
Sudah beberapa minggu dari kepergian Ray ke negara seberang, sebelumnya ia berjanji akan memberikan kabar kepada Nisha. Akan tetapi, pada kenyataannya tidak seperti itu.
"Kok mas Ray tidak ada kabar ya? Kak Heru, apakah ada kabar dari mas Ray disana?" Nisha menanyakan hal tersebut saat mereka sedang menikmati hidangan makan siang.
"Belum ada Nish, apa tuan Ray tidak memberimu kabar?" Menyesapi secangkir kopi dari gelasnya, Heru mengkerutkan keningnya.
Maaf Nish, kakak harus berbohong padamu. Saat ini tuan Ray sedang melakukan penyerangan terhadap musuhnya, kau belum mengetahui sisi lain dari seorang Ray.
"Tidak ada kak, semoga saja disana tidak terjadi apa-apa." Perasaan Nisha benar-benar khawatir, suaminya tidak ada kabar sedikitpun saat jauh darinya.
Untuk mengalihkan pikirannya yang sedang risau akan keberadaan dan keadaan suaminya, Nisha berniat untuk pergi ke tempat dimana ia kerja dahulu. Melepas rindu bersama sahabatnya, itu yang bisa Nisha harapkan untuk semuanya.
Setibanya ia disana, menunggu hingga jam kerja berakhir baru bisa bebas untuk mengobrol.
"Apa kabar sayang, kangen." Devi langsung memeluk Nisha dengan erat.
"Baik Dev, aku juga kangen sama kalian berdua. Oh ya, bang Satria mana?" Nisha belum melihat keberadaan sahabatnya satu lagi.
"Bang Satria sedang menyelesaikan bagian dapur Nish, kita tunggu disana saja." Devi membawa Nisha menuju sebuah taman yang berada di Cafe tersebut.
Mereka pun lanjut bercerita dan juga melepaskan rindu, biasanya saat bekerja mereka akan selalu menyempatkan diri untuk bisa saling bertukar pikiran ataupun sekadar melepas penat.
"Hei! Sudah lama nungguinnya? Wah, tambah berisi aja tuh pipi lu Nish. Sama siapa kemari?" Satria melirik ke seluruh sudut tempat tersebut, jikalau ada bodyguard yang sedang mencintai.
"Sama kak Heru, tuh di mobil." Nisha menunjuk ke arah mobil yang sedang terparkir.
Devi dan Satria mengangguk perlahan, mereka melanjutkan pembicaraan yang sudah sangat sangat tertunda. Dari balik kaca mobil, Heru melihat senyuman Nisha yang terlihat begitu lepas tanpa ada suatu tekanan. Maka ia membiarkan hal itu, karena jika mereka sudah kembali ke rumah, pasti senyuman itu akan memutar dengan sendirinya.
"Bagaimana kalau kita pergi nonton? Kan sudah lama banget nggak ngumpul kayak gini." Satria mengajukan sarannya untuk bisa menikmati kebersamaan mereka.
"Bagaimana Nish?" Devi memahami sahabatnya itu, karena ia harus meminta izin kepada suaminya terlebih dahulu.
Sebenarnya Nisha sangat ingin mengikuti saran dari kedua sahabatnya itu, namun ia mengingat perkataan suaminya. Jika ingin pergi kemanapun, harus dengan izin suaminya.
"Sepertinya, aku ..."
__ADS_1
"Ikut saja Nish, biar kakak yang bertanggung jawab." Heru sudah berada dibelakang Nisha.
"Kak Heru! Tapi kak, nanti bagaimana dengan mas Ray?" Nisha tidak ingin mengkhianati ucapan dari suaminya.
"Tidak apa-apa, tuan Ray memberikan tanggung jawab dirimu pada kakak. Ayo, kita berangkat sekarang. Jika kalian hanya bengong seperti ini, yang ada hari semakin gelap." Heru mengalihkan pikiran mereka untuk segera pergi dari tempat tersebut.
Ketiganya mengangguk sebagai tanda setuju dengan saran yang Heru berikan, Satria menggunakan motornya sendiri dan para wanita ikut bersama Heru. Bagaimana pun juga, Heru tidak ingin membuat Nisha merasa tertekan dengan situasi yang ada. Mereka menikmati pertemuan saat itu, menghabiskan waktu dengan tersenyum. Hingga waktu menunjukkan hampir tengah malam, mereka menyudahi pertemuannya.
"Kak, terima kasih untuk hari ini."
"Sama-sama, masuklah. Jangan terlalu memikirkan kabar dari mereka, yakinlah tuan disana baik-baik saja." Heru menghantarkan Nisha masuk ke dalam mansion dan meninggalkannya untuk segera beristirahat dikamar tamu.
Kembali memasuki kamar yang dimana ia menghabiskan waktu bersama suaminya, namun kamar itu kini terasa begitu sunyi dan hampa.
Dimana kamu mas? Apa kamu sengaja membuatku seperti ini, kamu memberikan cinta yang kamu bilang jiwamu itu kepadaku. Dengan begini, kamu menghempaskan aku begitu saja setelah mendapatkan apa yang kamu mau mas.
Tanggisan itu terdengar sangat memilukan, merindukan seseorang yang sudah memberikannya manisnya cinta. Namun kini, orang tersebut tidak tahu dimana keberadaannya dan tidak ada kabar sedikitpun darinya. Padahal orang-orangnya begitu banyak berada disekitar Nisha, tapi tidak ada satupun yang memberikannya informasi tentang pria itu.
Kelelahan setelah menangis, mata itu perlahan tertutup mengikuti rasa lelahnya. Tertidur dalam keadaan begitu rapuh, Nisha berusaha tegar. Saat sinar matahari pagi mulai menyapa, tubuh Nisha masih terbaring dan tertutup selimut.
Tok tok tok...
Tok tok tok...
"Nona Nisha."
Tok tok tok...
Tetap saja tidak ada jawaban, pak Muh segera memberitahukan hal tersebut kepada Heru.
"Maaf tuan, nona tidak membuka pintu kamarnya dan tidak menjawab." Pak Muh menghampiri Heru yang sedang menikmati kopi hangatnya.
"Mungkin Nisha berada dikamar mandi pak Muh." Jawab Heru menanggapi perkataan tersebut.
"Saya sudah berulang kali mengetuk dan memanggil nona tuan, apakah lebih baik kita melihatnya ke dalam tuan." Pak Muh merasa khawatir.
__ADS_1
Sejenak berpikir untuk mencerna perkataan tersebut, Heru meletakkan gelas kopinya dengan kasar dan berlari menuju kamar Nisha.
" Nisha! Nisha buka pintunya! Nisha!"
Mengetuk dan juga memanggil Nisha dengan berulang-ulang kali serta berteriak, benar apa yang dikatakan oleh pak Muh. Tidak ada jawaban apapun yng mereka dapatkan, pak Muh datang dengan membawa kunci cadangan kamar dna memberikannya kepada Heru.
Klek!
"Nisha!"
Tubuh wanita mungil itu sudah tergeletak di lantai dan dalam keadaan tidak sadarkan diri, Heru meraih tubuh itu dan membawanya untuk dibandingkan di tempat tidur.
"Hubungi Jackson untuk datang kemari, cepat pak Muh!" Begitu paniknya Heru saat mendapati keadaan Nisha seperti itu.
"Baik tuan." Pak Muh menghubungi dokter pribadi Ray untuk segera datang.
Dua puluh menit dokter itu tiba, ia segera dihantarkan menuju kamar utama. Terlihat disana, Heru yang menatapi seseorang wanita yang tidak sadarkan diri di atas tempat tidur.
"Siapa yang sakit Her? Tidak mungkin manusia Batu itu." Jackson menepuk pundak Heru dan membuatnya kaget.
"Kau, kenapa lama sekali. Cepat periksa dia, sudah begitu lama dia tidak sadar dan badannya terasa begitu dingin." Jelas Heru pada temannya itu.
Penjelasan Heru membuat Jackson juga merasa khawatir, ia segera melakukan tugasnya. Beberapa saat setelahnya, terlihat jika keningnya berkerut.
"Siapa dia?!" Tanya Jackson dengan nada bicara yang cukup berat.
"Ada apa memangnya, bagaimana keadaannya?" Heru yang merasa ada sesuatu di balik kalimat tanya Jackson.
"Siapa dia, jawab?!" Dengan nada begitu tinggi, kali ini Jackson sangat serius.
Ingin rasanya Heru mengetuk kepala pria itu dengan keras, tidak pernah berubah dan tidak ada sopan-sopannya. Menarik nafasnya dengan dalam, ia rasa temannya ini juga harus mengetahui siapa Nisha.
"Dia istri Ray."
"Hah! Istri!"
__ADS_1