Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
47.


__ADS_3

"Bagaimana bisa belum ada sedikit pun informasi yang kalian dapatkan mengenai istriku! Percuma saja aku mempekerjakan kalian semua! Argh!!"


Keadaan Ray saat ini begitu memperhatikan, sejak kepergian Nisha. Hidupnya sangat tidak teratur dan bahkan kini ia sangat berantakan, Felix maupun yang lainnya tidak bisa menahan semua ulah yang dibuat oleh tuannya. Pekerjaan yang menumpuk dan juga bisnis menjadi terbengkalai, jika tidak segera dipulihkan. Maka semuanya akan menghadapi jurang kehancuran.


"Maaf tuan, ada undangan dari nona Queen untuk menghadiri jamuan keberhasilan bisnisnya malam ini." Felix menyampaikan undangan tersebut agar Ray bisa mengalihkan semua kesedihan yang untuk sementara.


"Aku tidak akan datang." Sebuah botol minum beralkohol telah habis ia minum, membuka kembali botol berikutnya dan meminumnya.


"Tapi tuan..."


Prang!


Botol minuman itu telah hancur berantakan setelah Ray melemparnya dengan sangat keras, sorot matanya yang memerah menandakan jika ia sedang dalam keadaan marah.


"Apa aku harus mengulangnya, Felix!!" Suara Bariton itu membuat seluruh telinga yang mendengarnya menjadi merinding.


Pandangan Felix menunduk, namun suasana disana kembali menjadi riuh saat Heru datang dengan membawa sebuah data informasi yang baru ia dapatkan.


"Coba kau lihat ini, Ray. Berhentilah meminum ini semua, atau aku akan mengadukannya kepada Nisha!"


Sebuah berkas dilemparkan Heru kepada Ray dan tepat mendarat di atas pangkuan pria dingin itu, Heru pun menarik nafasnya dengan sangat berat dan mendaratkan tubuhnya untuk melepas rasa lelah pada sofa yang ada.


"Informasi apa? Jika ini tidak penting, maka nyawamu kali ini akan aku lenyapkan." Walaulun dalam keadaan mabuk, Ray masih bisa mengontrol kesadarannya.


Ia mulai membacanya berkas yang dilemparkan oleh Heru kepadanya, tidak ada yang begitu penting disana. Ketika mulut Ray ingin mengumpat dan bersamaan ia membalik berkas tersebut pada halaman terakhir, betapa kagetnya ia melihat sebuah gambar disana.


"Dimana kalian mendapatkannya?!" Ray berdiri dari posisinya secara tiba-tiba sehingga membuat yang lainnya menjadi ikut-ikutan kaget.

__ADS_1


Berkas tersebut dirumah oleh tangan kekar itu dengan sangat kuat, bahkan terlihat dari perubahan mimik wajah Ray yang seperti bersemangat kembali.


"Huh, makanya jangan selalu menolak ajakan ataupun undangan yang diberikan oleh klienmu sendiri. Aku sudah mengirim anggota kita untuk menyelidikinya disana, pantas saja kita tidak bisa menemukannya." Heru menjelaskan tentang temuannya.


"Apa maksudmu?!" Ray tampak geram dengan penjelasan Heru yang tidak pernah tuntas.


"Makanya, kalau lagi galau itu jangan cuma bisanya minum ni isi botol (Prang!). Tempat itu sangat jauh dari perkotaan, bahkan itu sangat jauh dikatakan dari yang namanya desa atau kampung. Ular itu yang menguasai daerah disana, makanya gunakan akalmu."


"Jangan lupa, kita harus menyusun rencana untuk masuk ke dalam sana. Ingat Ray, Queen belum mengetahui wajah istrimu. Jangan sampai kelalaian itu dapat membuat nyawa adikku dalam bahaya, setidaknya kita sudah menemukan keberadaannya."


"Apa maksud dari semua perkataanmu, Heru?" Felix yang masih belum menangkap apa yang dikatakan oleh rekannya itu, serta melihat tatapan kosong dari Ray yang seakan-akan sedang merenung.


"Nisha sudah ditemukan, tapi ia berada dalam kekuasan dari Queen. Menjadi buruh pabrik dari salah satu bisnis wanita ular itu." Heru menghela nafasnya dengan berat.


"Apa kau bilang! Jadi, nona dalam bahaya?!" Felix membulatkan kedua matanya saat mengetahui penjelasan dari Heru.


"Kerahkan semua orang terbaik kita untuk kumpul saat ini juga, jangan lupakan keamanan mansion dan juga nenek." Rya bergegas menyusun rencananya untuk membawa pulang kembali Nisha.


Semua anggota menganggukkan kepalanya, Bibby segera meretas jaringan akses untuk membuat sedikit kejutan dari sistem keamanan pabrik tersebut.


...Sayang, mas akan membawamu kembali....


.


.


Mendapatkan hukuman yang tidak masuk akal, Nisha dan Jihan harus bekerja selama dua hari penuh tanpa istirahat. Dan saat ini mereka berdua harus menjadi tenaga sukarela dalam acara jamuan yang diadakan oleh Queen, tanpa uang lembur ataupun tambahan gaji.

__ADS_1


"Cha, wajah kamu pucat sekali. Sini, biar kita gantian sejenak untuk tidur." Jihan sangat kaget melihat wajah Nisha yang begitu pucat.


"Ti tidak apa-apa, ayo kita selesaikan semuanya. Setelah ini aku akan sangat puas untuk tidur dan mengambil off selama beberapa hari." Nisha tersenyum, hanya itu yang bisa ia lakukan.


"Baiklah, ide kami bagus juga. Rasanya aku ingin segera out saja dari pabrik ini."Jihan selalu menggerutu akan perlakuan bos pabrik ditempat ia bekerja.


Jamuan pesta terlihat sangat mewah, berbagai makanan yang dibuat khusus oleh koki ternama. Membuat keduanya harus menelan salinan dengan kasar, bagaimana tidak. Mereka hanya diberikan makanan hanya satu kali selama masa hukuman, dan pada saat ini perut keduanya sudah sangat memberontak. Menata makanan pada meja yang telah disediakan, mereka pun harus menutup mata dan hidung agar tidak tergoda.


Tuk tuk tuk...


"Perhatian semuanya, acara akan segera kita mulai. Kami harap semuanya bisa tenang, karena pemilik dari pabrik ini akan segera memasuki tempat jamuan." Pembawa acara telah memberitahukan untuk memulai acara tersebut.


Begitu anggunnya seorang wanita cantik berjalan memasuki tempat tersebut, acara telah dimulai. Sambutan demi sambutan telah terlaksana, hingga ada satu acara yang begitu penting dalam rangkaian jamuan itu.


"Mohon perhatiannya sejenak, kita telah kedatangan seorang tamu istimewa untuk malam ini. Mari kita sambut, Ray Tamoez. Seorang pebisnis yang sangat terkenal akan keberhasilannya dalam berbagai usahanya, dan sangat terkenal di seluruh negara. Kami persilahkan untuk tuan Ray, agar dapat memberikan sedikit ucapannya untuk acara ini." Pembawa acara mempersilahkan Ray untuk berbicara.


Dengan begitu gagahnya, Ray berjalan menuju penggeras suara. Ia memberikan ucapannya atas keberhasilan Queen sebagai rekan kerjanya dalam usaha yang didirikan, tidak banyak yang ia ucapkan lalu ia membaur bersama yang lainnya. Disaat yang sama, Nisha yang baru saja akan menghantarkan nampan berisikan minuman untuk para tamu. Berjalan dengan fokus sehingga tidak menyadari keberadaan dari tim Ray yang sudah menyebar, setelah nampan minuman itu kosong. Ia kembali lagi menuju dapur untuk membawa yang baru, namun saat akan keluar dari dapur.


Prangh !!


"Oh, sorry. Aku tidak sengaja." Seorang tamu pria yang berjalan tidak fokus, menabrak Nisha dan menumpahkan semua minuman yang ia bawa.


Tanpa membantu pria itu pergi begitu saja, Nisha menarik nafas panjangnya.


"Hufh, apa lagi ini? Semoga saja tidak akan menambah hukumanku." Membereskan semua pecahan dari gelas yang ia bawa, tiba-tiba saja nampan yang berisikan pecahan kaca itu ditendang.


Brakh!

__ADS_1


"Argh!" Nisha meringis kesakitan saat pecahan gelas itu melukai tangannya.


__ADS_2