Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
14.


__ADS_3

"Tuan, penjualan barang-barang kita sudah terselesaikan." Heru dengan begitu tegas menyampaikan pencapaian dari kerjanya.


"Bagus, bagaimana dengan persenjataan?" Ray melihat berkas yang berada ditangannya.


"Semuanya aman tuan, hanya saja. Ada sebuah kelompok baru yang dengan sengaja membuat orang dengan bisnis kita, mereka mencuri bahkan membocorkan informasi persenjataan kita dengan pihak tertentu."


Brakh!!


Sebuah meja terpental oleh tendangan dari kaki Ray, dalam posisi duduk ia bisa membuat meja tersebut hancur berantakan dengan tendangan dari salah satu kakinya. Heru tersentak melihat kehancuran meja yang sudah tak berbentuk dihadapannya, namun itu bukan pertama kalinya ia melihatnya.


"Cari tahu semuanya, jika perlu hancurkan mereka tanpa ada sisa." Ray beranjak dari tempatnya dan pergi begitu saja.


Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Heru hanya menyaksikan kepergian tuannya yang tidak seperti biasanya.


"Tuan mau kemana ya, tidak biasanya langsung pergi." Keheranan Heru sangat beralasan.


Perubahan sikap Ray membuat para anggotanya menjadi bertanya-tanya, namun semuanya itu mempunyai alasan yang cukup berarti bagi tuannya. Mobil yang dikenakan oleh Ray sudah berhenti pada salah satu rumah yang cukup sederhana, yaitu rumah nenek Soraya.


Matanya tertuju pada bangunan kecil didepannya, lebih tepatnya adalah bangunan warung. Ada beberapa orang yang sedang berada disana sedang melakukan transaksi pembelian, Ray masih mengamatinya dari kejauhan.


"Eh ada pria tampan, siapa ya?" Salah satu orang yang melihat kedatangan Ray disana.


"Mana, mana." Sahut bergantian dari orang-orang yang berada di warung tersebut.


"Wah, benar-benar tampan. Aku sangat terpesona." Lensi yang saat itu berada disana, ikut-ikutan memuji Orang tersebut yang tak lain adalah Ray.


Keadaan warung menjadi semakin ricuh dengan kehadiran Ray disana, bukan hanya pengunjung warung yang terpesona dengan kehadirannya. Bahkan mengundang lebih banyak lagi tetangga yang lainnya berdatangan, Soraya yang bingung menyuruh Nisha untuk melihat penyebabnya.


"Tuan Ray." Ucap Nisha dengan perlahan, lalu ia berinisiatif untuk segera menutup warungnya dan meminta Soraya untuk pulang kerumah.


"Nek, lebih baik kita tutup saja warungnya. Nenek jangan bertanya dulu alasannya ya, nanti akan Nisha jelasin."

__ADS_1


Dengan sangat cepat Nisha menutup warungnya dan membawa Soraya untuk masuk ke dalam rumah, dimana Ray saat ini sedang dikerubungi oleh para penggemarnya.


"Ada apa Nisha?" Soraya menarik tangan Nisha untuk mendapatkan jawaban.


"Huh, begini nek..." Nisha menjelaskan dari awal ia bertemu dengan Ray dan semua sikap Ray padanya, tidak ada yang ia tutupi dari sang nenek.


"Ya sudah, nenek harap kamu bisa menghadapinya dengan baik. Sekarang, kamu bawa dia masuk. Kasihan, dia pasti sangat tidak enak menjadi pusat perhatian orang banyak, apalagi warga kita terlihat sangat begitu lepas kendali." Soraya merasa kasihan kepada Ray menjadi rebutan para kaum wanita.


"Tapi nek, biarkan saja dia begitu. Biar kapok sekalian." Nisha dengan tidak pedulinya dengan situasi yang sedang dihadapi oleh Ray.


Pukh!


"Aduh nek, kok Nisha yang disentil sih." Memprotes saat sentilan dari sang nenek mengenai keningnya.


"Tanggung jawab, dia kemari karena ingin menemuimu. Jangan jadi anak tidak berperasaan, ayo sana." Sedikit mendorong tubuh Nisha agar segera keluar untuk membantu Ray.


Sedangkan situasi di luar rumah, Ray merasa sudah sangat tidak bisa mengendalikan emosi dengan sentuhan demi sentuhan yang dilakukan oleh para wanita yang menyanjung dan memuji dirinya. Disaat emosi itu sudah siap untuk meledak, kepalan tangan kekar sudah mengeluarkan urat-uratnya.


Tangan mungil menyingkirkan beberapa orang yang menghalanginya dan menarik pria bertubuh kekar itu untuk mengikutinya, membutuhkan tenaga yang cukup besar untuk menariknya.


"Huh, ini manusia apa batu gunung sih. Berat banget, dikasih makan apa ni orang, menyusahkan saja." Gerutu Nisha yang masih menarik tangan Ray dari kerumunan masa para wanita.


Walaupun Nisha berceloteh sangat kecil, namun hal itu masih dapat didengarkan oleh Ray. Ia tersenyum saat mendapatkan tangannya ditarik dan juga di genggam oleh wanita yang sangat ia cintai, dan kini dirinya berada di dalam rumah yang sederhan itu.


Brakh!


Begitu kerasnya Nisha menghempaskan pintu rumahnya, bahkan ia masih menggerutu dengan bibir mungil yang menggemaskan.


"Tidak baik terus mengomel didepan tamu, ambillah air minum untuknya." Soraya menghentikan ocehan yang berasal dari mulut cucunya.


Menghantarkan salah satu kakinya ke lantai, Nisha berjalan menuju dapur untuk menuruti perintah sang nenek.

__ADS_1


"Maaf tuan, anda menjadi tidak nyaman dengan keadaan disini. Mohon dimaklumi saja ya, disini tidak ada orang yang tampan seperti anda. Ucapan cucu saya, jangan dimasukin didalam hati. Dia memang orangnya tegar namun rapuh didalam." Sorayq mempersilahkqn Ray untuk duduk.


"Terima kasih nyonya." Ray mendaratkan bokongnya pada kursi yang sudah terlihat cukup berumur.


Nisha tiba dengan sebuah nampan yang terdapat beberapa gelas berisikan air teh hangat, meletakkan satu persatu dihadapan tamunya dna juga sang nenek. Nisha ikut duduk berdampingan dengan Soraya.


Tok tok tok...


"Nisha, bukain pintanya dong. Kami juga mau kenalan sama tuan tampan, bukajn pintunya Nisha!" Teriak dari salah satu orang diluar sana.


"Iya Nisha, jangan sejarah kamu."


"Tuan tampan, jangan mau sama Nisha. Dia itu wanita yang bekerja dicafe, pasti sudah sering di colek-colek sama pria. Mending sama kita saja, ayo buka pintunya." Lensi dengan suara lantangnya menghina dan memfitnah Nisha.


Masih banyak lagi umpatan-umpatan yang dilontarkan dari para wanita diluar sana kepada Nisha, mereka tidak tahu jika Ray begitu sangat menahan emosi atas ucapan dari mereka semua. Lagi-lagi, emosi itu menjadi redam dan menghilang begitu saja dengan melihat wajah sang wanita pujaan hatinya.


"Huhfh!" Nisha menghela nafasnya agar tidak merasakan sesak dengan ucapan yang dikatakan oleh para tetangganya.


"Tuan sudah mendengar sendiri, bukan. Itu semua ditujukan untuk saya, lebih baik anda tidak lagi mendekati saya. Atau ini semua akan membuat anda malu, kita sangat berbeda tuan. Anda paham dengan ucapan saya kan, jadi saya mohon pergilah dari hidup saya!" Setelah mengucapkan kalimat tersebut dengan penuh penekanan dan berakhir dengan air mata yang sudah mengalir dari kedua sudut mata Nisha.


Berdiri dari duduknya, Nisha membuka pintu rumahnya dengan cepat. Membuat orang-orang yang berada disana terkagetkan, bahkan ada beberapa dari mereka terjatuh. Bibir Nisha bergetar, ia akan membalas setiap ucapan yang mereka tuduhkan kepada dirinya. Namun, saat ia akan mulai bicara.


"Sstth baby, biarkan aku yang berbicara." Tiba-tiba saja Ray sudah merangkul pinggang Nisha dari arah belakang. Hal tersebut terlihat oleh semua orang yang berada disana.


"Hei tuan, anda akan rugi jika bersama wanita Cafe itu." Lensi sudah menjadi provokator dalam kerumunan tersebut.


Bahkan beberapa orang lainnya juga ikut-ikutan menuduh Nisha dengan tuduhan yang tidak pernah mereka saksikan, sedangkan Nisha semakin meneteskan air matanya.


"Jangan menangis baby, lihat dan saksikan saja pertunjukan yang akan aku persiapkan padamu. Berikan aku hadiah setelahnya, oke sayang." Ray menarik tubuh Nisha untuk mundur kebelakang tubuhnya.


Tik!

__ADS_1


Terdengar suara jemari yang baru saja Ray gerakan, tiba-tiba saja kerumunan tersebut sudah ditarik mundur.


__ADS_2