Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
13.


__ADS_3

Selama tiga hari sudah Nisha dirawat dirumah sakit, dengan pengawasan ketat dari Ray yang selalu setia menemaninya. Namun pagi hari ini, Ray harus berangkat ke perusahaan. Menggantikan Devi untuk menjaga Nisha, namun juga pengawasan dari beberapa bodyguard yang ditempatkan Ray.


"Terima kasih dokter, apakah saya hari ini boleh pulang?" Tanya Nisha setelah dokter memeriksa dirinya.


"Tentu saja sudah bisa nona, sebenarnya anda pada hari pertama juga sudah diperbolehkan pulang. Hanya saja, tuan Ray meminta kami untuk memberikan perawatan yang terbaik untuk anda." Dokter tersebut pamit undur diri.


Pluk!


"Hei, kenapa memukulku." Nisha memprotes pukulan yang ia terima dari Devi di pundaknya.


"Is kau ini, kenapa harus cepat-cepat pulang. Disini kan enak, apa-apa saja gratis. Lagian juga, tuan Ray benar-benar suka sama kamu. Lihat saja, dari hal terkecil dari dirimu selalu menjadi perhatiannya." Devi merutuki sikap Nisha yang masih keras kepala.


Jarum infus sudah terlepas, membuat Nisha lebih leluasa untuk bergerak. Melihat sahabatnya itu masih sibuk dengan ocehannya, Nisha merapikan sendiri barang-barang miliknya yang akan dibawa pulang.


"Ya ampun ni anak, bener-bener keras kepala pakek banget. Sini, biar gue aja. Nanti Bisa-bisa kena bom atom dari tuan Ray, mampus gue. Lu duduk manis noh, dikasih hidup enak tapi nggak mau. Nisha Nisha."


Klek!


Pintu terbuka, memperlihatkan sosok seorang pria yang rekaman wajahnya masih tersimpan di kepala Devi.


"Nisha."


Mendengar namanya ada yang menyebutkan, membuat Nisha memfokuskan perhatiannya pada hal tersebut. Begitu pun pada Devi, ia merasa mengenali suara tersebut.


"Kak Vansh!"


"Tuan Vansh!"


Senyuman manis terpampang jelas pada wajah Vansh, karena mengenali dirinya.


"Kenapa nggak bilang kalau kamu sakit, kakak pasti akan menjaga kamu disini Nisha." Vansh langsung menghampiri Nisha dan duduk disampingnya, menggenggam tangan mungil dengan sangat perlahan.

__ADS_1


"Ka kak Vansh, to tolong lepaskan tangannya." Nisha yang kaget dengan sikap Vansh yang tiba-tiba saja menyentuh dirinya.


"Kenapa dilepaskan, aku sudah susah payah mencari kamu Nish. Jangan pergi ataupun menjauh lagi, kumohon." Genggaman tangan itu semakin erat, membuat Nisha semakin risih dan tidak nyaman.


Plak!


"Bersikap sopanlah tuan, jangan sembarangan menyentuh orang yang sudah ada pemiliknya." Devi menepis tangan Vansh dengan cukup keras, lalu ia membawa Nisha untuk menjauh.


Dengan cukup kaget, Vansh yang mendengar jika Nisha sudah ada yang memiliki. Ia langsung menatap kedua wanita itu dengan cukup tajam, menghampiri Nisha yang juga kaget dengan sikap yang ditampakkan oleh Vansh kepadanya.


"Nish, apa benar yang dikatakan wanita ini. Kamu sudah mempunyai pasangan? Jawab Nish, percuma saja selama ini kakak memperjuangkan kamu. Tapi balasan kamu seperti ini, katakan jika itu tidak benar Nish. Katakan itu tidak benar!" Vansh membentak Nisha yang sudah begitu bergetar karena ketakutan, buah tangan yang ia bawa berhamburan di atas tempat tidur.


"Hei tuan, jangan seperti ini. Kau menyakiti sahabatku! Keluar, keluar dari sini. Mana si penjaga itu, kenapa tidak masuk." Gerutu Devi, ia segera keluar dari ruangan untuk mencari keberadaan penjaga yang ditugaskan oleh Ray untuk mereka.


Dilain sisi, Vansh masih terus meminta penjelasan pada Nisha. Ia menarik bahunya dengan paksa, sehingga Nisha meronta-ronta melepaskan diri. Devi masuk kembali dengan beberapa pengawal yang dengan cepat memisahkan Vansh, mereka melayangkan beberapa pukulan kepada Vansh, karena dirinya melakukan perlawanan.


"Jangan pernah menyentuhnya, jika kau masih melakukannya. Maka kami tidak akan segan untuk menghukummu tuan."


"Anda sudah membuat keributan dan perbuatan tidak menyenangkan tuan, silahkan untuk keluar dari sini."


"Apa hak kalian menyeruhku pergi, hah! Aku sedang berbicara dengan kekasihku, kalian yang harus pergi dari sini, buka aku! Nisha, ayo ikut denganku."


Bugh!


Salah satu dari pengawal tersebut memberikan kepalan tangannya pada perut Vansh, tubuhnya terdorong mundur akibat dari pukulan tersebut.


"Akh! A a pa yang kalian lakukan." Vansh merasakan perutnya berdenyut dengan sangat kuat.


Para pengawal membuat barisan untuk membatasi Vansh dari Nisha, Devi merasa sangat peduli dengan sahabatnya itu. Melihat tubuh Nisha yang bergetar ketakutan, menutup mukanya dengan telapak tangan. Membuat Devi mengkerutkan keningnya.


"Nish, ada apa?" Membaw tubuh sahabatnya yang bergetar ke dalam dekapannya, Devi merasa begitu miris dengan keadaan Nisha.

__ADS_1


Beberapa pengawal masih berseteru dengan Vansh, walaupun sendirian. Rupanya tenaga yang dimiliki oleh Vansh cukup kuat, dengan keadaan tubuh yang sudah ada beberapa luka namun dirinya masih seperti tidak terjadi apa-apa.


"Nisha!"


Suara berat itu menghentikan semuanya, Ray yang baru saja tiba dengan nafas yang terputus-putus. Melewati saja Vansh yang menatapnya dengan tajam, Ray memeluk tubuh Nisha yang begitu masih bergetar ke dalam pelukanya.


"Baby, ada apa? Sudah, jangan menangis lagi." Dengan perlahan Ray mengelus kepala dan bahu Nisha.


"Bawa dia keluar dari sini, cepat!" Bentak Ray dan juga sebagai perintah untuk pengawal tersebut.


Mereka pun segera melaksanakannya, Vansh masih memberontak dengan mengerahkan segala tenaga yang ia punya. Membutuhkan beberapa orang untuk bisa mengeluarkan Vansh darisana.


"Sudah sayang, dia sudah pergi. Jangan menangis lagi." Namun Ray tampak mengkerutkan kenignnya, merasakan ada sesuatu yang berbeda dari Nisha.


Sorot mata Ray menatap Devi untuk mencari penjelasan atas apa yang terjadi pada Nisha, namun Devi menggerakkan bahunya sebagai tanda tidak tahu. Ray menarik tubuh Nisha dari dirinya.


"Sayang, ceritakan. Apa yang membuatmu tidak nyaman seperti ini? Jangan takut, ada aku disini. " Ray menahan wajah Nisha agar bisa menatapnya.


Butuh beberapa waktu untuk meredakan ketakutan pada Nisha, Devi segera memanggil dokter untuk segera datang. Nisha menjadi tenang setelah dokter menyuntikan obat pemenang kepada dirinya, jika tidak ia akan terus menangis.


"Bagaimana?" Ray meminta penjelasan dari dokter tersebut.


"Tuan, apakah nona pernah mempunyai pengalaman buruk dimasa lalunya?"


"Maksudnya?" Ray kaget dengan hal itu.


"Maksud saya, apakah nona pernah mengalami atau mempunyai pengalaman buruk terhadap sesuatu? Dugaan saya, nona mengalami trauma yang cukup besar. Hal itu yang kini ia alami, tuan."


Suasana menjadi hening seketika, Devi yang mendengar penjelasan dari dokter itu. Pikirannya memutar kembali tentang apa yang pernah diceritakan Nisha padanya, mengetuk-ngetuk kepalanya agar bisa menemukan jawabannya.


"Ya! Aku ingat! Nisha pernah bilang jika orangtuanya kecelakaan saat pulang dari membelikan buah kenyataannya, stowberry. Ya itu, astaga. Kenapa aku sampai melupakannya." Devi menepuk kepalanya yang baru menyadari jika buah tangan dari Vansh terdapat buah tersebut dan berserakan di atas tempat tidur, dimana saat itu Nisha berada disana.

__ADS_1


"Stowberry?!" Ray menaikkan salah satu alis matanya, seakan ia teringat akan sesuatu yang pernah ia alami juga.


__ADS_2