Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
105.


__ADS_3

Kepanikkan menerpa mansion utama saat ini, Ray langsung menghampiri Nisha.


"Ssshh, sa sakit mas. Sepertinya aku kan melahirkan." Nisha mencoba untuk mengatur nafasnya yang beriringan dengan rasa sakit.


"Benarkah, bukannya masih ada beberapa minggu lagi sayang." Ray yang juga menjadi khawatir, terlihat ada aliran air yang mengalir dari celah kaki istrinya itu.


"Ya Tuhan, sayang. Bibby! Siapakah kendaraan!" Teriak Ray dengan sangat keras.


Begitu pula dengan Nathan yang merasa begitu bersalah kepada mommy nya, ia menduga jika rasa sakit itu akibat dari ulahnya yang sudah menunjukkan sesuatu. Ia berdiri disamping tubuh Nisha dan juga memeluknya dari arah samping, hati benar-benar takut.


"Mom, maafkan abang." Ucapnya dengan suara yang berat.


"Ti dak apa-apa nak, mommy hanya akan melahirkan. Adikmu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan abangnya, argh!" Nisha meringgis kembali dengan memegang perutnya yang semakin sakit.


"Ta pi mom." Nathan masih tidak percaya, ia semakin bersalah melihat Nisha menahan rasa sakit.


Dengan tergopoh-gopoh Bibby menghampiri Ray, ia kaget melihat Nisha sudah meringgis kesakitan. Akibat teriakan Ray sebelumnya, Jihan dan juga Fiona ikut berlarian.

__ADS_1


"Mommy!" Fio dengan suara merdunya.


Plak!


"Jangan diam saja, perutku semakin sakit mas. Bisa-bisa anakmu ini akan lahir disini!" Kali ini Nisha yang berteriak cukup keras, karena di tengah ramainya orang tapi hanya diam saja.


Merasa sangat geram, Nisha memukul bahu Ray dengan cukup keras sehingga membuatnya sadar. Tanpa menunggu aba-aba lagi, Ray langsung mengendong tubuh Nisha dan berlari menuju mobil yang sudha Bibby siapkan. Si kembar ingin ikut masuk ke dalam mobil yang sudah berisikan Ray dan juga Nisha, tapi hal itu dicegah Ray. Karena jika mereka ikut maka akan memperlambat semuanya.


"Jalan, cepat!"


Teriakan Ray berhasil membuat Bibby menekan gas dengan maksimal, mobil melaju begitu cepat melewati setiap pengguna jalan. Bahkan mereka mengeluarkan umpatan atas laju mobil yang begitu cepat, beruntungnya tidak ada yang mengejar mereka.


"Kenapa?" Tanyanya dengan cepat langsung menghadapi Nisha.


"Ketubannya sudah pecah lebih awal." Jawab Ray yang masih dalam keadaan panik.


Pemeriksaan yang Zahra lakukan begitu cepat, mengingat cairan ketuban Nisha sudha pecah. Saat ia memeriksanya, pembukaan sudah mendekati sempurna. Ia langsung membawa brankar Nisha menuju ruang persalinan, Ray hanya mengikuti saja dan tidak ada sikapnya yang menyebalkan.

__ADS_1


"Nish, ikutin instruksi ya." Ucap Zahra yang memberikan aba-aba kepada Nisha.


Tidak bisa mengeluarkan perkataan apa-apa, Nisha hanya bisa menahan rasa sakit itu yang sudah tak tertahankan. Berbeda dengan proses kelahiran si kembar, kali ini begitu cepat dan seperti tidak ada rintangan. Hanya saja, Ray mengalami peristiwa yang benar-benar membuat status leader dunia bawah itu luluh lanta.


"Argh!" Nisha mengerang menahan rasa sakit.


Apa ini, jangan ditarik kuat begitu sayang. Bisa lepas kulit kepalaku ini ditarik ya, ya Tuhan. Begini rasanya menemani istri lahiran yang sebenarnya, kuku-kuku itu sudah menancap dengam sangat cantik pada bahu dan juga lengan Ray. Kulit kepala seperti akan terlepas dari tempatnya, sungguh luar biasa nikmatnya.


"Siap."


Zahra mulai mengarahkan Nisha untuk mendorong sekuat tenaganya untuk membantu baby keluar, kekuatan wanita istimewa itu begitu besar dan dalam tiga kali instruksi. Terdengarlah suara yang mereka nantikan, baby laki-laki.


Proses yang cukup melelahkan bagi Ray, namun semuanya berubah menjadi kebahagian saat baby itu berada di tengah-tengah mereka. Apalagi dengan si kembar yang sudah sangat menantikan kelahiran adik mereka, Soraya yang juga berada disana ikut merasakan kegembiraan cucunya.


"Sepertinya, kau tidak baik-baik saja Ray. Wajahmu semakin tampan rupanya, hahaha." Heru menertawakan penampilan Ray yang acak-acakan.


Kedua pria itu sedang berada di luar kamar perawatan Nisha, melepas kepenatan sehabis menemani proses persalinan. Ray menatap Heru dengan tajam, bahkan jika ingin ia akan mematahkan lidah Heru agar tidak bisa berbicara lagi.

__ADS_1


"Aku doakan semoga kau merasakan yang lebih parah dari pada ini, dengan sangat puas aku akan menertawakanmu. Bre****ek!" Ray meninggalkan Heru sendirian yang masih menertawakan dirinya.


Benar saja, penampilan Ray sungguh membuat siapapun yang melihatnya akan tertawa.


__ADS_2