
Dalam keadaan yang sangat bingung, Soraya mencemaskan keberadaan sang cucu kesayangannya.
"Kenapa jam segini, Nisha belum juga sampai? Biasanya dia akan menelfon jika ada jam lembur, tapi ini tidak." Soraya melihat dari balik jendela rumahnya, menatap jauh ke arah luar rumah.
Lama Soraya menantikan kepulangan Nisha, beberapa kali ia melihat dari balik jendela dan berjalan mondar mandir diruang tamunya. Hingga rasa lelah menghampiri, ia akhirnya tertidur di kursi ruang tamunya.
......................
Tidur bersandarkan pada kursi disamping tempat tidur pasien, Ray kini membuka matanya karena merasakan lehernya yang pegal. Menggerakkan lehernya agar merasa lebih baik, lalu ia menatap wajah pucat orang yang masih betah terlelap dalam tidurnya.
"Sampai kapan kau masih terpejam seperti ini baby, apa kau tidak merindukanku." Ray mengusap telapak tangan Nisha dengan perlahan.
Belum ada respon apapun yang diberikan oleh Nisha, Ray bermaksud menyegarkan diri. Ia berjalan memasuki kamar mandi dan membasuh mukanya, sebenarnya Devi sudah menawarkan diri untuk menjaga sahabatnya itu. Namun karena Ray sudah memasang wajah yang cukup ingin, Devi akhirnya mundur dan pulang setelah Satria dan Erwin menghampirinya dirumah sakit.
Saat Ray masih berada didalam kamar mandi, dengan perlahan mata yang sedang terpejam terbuka perlahan. Menyesuaikan dengan cahaya yang mengenai matanya, dan akhirnya terbuka dengan sempurna. Memperhatikan ruangan tersebut dengan gerakan bola matanya yang bergerak, merasa asing dengan ruangan itu.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan seorang pria yang tampak begitu segar dengan adanya air membasahi wajahnya.
"Baby! Ka kami sudah sadar." Ray yang mendapati Nisha membuka matanya, ia segera menghampirinya.
Genggaman dari tangan kekar itu berada pada tangan mungil milik wanitanya, Nisha yang mendapati hal tersebut cukup kaget. Ia menarik tangannya dari genggaman Ray, karena dirinya masih begitu lemah. Maka hal itu tidak bisa ia lakukan, hanya saja Ray yang mengerti akan gerakan yang Nisha berikan. Dengan begitu perlahan ia melepaskan tangannya dan segera menekan tombol yang berada di dekat tempat tidur pasien.
__ADS_1
"Bagaimana, apa ada yang kamu rasakan?" Tanya Ray yang masih mengkhawatirkan Nisha.
Ingin menjawab namun lidah Nisha masih terasa kaku, ia pun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban untuk Ray.
"Baiklah, sebentar lagi dokter akan datang." Ray tersenyum begitu ramah dan tanpa ia sadari, ia memberikan kecupan hangat pada kening Nisha.
Cup!
Ni orang enak sekali yan hidupnya, sembarangan saja mencium orang. Selalu saja bertindak semaunya, kenal juga nggak dekat apalagi. Nisha dengan ocehannya di dalam hati.
Sontak saja kedua mata Nisha melotot dengan sangat besar, bahkan ia ingin sekali mengumpat dan mendeplak bibir Ray yang dengan seenaknya saja mencium keningnya. Pintu pun terbuka, memperlihatkan dokter dan seorang perawat menghampiri keduanya. Memeriksa kondisi Nisha, yang ternyata sangat baik.
"Saya senang sekali melihat anda sangat bersemangat untuk sembuh, pertahankan nona. Tuan Ray, anda tidak perlu khawatir lagi." Senyum dokter itu kepada Ray dan mereka pamit undur diri.
Tash!
"Auw! Sa kit." Kaget Nisha saat mendapati sentilan dari Ray di keningnya.
"Makanya, jangan keseringan berperasangka buruk sama orang. Terutama untuk diriku, baby." Menggunakan wajah dinginnya untuk menatap wanitanya, Ray selalu berlaku manis pada Nisha.
Raut wajah Nisha pun berubah, ia memalingkan wajahnya untuk melihat ke arah lainnya agar tidak bertatapan dengan wajah Ray. Berbagai usaha Ray lakukan untuk mencari perhatian dari Nisha, namun Nisha selalu membuang muka bahkan ia sengaja memejamkan matanya.
"Jika kau masih menutup matamu baby, jangan salahkan jika aku akan melakukan hal yang sama pada tempat yang lainnya seperti aku memberikannya pada keningmu." Bisikan Ray pada telinga Nisha, berhasil membuatnya membuka mata dan menatapnya.
__ADS_1
"Tuan, jangan memperlakukan saya seperti ini. Saya hanya orang rendahnya yang tidak pantas untuk anda, apalagi perhatian seperti ini. Jangan membuat saya menempatkan anda di dalam hati saya, yang kemudian dengan mudahnya anda buang begitu saja. Jujur saya, dari awal anda memperlakukan saya lebih. Itu sudah membuat saya takut, tolong tuan. Menjauhlah dari kehidupan saya, saya mohon."
Tanpa disadari, air mata sudah mengalir dari kedua sudut mata Nisha. Bahkan ia harus merasakan sakit yang teramat sangat pada bagian kepalanya dengan sekuat tenaga ia tahan, kemungkinan itu akibat dari ketegangan dari sang penderita.
Mendapati Nisha dengan tanggisannya, membuat Ray merasa sangat bersalah. Ia melihat salah satu tangan Nisha yang berada disamping kepalanya, dapat ia duga jika Nisha sedang menahan rasa sakit.
"Jangan menangis, katakan jika itu sakit (Ray mengusap dengan perlahan kepala Nisha). Aku akan berusaha untuk membuatnya hilang, tapi tidak dengan tangisan ini. Hatiku terasa sakit melihatmu seperti ini, kumohon. Biarkan aku menjadi bagian dari hidupmu, akan ku buat orang yang berani merendahkanmu menjadi sengsara."
Membawa tubuh kekar itu untuk memeluk tubuh wanitanya, Ray begitu sangat melindungi Nisha. Dengan berada dalam dekapan seorang Ray, Nisha tidak ingin berbohong. Karena ia juga merasakan ketenangan dan kehangatan berada dalam dekapan Ray, begitu nyaman sampai ia lupa jika dirinya masih kesal.
"Lepas, tuan. Sa saya susah bernafas, tuan terlalu erat." Ucap Nisha yang merasa malu, walau sebenarnya ia merasa nyaman.
"Ma maaf. Jangan pernah meragukan apa yang sudah aku nyatakan padamu, apapun yang terjadi nanti. Kamu tetap adalah wanita istimewa dalam hidupku, percayalah." Ray membantu Nisha untuk merebahkan kembali tubuhnya untuk beristirahat.
Suasana kembali tampak canggung, Nisha bingung dengan apa yang harus ia lakukan.
"Tu tuan, bolehkah aku meminjam ponselmu sebentar? Aku belum memberitahu nenek, aku takut dia akan khawatir." Walaupun sebenarnya Nisha begitu ragu saat ingin meminta pertolongan pada Ray, akan tetapi ia tidak mau membuat sang nenek menjadi kepikiran dan khawatir dengan dirinya.
"Ponsel?! Kamu tidak mempunyainya?" Dengan raut wajah membingungkan, Ray menatap Nisha dengan tajam.
Anggukkan kepala Nisha membuat Ray semakin gemas, Merogoh saku celananya dan menyerahkan benda pilih itu kepada Nisha. Saat menerima benda tersebut, Nisha bgitu kaget melihat foto dirinya yang menjadi latar dari ponsel itu. Ia melemparkan tatapan matanya kepada Ray, seakan-akan meminta penjelasan dari hal tersebut dan Nisha pun memperlihatkan ponsel itu kepada Ray.
"Kenapa? Tidak usah banyak berpikir, cepat hubungi nenekmu. Jika tidak, aku akan menjitak kepalamu itu. Selalu saja berpikiran negatif kepadaku, awas saja jika sudah aku sah kan kau menjadi milikku. Habis kau." Ray mencebik melihat sikap Nisha yang begitu natural.
__ADS_1
Tidak ingin mendapatkan hukuman itu dari Ray, Nisha segera menghubungi sang nenek dan memberitahukan jika dirinya dalam keadaan baik-baik saja dan akan segera pulang jika pekerjaannya sudah selesai. Nisha terpaksa harus berbohong pada Soraya, agar tidak membuatnya menjadi cemas.