Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
9.


__ADS_3

"Aku tidak mengenal maupun mengetahui mengenai diri anda, tuan. Saya juga bukan siapa-siapa anda, to long lepaskan tangan saya."


"Sudah aku ucapkan berkali-kali padamu, kau adalah milikku. Jangan pernah mencoba untuk lari dariku, karena kau akan aku dapatkan dimanapun itu."


Tak!


Sentuhan mendarat pada kening Nisha, sehingga membuatnya meringgis dan mengelus keningnya, bagaimana bisa dirinya mendapatkan sentilan dari pria asing itu.


"Jangan pernah melakukan pekerjaan apapun, karena setiap pekerjaan yang kamu lakukan. Aku akan mengetahuinya, jika kau masih melakukannya. Bersiaplah untuk berada dalam sangkar emasku dua puluh empat jam, paham." Mendaratkan punggung pada sandaran kursi yang ia duduki, membuat Nisha mengambil kesempatan untuk kabur.


"Akh! Biarkan saya lewat, kalian benar-benar membuatku pusing." Nisha berteriak saat ia akan kabur dari ruangan, terhalang oleh para bodyguard yang menjaga pintu.


Tanpa tanggapan apapun yang diberikan, membuat Nisha jatuh duduk bertekuk memeluk kakinya. Isakan tanggis terdengar, membuat Ray menjadi panik dan segera menghampiri Nisha.


" Hei, kenapa? Ada apa baby, kenapa kamu menangis?" Tangan Ray mengusap kepala Nisha dan mencoba melihat wajahnya, namun Nisha masih menahannya.


"Ayolah sayang, ada apa?" Ray menghela nafasnya dengan kasar.


Menunggu beberapa saat, memberikan waktu untuknya melupakan segala yang mengandalkan didalam hati wanitanya.


"Aku mau pulang." Tanpa memperlihatkan wajahnya, Nisha mengucapkan keinginannya.


"Baiklah, Ku akan menghantarkanmu." Ray berdiri sambil menunggu Nisha juga berdiri.


"Aku pulang sendiri, jika anda masih mengikutiku. Akan aku pastikan anda akan mendapatkan diriku dalam keadaan tak bernyawa. " Nisha menekankan kalimat tersebut, bermaksud agar Ray menjauh darinya.


Namun hal itu hanyalah pikiran dari Nisha saja, yang ternyata Ray semakin menyakinkan dirinya.


"Jika itu terjadi, akan kupastikan juga diriku akan menemanimu sayang." Senyuman seringai Ray berikan kepada Nisha yang begitu yakin jika Ray akan melepaskan ya.


Seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ray, Nisha langsung saja berdiri dan menerobos penjagaan dari bodyguard tersebut. Lagi-lagi ia mendapatkan halangan.


"Cukup! Anda terlalu mencampuri kehidupan saya tuan, bahkan saya tidak mengenal anda! Stop, jangan menjadi orang yang membuat saya semakin tertekan. " Nisha mengatakan hal tersebut dengan penuh penegasan, ia menatap Ray dengan mata yang sudah basah.

__ADS_1


Tangan Ray mendekat pada wajah Nisha, ia bermaksud untuk menyapu air yang sudah membasahi wajah wanitanya. Akan tetapi, tangan itu ditepis kuat oleh Nisha.


"Jangan sentuh saya! " Menerobos kembali penjagaan yang sebelumnya menghalanginya, kini tidak terjadi lagi sehingga Nisha bisa pergi begitu saja.


Melihat sisi lain dari wanitanya, membuat Ray semakin gemas. Penolakan yang diberikan oleh Nisha padanya, bukan menjadi penghalang untuk dirinya. Namun ada sesuatu yang membuat dirinya menjadi begitu sakit, melihat dan menyaksikan wanitanya menangis.


Dengan sikap keras kepala ini, bukan membuat diriku menjauh baby. Aku semakin ingin mempercepat kepemilikan sah atas dirimu, tunggu saatnya itu tiba sayang. Untuk saat ini, aku akan menuruti semua keinginanmu ini.


...----------------...


Beberapa hari pun berlalu dengan begitu saja, Nisha melakukan aktivitasnya seperti biasanya. Tidak ada perlakuan istimewa lagi ditempat ia bekerja seperti sebelumnya, karena Ray mengabulkan ucapannya pada waktu itu.


"Maaf tuan, nona. Pembayaran anda tidak bisa dilakukan, kartu kredit ini tidak bisa digunakan." Ucap Nisha yang sedang menghantarkan sebuah kartu kredit kepada pelanggan di salah satu meja.


"Apa kamu bilang, tidak mungkin kartu saya tidak bisa digunakan. Jangan bohong kamu!" Pelangan wanita itu berteriak dengan penuh emosi, tidak percaya dengan apa yang terjadi.


"Benar nona, untuk lebih jelasnya. Anda bisa langsung saja menanyakannya pada kasir kami, permisi."


Brakh!


"Argh!" Teriak Nisha begitu keras.


Kejauhan tersebut, membuat suasana menjadi tegang dan menjadi pusat perhatian semua pengunjung Cafe.


"Nisha! Kamu nggak apa-apa kan?" Satria yang saat itu sedang berada disana, langsung menghampiri dan membantu Nisha.


Dengan menggelengkan kepalanya saja, sebagai tanda ajukan dirinya baik-baik saja. Namun saat Nisha berdiri dengan bantuan dari Satria, pelangan wanita tersebut kembali menyerang. Untuk kali ini, Nisha betul-betul tidak beruntung.


Brugh!


Biar...


Prang...

__ADS_1


Serangan mendadak membuat keduanya sama-sama membentur kaca pembatas disana, tubuh mungil Nisha bersama Satria menabraknya hingga pecah. Hal tersebut membuat geram para pengunjung disana, mereka langsung saja mengamankan pelangan tersebut dan juga temannya.


"Nis, Nisha bangun!" Devi meraih tubuh Nisha yang sudah tidak sadarkan diri.


Betapa kagetnya saat telapak tangan Devi merasa basah saat merangkul kepala Nisha untuk ia raih, noda berwarna merah mengalir dengan cukup banyak dari arah kepala belakangnya.


Sebagai manager dan juga penanggung jawab Cafe tersebut, Erwin segera membawa Nisha dan Satria kerumah sakit. Apalagi dengan keadaan Nisha yang begitu memprihatinkan, untuk situasinya disana sudah dapat di diamankan dan juga sudah ada pihak yang berwenang untuk membantu.


Dirumah sakit, tampak petugas medis disana sedang berusaha memberikan pertolongan dan juga keselamatan bagi pasien mereka. Devi tampak begitu khawatir dengan keadaan sahabatnya itu, berjalan seperti setrikaan yang sedang digunakan untuk menunggu kabar kondisi dari Nisha.


Tak!


Tak!


Tak!


Derap suara langkah kaki yang begitu cepat terdengar dari telinga Devi, namun jantung seakan-akan berhenti mendadak saat melihat siapa yang baru saja tiba disana.


Flashback on...


Ruang rapat dalam keadaan yang cukup tegang, Felix menyerahkan beberapa berkas dokumen untuk diberikan kepada Ray. Berkas tersebut berisikan materi dan juga rincian dari berbagai produk dari perusahaan yang ingin melakukan kontak kerjasama dengan perusahaan Win'R.


Namun disaat para investor sedang menyimak penampilan dari persentase salah satu perusahaan, tiba-tiba saja Felix menghampirinya dan membisikan sesuatu di telinga Ray. Tanpa aba-aba, Ray segera berdiri dan meninggalkan ruang rapat begitu saja. Meninggalkan berbagai pertanyaan dari para kliennya saat itu, dengan tegas Felix menyampaikan sesuatu.


"Pertemuan ditunda, jika ada pihak yang tidak suka. Silahkan mundur dari kesepakatan yang ada, terima kasih. Rapat dibubarkan!"


Felix pun menyusul Ray yang sudah terlebih dahulu meninggalkan ruang rapat, sebelumnya Felix mendapatkan informasi dari orang suruhan mereka yang dipercayai untuk mengawasi Nisha selama. Walaupun Ray berkata akan berhenti mencampuri kehidupannya, namun itu benar-benar tidak ia lakukan.


Dengan laju mobil yang cukup cepat, Ray mengendarai sendiri mobilnya menuju rumah sakit yang diberitahukan oleh Felix sebelumnya. Dengan wajah yang begitu sangat khawatir dan juga menyeramkan, dua sisi yang berbeda terjadi pada Ray.


"Amankan mereka, aku sendiri yang akan bertindak!" Ray berbicara melalui ponselnya dan setelah itu ia lempar begitu saja.


Flashback off...

__ADS_1


__ADS_2