
"Selamat pagi sayang, mana abang?" Ray menghampiri Fiona yang sudah berada di meja makan untuk sarapan pagi.
"Masih didalam kamar bersama mommy, dad." Jawab gadis manis itu dengan mulut yang dipenuhi oleh roti kesukaannya.
"Masih dikamar? Ada apa?" Kening Ray tampak berkerut mendengar jawaban gadis kecilnya.
"Hem, abang membuat mommy marah dad."
Tidak ingin menambah rasa penasarannya, Ray segera melangkahkan kakinya menuju kamar putranya. Dalam keadaan sudah rapi untuk berangkat ke perusahaan, Ray harus berolahraga pagi lagi setelah berolahraga malam bersama Nisha sebelumnya.
"Mommy tidak akan marah kalau abang bicara jujur, coba ceritakan pada mommy." Nisha duduk disamping Nathan dengan wajah tertunduk.
Menyaksikan Nisha sedang bertanya kepada putranya, Ray memilih untuk berdiam diri berada dibalik pintu yang terbuka sedikit. Baru kali ini ia menyaksikan jika Nisha seperti ini, tidak biasanya wanita itu akan secara langsung menegur dan bertatap muka dengan putranya. Karena putranya itu terlalu dingin dan datar melebihi dirinya sendiri, karena itu Ray tidak mau berdebat bersama putra kecilnya.
"Nathan, lihat mommy. Bisakah untuk jujur nak? Mommy sangat kecewa jika anak-anak mommy menjadi tidak jujur seperti ini." Menggunakan jurus terakhirnya, Nisha menitikkan air matanya.
Menguras senyuman dari balik pintu, Ray benar-benar jatuh hati dengan wanita yang sedang berakting itu. Kegemasannya semakin meningkat, betapa tidak. Karena hanya satu wanita ini, dirinya bisa berdiri seperti sekarang.
__ADS_1
"Mom, ayolah. Jangan menangis, walaupun itu hanya pura-pura." Nathan yang selalu tidak bisa melihat Nisha menitikkan air mata, walaupun ia tahu jika Nisha hanya berpura-pura saja.
"Apa mommy harus menangis terlebih dulu, agar abang bisa menceritakan semua sama mommy?"
"Baiklah mom, abang menyerah. Berhentilah untuk menangis, maafkan abang." Menghela nafasnya yang berat, pertahanan Nathan hancur jika berhadapan dengan Nisha.
Memperbaiki duduknya, Nathan tetap menunduk saat berbicara.
"Uncle Bib memberikannya, abang hanya menggunakannya dengan batasan usia abang Mom. Jika mommy tidak menyukainya, boleh dibuang saja." Ucapnya dengan terpaksa.
Benda berlayar datar itu ia dapatkan dari Bibby, walaupun mereka harus bertukar syarat. Namun Nisha tidak mengetahui apa yang sebenarnya dikerjakan oleh Nathan, yang ia tahu anak tersebut sedang bermain gawe online dari benda tersebut. Menyita waktu istirahat dan juga pikirannya, hal itu yang membuat Nisha menjadi merasa tidak suka.
"Abang tidak tahu mom, maafkan abang." Nathan bersikap sewajarnya.
Menggelengkan kepalanya yang mulai berdenyut, Nisha tidak habis pikir dengan apa yang diberikan oleh orang kepercayaan suaminya itu kepada anaknya yang masih berusia jauh dari mereka. Nisha tidak ingin, dimana usia anak-anaknya yang terbilang masih sangat kecil tapi sudah diberikan dengan hal-hal seperti itu. Ia menginginkan jika anak-anaknya bisa tumbuh bersama usianya, menghabiskan waktu mereka untuk bermain dan belajar tentang lingkungannya, bukan menghabiskan waktu pada benda tersebut.
Entah mengapa denyutan pada kepalanya semakin berasa dan Nisha mencoba memijit bagian keningnya perlahan, berharap rasa sakit itu mereda. Menyerahkan kembali benda berlayar datar itu kepada Nathan, Nisha memberikan nasihat untuk tidak berbohong serta menyerahkan semua keputusannya pada anaknya mau dijadikan apa benda itu.
__ADS_1
"Mommy tidak marah bang, abang pasti sudah bisa memikirkan tentang benda itu. Jika abang merasa ingin memilikinya, maka abang harus bisa memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Ayo kita kebawah, daddy dan adikku pasti sudah menunggu untuk sarapan." Senyuman yang begitu dipaksakan agar tidak melukai perasaan anaknya, Nisha menahan denyutan kuat dikepalanya.
Berjalan berdampingan sang putra keluar dari kamarnya, yang ternyata Ray sudah menunggu mereka didepan pintu kamar tersebut. Mengulas senyuman manis kedua keduanya, menyambut si sulung yang sudah kembali datar. Namun senyuman itu tiba-tiba berubah menjadi kepanikan.
"Sayang! Kenapa?" Ray melewati Nathan begitu saja dan segera menyambut tubuh Nisha yang sudah bertumpu pada dinding disampingnya.
"Ma mas, ti tidak apa-apa kok. Hanya sedikit pusing saja, sudah sarapan?" Nisha berusaha menutupi rasa kekhawatiran Ray padanya.
"Belum, tapi wajahmu sangat pucat sayang. Ayo berbaring." Namun hal itu mendapat penolakan dari Nisha.
"Nggak apa-apa kok mas, ini hanya kurang tidur saja. Nanti akan sembuh sendiri, ayo kita menyusul anak-anaknya. "Membalas senyuman dengan sekuat tenaganya, Nisha menahan tangan Ray yang menggenggam tangannya dengan sangat kuat.
"Tapi tanganmu begitu dingin sayang, apa yang kamu rasakan? Kamu terlihat tidak baik-baik saja saat ini." Kekhawatiran Ray bukan tidak beralasan saat melihat kondisi Nisha seperti ini.
"Benar mas, aku tidak apa-apa. Turun yuk, kasihan anak-anak sudah lama menunggu." Berulang-ulang Nisha menyakinkan Ray untuk dirinya.
Pada akhirnya mereka berkumpul untuk sarapan bersama, Nisha berusaha menutupi denyutan pada kepalanya dengan sekuat tenaganya agar tidak membuat anak-anaknya menjadi khawatir. Selesai dengan sarapan, menghantarkan anak-anaknya dan juga suaminya untuk berangkat sekolah dan bekerja.
__ADS_1
"Beristirahatlah sayang, jika merasa sesuatu langsung hubungi mas." Ada perasaan tidak tega untuk pergi bekerja disaat melihat wajah istrinya yang sudah begitu pucat, namun hal itu terus mendapatkan keyakinan dari sang pemilik tubuh bahwa dirinya baik-baik saja.
Anggukan dan senyuman dari Nisha melepas keberangkatan suami dan anak-anaknya, ia kembali berjalan dengan tertatih menuju kamarnya untuk beristirahat.