Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
23.


__ADS_3

Waktu berjalan dengan sendirinya, hubungan Ray dan Nisha semakin membaik. Bahkan kini Nisha bekerja sebagai asisten pribadinya Ray, dengan syarat jika identitas dirinya sebagai kekasih dari seorang Ray dirahasiakan.


"Baby, aku akan berangkat ke negara seberang selama satu minggu. Ada sedikit urusan yang harus diselesaikan, Heru kan tetap bersamamu." Ray merangkul Nisha yang sedang meletakkan berkas-berkas di atas mejanya.


"Iya mas, eh. Jangan seperti ini mas, tidak enak jika ada yang masuk dan melihatnya."


"Tidak ada yang akan berani membuka suara baby, selama aku disana. Jangan sembarangan berbicara ataupun bertemu dengan orang, apalagi itu laki-laki. Kamu tahu kan sayang, aku akan sangat marah jika itu terjadi."Ray menenggelamkan wajahnya pada tengkuk lehernya Nisha.


"Dasar o-mes."


Mendengar ucapan tersebut, Ray membalikkan tubuh Nisha dan menatapnya dengan tajam. Membuat Nisha bergidik merinding dengan tatapan itu.


"Ma mas..." Ucapan penuh getaran karena merasa takut dari bibir Nisha.


"Kenapa sayang, kamu menginginkannya hem." Seakan-akan Ray sedang merayu Nisha dengan sikap posesifnya.


Tubuh Nisha berubah menjadi begitu tegang dan merinding, terlihat jika Ray akan melahap dirinya. Tengkuk lehernya Nisha tertahankan dengan tangan Ray dibelakangnya, tanpa bisa menolak lagi. Kedua bibir mereka berdua telah bersatu, Nisha berusaha untuk hisa terlepas dari hal tersebut. Namun tangan Ray lebih kuat untuk menahannya, awalnya tubuh Nisha menolaknya. Lama kelamaan Nisha terbawa dengan suasana tersebut, akan tetapi tubuhnya yang sudah hampir kehabisan udara memberontak. Dada super keras milik Ray tak henti-hentinya mendapatkan pukulan dari tangan kecil itu, tidak ada respon apapun yang diberikan Ray. Hingga akhirnya Nisha memilih hal yang sangat beresiko.


"Argh!Baby!" Ray melepaskan tautan mereka setelah Nisha menggigit bibir Ray dengan sangat kuat dan berdarah.


"Hah hah hah, ma mas. Da sar o mes." Nisha menatap tajam pada Ray dan berjalan meninggalkan ruangan tersebut.


Menghapus darah yang keluar pada bibirnya, Ray hanya tersenyum manis dengan apa yang baru saja terjadi. Baru kali ini, ia merasakan sangat tertarik dan mencintai wanita di dalam hidupnya. Bahkan kedua orangtuanya saja ia tidak pernah mengetahui dimana dan wajahnya bagaimana, dari sekian banyak wanita yang mencoba mendekati dirinya. Hanya Nisha yang berhasil mengambil jiwanya, sungguh sangat luar biasa.


...----------------...


Keberangkatan Ray ke negara seberang, sangat membuat dirinya begitu berat untuk meninggalkan Nisha. Ingin sekali dirinya ikut serta membawa wanitanya tersebut bersama dirinya, namun itu akan beresiko yang cukup besar. Bahkan ponsel yang telah dimiliki oleh Nisha tak henti-hentinya mendapatkan notifikasi yang berasal hanya dari satu orang, yaitu Ray.


"Ya ampun, jika ponsel ini bisa mengeluh."Gumam Nisha yang merasa kasihan terhadap ponselnya.

__ADS_1


"Hei Nish, jangan suka bicara sendiri. Ntar ada yang ikut nimbrung loh." Caca yang mengagetkan Nisha dari rutukannya sendiri.


"Iya ya mbak, buktinya mbak langsung ada disini. Hehehe." Tawa Nisha dengan memberikan salam dua jarinya kepada Caca.


"Hah, dasar kamu ya. Yuk siapin berkas yang mau dibawa, nanti kita kan bertemu dengan klien penting." Sejak kepergian Ray, semua tanggung jawab dan semua jadwal penting perusahaan akan menjadi tanggung jawab Caca dan Felix.


"Siap bos."


Keduanya tersenyum dengan sangat lepas, Caca adalah wanita yang tidak seperti kebanyakan lainnya. Dia wanita yang tegas namun receh pada orang yang sudah ia percaya, seperti halnya pada Nisha. Tugas pada hari ini telah mendapatkan kesepakatan diantara Felix dan Caca, Felix menghadapi beberapa klien yang bersifat lapangan dan Caca serta Nisha menemui klien yang sudah terjadwal.


Ddrrtt...


Ponsel milik Nisha bergetar saat mereka sedang dalam perjalanan menuju tempat yang telah disepakati bersama kliennya, pada awalnya getaran pada ponsel tersebut tidak mendapatkan respon oleh Nisha. Sampai berulang-ulang kalinya masih saja tidak mendapatkan respon, karena Nisha dan Caca sedang membahas berkas yang akan mereka bicarakan dengan kliennya. Pada akhirnya, ponsel milik Heru yang bergetar.


Tuan Ray?!


Heru segera menjauhkan telinganya dari ponsel tersebut, tidak ingin terjadi apa-apa dalam perjalanannya. Heru menghentikan laju mobilnya pada sisi jalan, agar dapat berbicara dengan leluasa.


"Pak Heru, kenapa berhenti?" Caca menyadari mobil mereka menepi.


"Tidak ada apa nona, ehm. Nish, lihat ponsel milikmu. Ada beruang kutub yang berubah menjadi kutu air, dia sedang marah-marah tidak jelas." Heru dan Nisha tidak merasa sungkan lagi dalam bicara.


"Hah?! Iya kak, maaf. Duh tu orang kenapa sih, tanganku tidak akan selalu memegang ponsel." Gerutu Nisha saat Heru mengatakan beruang kutub, ia segera tahu siapa yang dibicarakan olehnya.


"Beruang kutub? Siapa Nish?" Jiwa ingin tahu Caca meronta-ronta.


"Hahaha, lebih baik mbak tidak tahu orangnya. Nanti mbak akan berubah wujud, lebih baik tidak usah ya." Nisha menghindar dari pertanyaan Caca yang mulai ingin tahu kehidupan pribadi miliknya.


"Benar nona, lebih baik anda tidak usah mengetahui orangnya jika ingin tetap bernafas dengan lebih baik."Heru ikut menimpali.

__ADS_1


Caca berhenti bicara saat Heru menjelaskan akibat jika dirinya ingin mengetahui orang tersebut, lalu ia memilih untuk diam dan mengelus tengkuknya yang merinding. Nisha meminta Heru untuk tetap menjalankan mobilnya, karena waktu mereka akan terbuang jika harus berhenti lebih lama.


Melihat ponselnya yang dipenuhi dengan notifikasi panggilan tak terjawab dan pesan, membuat Nisha menggelengkan kepalanya. Ia pun pada akhirnya membalas pesan tersebut, jika tidak ponselnya akan berteriak untuk di non aktifkan saja.


Terkirim : ❤


Aku sedang dalam perjalanan untuk menemui klien bersama mbak Caca dan kak Heru mas, maaf jika ponselnya aku silent. Jangan marah ya, fokuslah untuk segera menyelesaikan permasalahan disana dan cepat kembali.


Tidak perlu menunggu lama, berselang beberapa detik kemudian notifikasi pesan balasan masuk pada ponsel Nisha.


Dari : ❤


Aku akan segera kembali setelah semuanya selesai, jangan terlalu banyak bicara pada klien terutama pria. Biarkan Caca yang menghadapinya, berjanjilah untuk itu semuanya baby. Ah, aku benar-benar merindukanmu sayang.


Terkirim : ❤


Mulai deh otak O mesnya keluar, sebentar lagi kami akan sampai mas. Nanti setelah selesai dilanjutkan lagi obrolannya, jangan lupa untuk makan dan istirahatnya mas.


Dari : ❤


Oke baby, miss u ❤.


Pada akhirnya ponsel tersebut bisa beristirahat juga, mereka pun telah tiba di tempat pertemuan yang telah disepakati sebelumnya. Heru kali ini tidak ingin lengah seperti kejadian sebelumnya, ia ikuti serta menghadapi klien yang ditemui oleh kedua wanita yang bersamanya.


"Memangnya siapa klien yang akan kalian temui hari ini?" Tanya Heru kepada Caca.


"Oh itu, dia adalah penerus dari perusahaan Jaya Mega yang sebelumnya dipimpin oleh pak Aditama dan sekarang telah di alihkan kepada anaknya, pak Vansh. Kalian kan pernah bertemu sebelumnya, pak Heru. " Jelas Caca saat akan memasuki sebuah restoran besar di negara tersebut.


"Apa, Vansh?!!"

__ADS_1


__ADS_2