Jangan-jangan, mas Ray ada hubungan khusus dengan wanita itu. Atau, Jangan-jangan wanita yang ada di ponsel mas Ray saat itu adalah orang yang sama? Aih, otakku sudah tercemar oleh ulahmu mas....
Menahan rasa sakit pada punggungnya, Nisha segera kembali ke kontarakannya untuk menghindari hukuman apa lagi yang akan ia terima. Didalam kontrakannya, Nisha mulai memeriksa keadaan punggungnya, dari pantesan cermin yang ia gunakan. Ada tanda goresan yang cukup panjang dan memerah kebiru-biruan, menyentuhnya sedikit saja sudah terasa sangat menyakitkan. Mengistirahatkan tubuh yang terlalu lelah, tanpa menunggu lama. Nisha sudah terpejam dan mengakhiri cerita hidupnya untuk saat itu, sedangkan Jihan yang baru saja selesai dengan pekerjaannya. Pulang tanpa Nisha, ia pun mengikuti apa yang telah Nisha lakukan, yaitu tidur.
Ke esokan paginya...
Tok tok tok...
Klek!
"Cari siapa? Tidak lihat ya ini masih gelap dan sudah mengganggu orang." Ketus Jihan kepada orang tersebut.
"Saya Heru, bisa anda katakan dimana kontrakan Nisha?"
"Nisha? Disini tidak ada yang namanya Nisha, dasar. Sudah pergi sana." Menggerakkan tangannya seakan mengusir Heru.
"Tunggu." Heru menahan pintu itu dengan tangannya agar tidak tertutup.
Mengambil ponsel dari saku jas yang ia kenakan, Heru memperlihatkan sebuah foto dari ponsel miliknya.
"Apa kamu kenal dengan wanita di foto ini?"
__ADS_1
Melihat dengan cukup dekat, walaupun sebenarnya Jihan sangat malas untuk menjawab dan melihat foto tersebut.
"Icha? Kamu kenal dengan Icha?" Kaget Jihan yang merasa ada sesuatu terjadi.
"Icha? Namanya adalah Nisha, bukan Icha. Tapi, ya sudahlah. Kamu tahu dia tinggal dimana?" Heru menyampingkan pertanyaan yang akan cukup menguras pikirannya.
"Memangnya kaki siapa? Ogah banget kasih tahu, atau kalian ini adalah penjahat yang mau menulis orang?" Dengan memasang wajah cemberuthya, Jihan mengintrogasi Heru.
Krek krek!
"Katakan saja, tidak usah banyak bicara. Cerewet sekali!" Heru dengan terpaksa menolong senjata yang ia bawa pada kepala Jihan.
Degh!
...Waduh, pistol. Aku masih mau hidup, Cha. Ni orang siapa, kok nyariin kamu kayak gini....
"Ba baik, ikuti saya." Terpaksa, itulah yang Jihan alami saat ini.
Mereka berjalan menuju sebuah kontrakan yang bersebelahan dengan kontrakan Jihan.
Tok tok tok...
"Cha, Icha! " Jihan mengetik pintu kontrakan Nisha, namun orang yang mereka cari tidak merespon.
"Jangan bilang kalau kamu berbohong, nona. Senjataku tidak akan bisa tertahan untuk tidak mengeluarkan pelurunya." Gertak Heru yang semakin geram dengan Jihan.
"Enak saja bilang saya bohong, kalau tidak percaya. Dobrak saja pintunya, dasar pria resek. " Jihan mencibir Heru.
Benar apa yang dikatakan oleh Jihan, Heru sebenarnya ingin melihat dan memastikan keadaan Nisha setelah mendengar cerita dari Ray. Dan ia bermaksud untuk mengukur waktu lagi untuk bertemu dengan adiknya tersebut.
🌺🌺🌺 Perkenalan karakter🌺🌺🌺
Nisha
Ray Tamoez
__ADS_1
Mohon maaf jika visual karakternya tidak sesuai dengan bayangan para pembaca, bisa diganti dan dibayangkan sendiri ya. Ini hanya halu outhor saja☺.