
Mendapati rencananya yang kembali gagal, tidak dapat menutupi kemarahan dari seorang Niki Maxxam. Kelompok yang ia pimpin selama ini, selalu berhasil dalam setiap rencana. Namun tidak disaat mereka dihadapi dengan seorang Ray Tamoez beserta orang-orangnya, hal itu akan selalu terjadi secara berulang.
"Heh, kelompok bayangan seperti ini saja sangat sulit untuk menembus benteng pertahanannya. Kau memang selalu unggul dariku, Ray." Niki merasa gagal sebagai seorang pemimpin dari sebuah kelompok dunia bawah.
Memiliki jejak mengenai perjalanan seorang Ray dan dirinya yang dulunya adalah teman satu perjuangan, terpisahkan oleh keinginannya yang cukup kuat untuk menang dan tak terkalahakan dari siapapun. Mendirikan sebuah kelompok di dunia bawah dengan berpendidikan sebuah dendam, tidak akan pernah puas jika keinginannya tidak terkabulkan. Menggunakan semua cara termasuk yang kotor untuk mencapai sebuah kemenangan, sudah cukup membuat dirinya seperti di atas awan.
Hal itu tidak berlangsung lama, ketika Ray dengan mudahnya membalik keadaan.
"Tuan, kenapa anda tidak menggunakan titik kelemahannya saat ini. Hal itu akan sangat berguna bagi kita dalam meraih kemenangan." Kenzo dengan wajah dinginnya menyampaikan kekuatan terakhir yang mereka miliki untuk menakhlukan musuhnya.
"Itu terdengar begitu lebih baik, tapi tidak untuk saat ini. Orang itu bukanlah seorang pemimpin biasa, bahkan seorang leader terkejam pun akan terkalahkan oleh seorang Ray. Huh, sebaiknya kita harus menyusun rencana yang cukup matang." Niki menekan keningnya agar kepalanya merasa ringan.
"Baik tuan." Memahami maksud dari perkataan tuannya, Kenzo menarik dirinya untuk mulai menyusun rencana mereka.
.
.
Merasa bosan dengan menantikan kehadiran nenek dan Jihan, membuat Nisha berinisiatif untuk berjalan mengelilingi mansion besar tersebut. Walaupun berada dalam hunian mewah ini, Nisha belum sempat untuk melihat sekitarnya. Matanya begitu kagum saat melihat beberapa pemandangan yang sebelumnya belum ia temukan sebelumnya.
Guk!
Suara dari hewan yang bisa dikatakan buas itu menggonggong dengan cukup keras, seakan-akan sedang menyambut seseorang yang ia kenali. Ada rasa takut sebenarnya yang Nisha rasakan saat melihat hewan itu, akan tetapi suara pak Muh membuat Nisha menjadi kaget.
"Dia ingin anda mengelus kepalanya, nona."
"Aaa, emm. A aku takut pak Muh. "
"Dia hewan peliharaan tuan, sepertinya dia benar-benar percaya pada anda."
"Maksudnya? Bukannya hewan buas tidak mau disentuh dan sangat tidak suka dengan orang asing." Benar apa yang dikatakan Nisha, kebanyakan hewan buas akan begitu sensitif saat berhadapan dengan orang lain selain pemiliknya.
Tanpa berbicara, pak Muh mempersilahkam Nisha untuk mengikutinya. Walaupun tampak ragu, Nisha berjalan perlahan mendekati hewan tersebut. Selepas tali yang membatasinya dari lingkungan luar terlepas, dengan cepat hewan itu berlari berputar disekitar Nisha.
__ADS_1
Guk!
"Eh, dia duduk pak Muh." Nisha melihat hewan itu sudah duduk dihadapannya dna memberikan satu tangannya seperti ingin bersalaman.
Pak Muh hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum kecil, perlahan namun pasti. Mencoba menerima tangan dari hewan itu, entah keberanian darimana yang Nisha punya sehingga keduanya seperti sudah saling mengenal.
"Ter terima kasih atas sambutannya." Nisha tersenyum kepada hewan itu yang dibalas dengan suara gonggonggan lagi.
Guk!
Hewan bertubuh besar itu, benar-benar membuat Nisha merinding dan kagum.
"Namanya siapa pak Muh? Dia cukup membuatku jantungan."
"Dia sangat setia pada tuan, dirawat dari usia dua bulan untuk usia hewan. Sampai saat ini, dengan sepenuhnya ia memberikan kehidupannya untuk selalu bersama tuan dan menjadi pengawal setianya. Dia belum mempunyai nama, nona."
"Hah, memangnya sudah berapa lama mas Ray merawatnya?" Nisha kaget saat mengetahui hewan itu tidak mempunyai nama sama sekali.
"Apa?! Sepuluh tahun tapi tidak memberikannya nama sama sekali pak Muh?"
"Benar nona."
Menatap hewan tersebut dengan penuh tanda tanya, dalam waktu selama itu tapi tidak memberikannya nama atau sekadar panggilan saja. Kembali lagi pikiran Nisha dipenuhi dengan keinginan untuk mengetahui suaminya sepenuhnya, itu semua butuh waktu dan proses yang cukup memakan tenaga.
"Bagaimana kalau dia, emm Wiley. Ya, Wiley!" Entah bagaimana nama itu terlintas dalam pikiran Nisha.
"Nama yang bagus nona. Lihatlah, dia sepertinya sangat senang dengan nama yang anda berikan."
Memang terlihat hewan dengan jenis doberman itu begitu riang berlarian kesana kemari setelah Nisha memberikannya nama, namun situasi itu berubah saat Wiley berhenti dan menatap Nisha dengan mata yang begitu tajam. Seketika itu juga pak Muh mengerti akan arti dari tatapan sang pemburu, ia segera meminta Nisha untuk segera menjauh dari tempat tersebut.
"Nona, sebaiknya anda kembali ke dalam." Suara pak Muh begitu serius dan Nisha tidak ingin membantahnya.
Namun semuanya itu sudah terlambat, tiga orang dengan pakaian hitam seperti ninja masuk ke dalam wilayah mansion.
__ADS_1
Tangan pak Muh menekan sebuah tombol kecil pada jam tangannya, pada waktu yang bersamaan. Para anggota mereka sudah mengepung orang tersebut, beberapa pintu utama telah ditutup untuk menghindari kaburnya penyusup tersebut.
"Siapa kalian?!" Suara Heru bergema diantara para anggota mereka, ia berjalan mendekati Nisha dan mempromosikannya dibelakang tubuhnya.
"Kak Heru!" Suara Nisha bergetar.
"Kamu tidak apa-apa? Sebaiknya masuk ke dalam, pak Muh!" Heru menegaskan ucapannya.
Menganggukkan kepala dan membawa Nisha segera dari sana, tanpa diketahui. Seseorang dari ketiga penyusup itu akan meniupkan sebuah senjata kecil dari mulutnya yang ditujukan kepada Nisha, gerakan itu sangat halus, sehingga orang lain tidak akan menyadarinya.
Ggggrrhhh!
Wiley menyerang orang tersebut tanpa diketahui, hal itu membuat Heru menyadari sesuatu yang sangat berbahaya. Mereka pun bergerak menyerang para penyusup, senjata yang mereka tiupkan itu belum sempat terlepas dari mulut sang penyusup dan meledak seketika.
Duar!!
Tubuh Wiley terpental cukup keras, penyusup tersebut tiba-tiba saja menghilang.
Nisha yang tidak menyadari hal itu, kini sudha berada di dalam mansion bersama dengan Clara.
"Tenang nona, semuanya akan baik-baik saja." Clara mengusap pundak Nisha perlahan, agar wanita itu tidak ketakutan lagi.
"I i ya, tapi." Suara Nisha terhenti saat mendengar suara pintu terbuka dengan kasar dan menimbulkan kegaduhan.
Brakh!!
"Sayang!" Ray segera menghampiri istrinya yang terlihat sangat ketakutan.
"Ma mas Ray!" Nisha memeluk tubuh suaminya dengan sangat kuat.
"Jangan takut, mas disini." Ray mengusap punggung dan kepala Nisha.
Tubuh istrinya sangat bergetar, inilah yang Ray takutkan. Secara tidak langsung, ia sudah melibatkan istirnya untuk masuk ke dalam dunia yang ia geluti. Banyak sekali pada kelompok dunia bawah yang mengincar posisi Ray saat ini, sebagai leader yang ditakuti dan disegani oleh seluruh organisasi tersebut. Saat ini, para pengincar tersebut telah mengetahui titik kelemahan dari seorang Ray. Yaitu, Nisha.
__ADS_1