
Dengan perlahan Niki berjalan mendekati apa yang membuat dirinya menjadi merasa ada sesuatu yang berbeda, dan semuanya itu membuat dirinya menjadi panik dan marah.
"Argh! Kemana wanita tua itu?!" Niki tidak mendapati Soraya yang ia tempatkan pada suatu ruangan.
Suara teriakan itu membuat kaget dan panik semua anggota mereka, bahkan mereka menjadi sangat cemas karena tawanannya telah hilang. Kemarahan Niki berimbang pada semua orang-orang dari kelompok mereka, diantara mereka pun menjadi samsak atas kemarahan itu.
Bugh!
Bugh!
"Dasar tidak becus kalian, apa saja kerja kalian hah?! Menjaga satu wanita tua saja tidak bisa!" Niki meluapkan semua kemarahannya kepada siapa saja yang berada didekatnya.
Benda-benda disana juga tidak luput dari amukan Niki, bergerak cepat mencari keberadaan dari Soraya yang diyakini masih berada disekitar bangunan tersebut.
Dalam keadaan tidak berdaya, Vansh tersenyum sinis. Ia bersyukur atas kaburnya Soraya dari sana, akan tetapi ia juga merasa kecewa tidak bisa membawa dan berada disisi wanita yang begitu ia cintai dan kagumi dari dulu.
.
.
Di tempat lainnya, Ray dan Heru yang berhasil membawa pergi Soraya tersenyum penuh kemenangan.
"Coba kau tebak, seperti apa wajah mereka saat mengetahui tawanannya menghilang. Hahaha." Heru tertawa dengan sangat keras.
__ADS_1
Plak!
"Kecilkan suaramu, berhasil menyelamatkan nenek bukan berarti kita akan selamat dari tempat ini." Ray memberikan pukulan kecil pada sisi kepala Heru.
Sedari tadi, Ray selalu waspada akan situasi yang merek alami saat ini. Apalagi disisi mereka ada seseorang yang baru saja diselamatkan, dan orang itu sangat berarti bagi istrinya Ray.
"Bersiaplah, hubungi markas dan mansion untuk meningkatkan keamanan." Ray menyadari akan sesuatu yang akan menyerang mereka.
Heru mengangguk dengan cepat dan segera menghubungi semua yang telah dikatakan oleh Ray, Heru mendapatkan kejutan baru dari anggotanya. Namun hal itu tidak ia sampaikan kepada Ray, karena itu akan membuat fokus mereka terpecah dan hilang.
"Semuanya sudah siap, Nenek. Sementara ini, nenek ikut dengan mereka. Nanti setelah semuanya selesai, aku akan kembali. Jaga diri nenek dan jangan mengkhawatirkan apapun, nenek percaya kan?" Heru menatap Soraya dan mengecup punggung tangannya.
"Jaga dirimu baik-baik, kalian berdua pulanglah dalam keadaan seperti ini." Menatap kedua pria dihadapannya secara bergantian, Soraya tidak tahu apa yang telah terjadi. Namun yang ada di dalam pikirannya hanyalah keselamatan kedua pria tersebut.
Membidik para musuhnya saat itu, Ray melepaskan beberapa anak peluru dengan cepat dan menembus organ tubuh mereka sehingga menyebabkan mereka tewas seketika.
"Jangan bermain-main, cepat selesaikan semuanya." Suara Ray meninggi saat melihat Heru yang masih berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa.
"Sorry bos, ayo lanjutkan." Heru melepas senyuman yang tidak enak setelah ditegur oleh Ray.
Pergerakan lawan dapat terbaca dengan baik oleh kedua pria tersebut, hanya berdua saja. Mereka dapat melumpuhkan berpuluh-puluh orang disana, akan tetapi mereka tidak melupakan jika tidak dapat bertahan lebih lama dengan keadaan seperti ini.
Prok!
__ADS_1
Prok!
Prok!
Suara tepuk tangan bergema memenuhi bangunan tersebut, hal itu berhasil mengambil alih perhatian Heru dan juga Ray.
"Wah wah wah, rupanya kita kedatangan tamu yang begitu sangat istimewa." Niki terlebih dahulu mendapati kedua pria tersebut saat sedang mencintai lawannya.
Duduk dengan begitu elegannya, Niki berhadapan dan menyaksikan kedua lawannya sedang memandangi dirinya.
"Selamat datang, Ray Tamoez."
"Suaru kehormatan untukku atas kedatanganmu disini, rupanya kekuatanmu masih sangat besar. Hanya berdua saja, kau bisa mengalahkan anggotaku dalam jumlah yang sangat banyak."
Namun Ray tidak fokus dengan perkataan yang diberikan oleh Niki kepadanya, ia hanya fokus untuk bisa menyelamatkan diri dari sana dan kembali.
Begitu pula dengan Heru, ia juga memfokuskan pusat perhatian mereka untuk keamanan dan juga kewaspadaan terhadap situasi yang ada hingga saat bantuan itu tiba.
"Kenapa, kau sepertinya sangat gelisah Ray. Bukannya kita sudah sangat lama tidak bertemu dan berperang seperti ini, kau tidak ingin menikmati momen ini Ray." Niki memancing emosi Ray.
Begitu malasnya Ray dihadapakan pada situasi seperti ini. Begitu juga dengan Heru, ia lebih memilih untuk bertempur saja dari pada beradu mulut dengan orang yang tidak jelas seperti Niki.
"Bagaimana dengan istrimu yang cantik itu Ray? Hah, aku begitu tertarik padanya. Sepertinya akan sangat baik jika aku memilikinya, bagaimana Ray?" Niki semakin membuat amarah Ray membesar dan saat inilah yang ia tunggu-tunggu.
__ADS_1
Mendapati sang istri menjadi khayalan lawannya, emosi Ray sangat besar dan ingin rasanya ia saat itu juga membinasakan Niki untuk selama-lamanya. Akan tetapi, ia mengingatkan perkataan Nisha untuk dirinya. Menjadikan kelemahan itu sebagai sumber kekuatan yang membangkitkan jiwa seorang leader sesungguhnya.