Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
73.


__ADS_3

Memasuki bulannya untuk melahirkan, Nisha lebih banyak menggerakkan tubuhnya daripada menuruti perkataan Ray yang banyak membatasinya. Wajar saja hal itu terjadi, ketakutan Ray yang melihat cara Nisha berjalan saja sudah begitu kesulitan.


"Mas, hari ini kita jadikan mau beli perlengkapannya?" Nisha baru saja akan membeli perlengkapan untuk sang buah hati, karena mereka sengaja untuk tidak terlalu cepat dalam membeli semua kebutuhan bayi.


"Apa kita tidak membelinya secara online saja sayang? Mas takut nanti kamu kelelahan." Ray sambil memeriksa beberapa email yang masuk melalui benda didepannya yang berlayar datar dan juga berbentuk kotak.


"Kalau beli secara langsung itu, ada kepuasan tersendiri Mas. Kita tidak perlu was-was kalau barangnya nanti tidak sesuai dengan apa yang diinginkan, oke mas." Nisha setengah membujuk Ray yang masih terlalu enggan dan juga khawatir jika Nisha kelelahan.


Mendiamkan sejenak istrinya dengan memeriksa beberapa laporan yang diberikan oleh Felix, tak lama kemudian Ray menghubungi seseorang melalui ponselnya.


"Sepertinya, kalian berdua memang merupakan patner sejati dalam bekerja. Selamat, masa kerja kalian berdua aku perpanjangan lagi dan juga terima kasih atas kinerja kalian yang cukup baik. Teruskan." Ray menutup pembicaraannya tanpa menunggu jawaban ataupun ucapan dari Felix.


Memperhatikan suaminya yang tersenyum-senyum sendiri akan tetapi tidak memberikan jawaban atas apa yang ia butuhkan sebelumnya, yang pada akhirnya Nisha berinisiatif untuk membuat sesuatu.

__ADS_1


"Nak, nanti kalau kalian sudah lahir. Jangan biarka daddy senyum-senyum sendiri ya, mommy takut nanti daddy kalian menularkan hal tersebut pada kita semua." Nisha berbicara dengan mengelus perutnya yang semakin membesar.


Sambil melirik suaminya yang belum peka dengan apa yang ia katakan, Nisha merasa semakin kesal dengan sikap Ray.


"Mas, mau pergi atau tidak sama sekali?!" Perkataan Nisha sedikit meninggi, karena Ray masih sibuk dengan laporan-laporan perusahaan.


Ray yang masih kurang peka dengan apa yang Nisha maksud, hanya memberikan senyuman manis tanpa penjelasan. Namun bukan Nisha kalau tidak membuat Ray menyerah, dengan cepat wanita itu menyambut tasnya dan berjalan sendiri keluar dari kamar. Dan itu juga tanpa disadari oleh Ray, ia masih sibuk memeriksa laporan serta saling membalas pesan dengan Felix yang baru saja ia berikan perpanjangan waktu.


"Kita berangkatnya sebentar lagi sayang, mas mau mengirim file ini kepada Felix dulu. Ka.. mu??" Ray menoleh pada tempat dimana Nisha berada sebelumnya dan seketika kedua bola matanya membesar saat tidak mendapati istrinya disana.


Seluruh ruangan didalam kamar telah ia cari, namun keberadaan Nisha tidak ia temui. Langkah besar ia keluar dari kamar dan menuruti anak tangga dengan sangat cepat, bisa juga dibilang Ray setengah berlari. Disaat kakinya berada di ujung anak tangga bagian bawah, ia melihat wanita yang membuat jantungnya hampir tidak berdetak sejak berdiri di dekat pintu utama dengan melipat kedua tangannya dibagian depan.


"Huh, kamu disini sayang. Kenapa tidak menunggu mas, mas takut kamu jatuh ditangga. " Berjalan dengan menetralkan nafasnya yang masih ngos-ngossan, Ray mendekati Nisha.

__ADS_1


"Apa gunanya ada lif disini kalau tidak digunakan, mulai ngaco ngomongnya. Kalau mau nerusin kerjaan, ya silahkan mas. Aku bisa minta temenin Jihan dan kak Heru untuk berbelanja, mereka pasti mau menemani." Dengan nada yang cukup datar, Nisha menyindir Ray yang terlalu over dalam sikapnya.


"Tapi sayang, ka..."


"Aku juga butuh refresing mas, selama hamil aku selalu berada di mansion. Sudahlah, aku bisa pergi sendiri." Nisha berjalan menjauhi Ray.


"Oke oke oke, kita pergi berbelanja. Tapi dengan satu syarat, jika kamu kelelahan. Kita segera pulang." Ray meraih tangan Nisha dan menggenggamnya.


"Dari tadi kek, dasar kulkas empat pintu original." Ketus Nisha kepada Ray.


"What?" Ray terbelalak dengan ucapan Nisha kepadanya, istilah baru yang ia dengar dari sang istri.


"Ya, kulkas empat pintu original. Dinginnya tidak bisa dibandingkan dengan papan kayu yang keras dan datar, udah ah ayo pergi."

__ADS_1


Wajah Ray berubah merah dengan istilah tersebut, sang istri selalu bisa mencairkan suasana hatinya.


__ADS_2