Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
68.


__ADS_3

Kedua tangan Ray mengepal dengan sangat kuat, sehingga terlihat urat-uratnya yang begitu jelas.


"Kau benar-benar sudah berubah, Ray. Hanya karena seorang wanita, bisa membuatmu menjadi seperti ini." Perkataan Niki yang disengaja untuk membuat Ray marah.


Tiba-tiba saja seluruh tempat tersebut telah dikepung oleh anggota dari kelompok yang Niki pimpin, dengan adanya kejadian tersebut membuat Heru melebarkan kedua bola matanya.


...Sepertinya orang ini sudah merencanakannya terlebih dahulu, tapi. Mengapa Ray tidak panik akan hal ini. Jangan-jangan......


Mendapati Ray yang hanya berdiam diri menatap lawannya, kali ini Heru tidak bisa menebak jalan pikiran Ray.


Memperlihatkan sebuah rekaman yang menampakkan jika anggotanya sedang menyusup memasuki mansion milik Ray, pikiran Heru sudah terbang dimana ia khawatir dengan keadaan Nisha.


"Ray!" Heru menekankan perkataannya agar Ray sadar akan situasi yang sedang mereka alami saat ini.


Namun Ray memejamkan matanya sejenak serta menghembuskan nafasnya beratnya dengan sangat kasar, ia berusaha menenangkan dirinya agar tidak mudah terpengaruh dengan apa yang dikatakan oleh lawannya.


Mendapati Ray yang hanya berdiam diri saja, membuat Niki merasa aneh dan bingung dengan situasi tersebut. Biasanya seorang Ray akan mudah sekali terpancing emosinya dengan berbagai hal yang menyangkut kehidupan pribadinya ataupun orang yang mempunyai peran khusus dalam hidupnya. Pada saat ini, untuk merespon saja ia tidak tampakkan.


"Kau benar-benar pe****ut, Ray!" Bukannya Ray yang terpancing emoainya melainkan Niki sendiri.


Dor!


Niki menembak ke arah Ray dengan penuh rasa amarah yang menyelimuti dirinya, dengan wajah yang memerah menandakan jika ia sedang dalam keadaan marah saat itu.

__ADS_1


Gerakan cepat dalam menghindar telah dilakukan oleh Ray maupun Heru, mereka menyadari jika melakukan perlawanan hanya berdua saja. Maka sudah dipastikan nyawa mereka akan lenyap begitu saja dengan pasukan yang sangat banyak dari pihak lawan.


"Jangan ceroboh dalam bertindak, gunakan insting dan juga kecepatan dalam mengambil keputusan." Ray mengingatkan Heru dalam situasi tersebut.


"Hem, senjataku hanya tersisa tiga peluru saja. Mereka juga belum tiba, bagaimana ini?" Heru mengumpat dirinya yang tidak siap dalam persenjataan.


Tidak ada jawaban dari mulut Ray, ia hanya menunjukkan jemari telunjuknya mengetuk bagian kepala sampingnya. Yang dimana Heru harus menggunakan otaknya dalam bertindak dan mengambil senjata dari pihak lawan saat dikesempatan lawan mereka lengah, hanya itu cara untuk bertahan sampai bala bantuan datang.


Terjadilah baku hantam diantara mereka, Ray dan Heru terlebih dahulu menyerang para anggota lawan mereka agar dapat merampas senjata yang mereka miliki.


Bugh!


"Arkh, sial! Kalian merusak wajahku!" Erang Heru yang mendapatkan pukulan pada rahangnya dengan begitu keras.


"Bang***at!" Heru membalas serangan tersebut dengan senjata yang baru saja ia rampas dari lawan yang tumbang.


Crash!


Crash!


Hanya dalam dua kali ayunan sebuah katana, beberapa nyawa telah melayang. Hal itu semakin membuat Heru bersemangat untuk segera menghabiskan semua lawannya, sedangkan Ray. Keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya, senjata yang berada ditangannya sudah ia buang begitu saja di lantai.


"Berhentilah menjadi bayangan buruk untuk semua orang, aku sungguh muak dengan ulahmu selama ini." Ray berbicara pada Niki yang kini sedang berhadapan dengan dirinya.

__ADS_1


"Hahaha, berhenti kau bilang? Heh, kau saja tidak akan pernah bisa untuk berhenti menjadi seorang mafia Ray. Jangan terlalu menghayati apa yang kini kau miliki terlalu dalam, karena itu akan menjadi sumber kehancuranmu sendiri." Niki bermaksud meracuni pikiran Ray agar ia menyerah.


"Terserah mulut saja, aku rasa saat ini adalah waktu yang tepat untuk dirimu menyerah." Dengan senyuman sinisnya Ray berusaha mengulur waktu, sampai saat para anggotanya tiba.


"Aku tidak akan menyerah! Kau yang harusnya lenyap ditanganku, bersiaplah untuk menantikan itu Ray!" Niki tidak bisa menahan semua apa yang ia rasakan, kali ini ia benar-benar ingin membuat Ray lenyap.


"Coba saja." Ray tampak tidak mengindahkan ucapan Niki padanya.


Serangan demi serangan diberikan keduanya, senjata pun tak lepas dari tangan mereka. Ray kini sangat memahami karakter berkelahi dari seorang Niki, sudah sejak lama ia menantikan saat ini.


Dahulunya, Niki sangat mudah menghilang jika keadaan sudah tidak dapat ia pertahankan. Namun tidak untuk kali ini, Ray benar-benar telah mempersiapkan semuanya.


Crash!


Satu tebasan dari katana yang berada pada tangan Ray, berhasil membuat sebuah goresan yang cukup dalam.


"Si**!" Erang Niki merasakan sakit pada bagian tubuhnya yang terkena senjata Ray.


Akan tetapi, Ray hanya memberikan senyuman manis untuk respon dari Niki. Tak lama kemudian, Ray dan Heru mendapatkan tanda jika anggota mereka sudah tiba. Dan saat itu, Niki mulai menunjukkan sifat aslinya yang terkenal dengan sebutan bayangan. Namun apa daya, Ray dan Heru sudah terlebih dahulu memberikan blok pada pergerakannya.


"Mau kemana? Kabur?" Heru menyeringai keras pada Niki yang mulai tidak fokus.


Para anggota lawan dengan sangat mudah dikumpulkan oleh kelompok Ray, bahkan mereka tidak bisa bergerak sedikitpun untuk memberikan perlawanan sebagai bentuk pertahanan diri.

__ADS_1


"Argh!" Niki berteriak tidak bisa menjadi bayangan seperti selama ini.


__ADS_2