Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
Draft


__ADS_3

Keadaan mansion menjadi ramai, Heru sedang mengamankan Vansh yang terus mengamuk untuk dilepaskan.


"Jangan pernah kau menganggu Nisha lagi, apalagi sampai menyentuhnya."


Bugh!


Bugh!


Heru dengan leluasa melampiaskan semua kemarahannya kepada Vansh, ia mengetahui jika pria itu sudah berulang kali mencoba mendapatkan Nisha dengan berbagai cara. Namun kali ini, usahanya sudah sangat keterlaluan. Mempertaruhkan nyawa orang lain hanya untuk kepentingan yang dipaksakan, apalagi orang yang ia inginkan saat ini sudah bahagia bersama orang lain.


Keadaan Vansh bisa dikatakan sangat tragis, banyak terdapat luka pada tubuhnya mengeluarkan cairan berwarna merah dan berbau amis. Tidak ada rasa penyesalan sama sekali dari wajahnya, membuat Heru semakin naik pita saja.


"Dasar psycopat g**a!"


Krak!


"Argh! Nisha!" Vansh berteriak ketika Heru dengan mudahnya mematahkan kedua kakinya hanya dengan satu kali hentakan dari kakinya.

__ADS_1


"Mulutmu ini sepertinya harus diberi pelajaran, jangan pernah menyebut nama Nisha dari mulutmu yang kotor itu!" Tekanan pada suara Heru terdengar sangat menyeramkan.


"Cuh! Kau tidak berhak untuk melarangku, bahkan Nisha sendiri tidak pernah mengatakan hal itu padaku. Jika saja aku menang dalam pertempuran itu, kalian pasti sudah aku lenyapkan." Menatap Heru dengan tatapan tidak benci, Vansh begitu menyesal karena Nisha tidak bisa ia dapatkan.


"Melenyapkan? Seharusnya dari awal, hal utama adalah kau yang harus kami lenyapkan!" Heru mengambil sebuah katana dan mengarahkannya kepada Vansh, tangannya sudah mengayun akan menebaskan benda tersebut pada targetnya.


"Jangan!"


Suara itu menghentikan ayunan tangan Heru, Nisha berjalan bersama Ray yang memegang tangannya. Begitupun pada Vansh, ia mengetahui sang pemilik suara yang baru saja menyelamatkan nyawanya, senyuman itu ia berikan kepada Nisha saat menghampiri dirinya. Akan tetapi tubuh wanita itu berbalik arah, bukannya mendekat kepadanya.


Ray menempatkan Nisha duduk pada tempat yang sudah disediakan oleh para anggotanya, sempat untuk menolak apa yang di inginkan oleh sang istri. Melihat pria yang menjadi tawanan suaminya, berulang kali pria itu membuat nyawa istrinya terancam.


Genggaman tangan Nisha pada Ray semakin kuat, sebenarnya ia tidak ingin melihat ataupun menatap orang yang sudah membuatnya kecewa. Saat ini, ia sudah memiliki kehidupan dan kebahagiannya sendiri. Namun, hati kecilnya tidak ingin menyesal dikemudian hari.


"Nisha, kamu benar-benar sudah berubah. Tidak adakah kedekatan kita dahulu menjadi kenangan indah di hatimu? Aku menunggu dan mencarimu bertahun-tahun, tapi mengapa sekarang kamu melupakannya!" Suara Vansh meninggi dan seketika itu juga ia mendapat serangan dari Heru.


Brakh!

__ADS_1


"Akh!" Spontan Nisha berteriak saat melihat Heru memukulkan sebuah balok kayu berukuran besar kepada Vansh.


Mendapati istrinya semakin ketakutan, Ray menutupinya menggunakan tubuhnya. Mengusap punggung dan juga kepala Nisha, Ray menyetarakan dirinya agar bisa menatap wajah sang istri.


"Jangan takut, apa kamu yakin sayang?" Ray menanyakan kembali apa yang sudah mereka sepakati sebelumnya.


Menatap waha Ray dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya, Nisha menganggukan kepalanya sebagai tanda setuju dengan perkataan Ray kepadanya.


"Mas."


"Hem." Ray mengusap wajah Nisha perlahan.


"Bolehkah aku berbicara padanya sebentar, mas? Aku hanya ingin melegakan mengenai perasaanku selama ini saja." Sebelumnya, Nisha sempat ragu akan pertanyaan yang akan ia katakan. Namun, jika tidak ia lakukan. Maka akan selamanya terpendam.


"Mas temani." Ray tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan.


Menyetujui apa yang dikatakan oleh suaminya, Nisha berjalan mendekati Vansh. Sungguh miris melihat pria itu, namun itu adalah konsekuensi yang harus ia terima atas perbuatannya.

__ADS_1


__ADS_2