
Keadaan diluar mansion sudah terkendalikan dan aman, akan tetapi semuanya itu tidak bisa membuat semua bisa bernafas dengan lega. Karena tujuan dari penyerangan itu adalah Ray, untuk mencari celah ataupun kelemahan dari sang leader itu begitu sulit. Dan kini, mereka mengetahuinya dan menjadikannya sebagai hal yang utama untuk didapatkan atau mereka serang.
Berbagai cara dari berbagai kelompok maupun perorangan ingin menjatuhkan Ray, namun semuanya tidak semudah seperti apa yang mereka pikirkan.
Brakh!
Pintu kamar utama mansion didobrak oleh orang yang berpakaian serba hitam dan berhasil membukanya, hal itu membuat kepanikan seluruh anggota Dark Kill. Mereka berpencar untuk segera memberikan pengamanan, karena disana kamar tersebut ada orang yang begitu penting dan menjadi sumber keselamatan untuk nyawa mereka semuanya.
Penyamaran penyusup telah mengalihkan semuanya, berharap tidak akan terjadi sesuatu pada nona mereka.
"Sial, dimana wanita itu?" Ujar salah satu diantara penyusup yang berhasil masuk ke dalam kamar utama.
"Sepertinya kita sudah ditipu! Cepat, kita tidak bisa berlama-lama disini!"
"Benar."
Saat akan bergerak untuk keluar dari ruangan itu, salah satu diantara sepuluh orang disana menyentuh hiasan yang berada pada dinding. Terbukalah sebuah pintu rahasia disana, mereka menyadari akan sesuatu dan bergegas bergerak. Tidak ingin membuang waktu lebih lama, karena tujuan mereka sudah di depan mata.
Sementara itu, didalam ruangan yang tidak terlalu besar. Nisha dan Meri sedang mengatur siasat.
"Serahkan diri kalian!" Teriakan yang secara tiba-tiba berada didalam ruangan tersebut terdengar cukup mengerikan.
Kedua wanita itu saling beradu pandangan satu sama lain, Meri segera melakukan apa yang sudah menjadi tugasnya. Melindungi tuannya sebagaimana ia memberikan jaminan nyawanya sendiri, walaupun terlahir sebagai wanita. Akan tetapi, kekuatan yang Meri miliki tidak jauh berbeda dengan anggota lainnya. Karena ia merupakan lulusan terbaik dari tempat yang telah berhasil mendidiknya, satu senjata rahasianya yang selalu ada dimana pun ia berada.
__ADS_1
Bugh!
Bugh!
"Wanita s**lan!" Meri berhasil menghantamkan pukulan-pukulan terbaik yang ia miliki.
Pusat perhatian mereka bukanlah pada Meri, melainkan wanita dengan perut yang sedikit membesar pada sudut ruangan tersebut.
Seluruh keahlian yang dimiliki oleh sang bodyguard terlihat, hampir semua orang yang menyusup masuk dapat dikalahkan. Setiap kelebihan pasti ada saja kekurangannya, kewaspadaan yang super ketat akan ada lengahnya. Demikianlah terjadi, disaat Meri sedang menghalau orang-orang penyusup tersebut. Tanpa disadari, ada dua orang yang lepas dari pantauan sang bodyguard wanita tersebut.
Crash!
"Argh!" Teriakan Nisha membuyarkan konsentrasi Meri.
Salah satu dari kedua orang tersebut berhasil melukai lengan Nisha, mereka akan membawa Nisha dengan menggunakan senjata tajam sebagai alat untuk mengancam. Akan tetapi, Nisha bergerak refleks untuk menghindar dari senjata itu. Kemalangan pun tidak bisa dihindari lagi, dan membuat luka yang cukup besar pada lengan putih itu dan mengeluarkan darah cukup banyak.
Tanpa ampun, Meri melepaskan katana dari balik pakaian yang ia gunakan. Dalam hitungan detik, sebagian dari penyusup tersebut tewas ditangan Meri.
"Nona tidak apa-apa?" Wajah panik Meri saat menghampiri Nisha.
"Tidak apa-apa, mungkin nanti akan jadi masalah." Nisha sudah bisa menerka apa yang akan terjadi setelah Ray melihat dirinya terluka seperti ini, kali ini ia hanya bisa tersenyum garing kepada Meri.
Trang!
__ADS_1
Katana itu menghalau sebuah senjata yang akan menghampiri kedua wanita tersebut, tatapan tajam Meri berikan sebagai tanda jika dia tidak akan memberi ampun bagi mereka.
Memberikan arahan kepada Nisha untuk memundurkan dirinya agar sedikit menjauh dari posisinua saat ini, setelah memastikan keadaan Nisha aman. Meri memulai aksinya, menghadapi para penyusup yang jumlahnya masih terbilang kecil baginya. Hanya karena Meri adalah seorang wanita, bukan alasan untuknya menjadi lemah. Semuanya itu karena keadaan dan juga kehidupan yang harus menuntutnya menjadi kuat, maka dari itu kini ia menjadi dirinya saat ini.
Sruth!!
Sruth!
Menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, kini semuanya sudah mereka lewati. Tubuh para penyusup itu semuanya tergeletak begitu saja di lantai dengan darah yang mengalir dari tubuh mereka, mereka tewas.
Dor!
Suara tembakan itu mengagetkan Meri, bagaimana tidak kaget. Ia menggerakkan kedua bola matanya menuju sumbernya, lalu ia hanya bisa tersenyum tipis menatap pelakunya.
"Sorry, anak-anakku sepertinya tidak menyukai mommynya ikut berperang." Ya, pelaku penembakan itu adalah Nisha.
Sesaat setelah Ray tidak bersama dirinya, secara diam-diam Nisha merayu Meri untuk mengajarinya beberapa hal agar bisa menjaga dirinya sendiri. Walaupun tidak bisa secara instan dan membutuhkan waktu untuk itu semuanya, yang pada akhirnya Meri dengan terpaksa memberikan beberapa latihan kecil kepada Nisha tanpa sepengetahuan yang lain terkecuali Wiley.
"Hah, terima kasih nona. Hasilnya tidak terlalu buruk." Meri bernafas lega.
"Ya, memang tidak buruk. Tetapi, anak-anakku rupanya tidak mau ketinggalan Mer. Mereka juga ikut berperang didalam sana, argh!" Nisha meringgis menahan perutnya, karena si kembar sedang aktif didalam perutnya.
"Nona! Sebaiknya kita mencari tempat yang aman."
__ADS_1
"Hem."
Meri memapah tubuh Nisha dengan perlahan, ia segera menghubungi Henley agar dapat membantu mereka.