Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
59.


__ADS_3

"Baik-baik disini ya nak, ingatlah jika kini kamu sudah menjadi seorang istri. Lakukanlah tugasmu dengan baik dan jangan mengecewakan suamimu." Soraya memberikan sedikit nasihat untuk Nisha.


"Doakan saja nek, Nisha berusaha yang terbaik untuk semuanya."


"Baiklah, nenek pulang dulu ya." Soraya berpamitan kepada Nisha.


Seakan tidak ingin melepas kepulangan sang nenek, Nisha merasa sangat berat untuk melakukannya. Tidak bisa untuk menahan Soraya lebih lama disana bahkan untuk tetap tinggal bersamanya, hanya bisa menatap mobil yang membawanya semakin menjauh dan menghilang dari pandangan dalam kegelapan malam yang mulai menyapa . Saat ini, Ray merangkul pinggang sang istri dengan lembut.


"Jangan bersedih."


Sentuhan itu menyadarkan Nisha dari lamunannya, mereka pun kembali memasuki mansion dan menuju kamarnya.


"Mau langsung mandi mas?" Tanya Nisha kepada Ray yang sedang melepaskan dasinya.


"Iya sayang, mas ingin berendam air hangat saja sebentar." Wajah Ray yang menampakkan keletihan terlihat sangat nyata.


Segera Nisha menyiapkan air hangat untuk Ray dan menambahkan sedikit aroma terapi yang ia sukai agar dapat membantunya melepaskan rasa lelah sejenak.


Meninggalkan suaminya yang sedang berendam, Nisha berjalan menuju dapur sekadar untuk menyiapkan makanan untuk Ray dan membawanya kembali ke dalam kamarnya. Menaruh nampan berisikan makanan ke atas nakas, tiba-tiba sudah ada tangan yang melingkar pada perutnya.


"Darimana sayang?" Ray yang sudah berpakaian santai kini berada di belakang Nisha.


"Hanya mengambil sedikit makanan untukmu mas, kamu pasti belum makan malam kan?" Nisha membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Ray.


"Jangan terlalu lelah mas, makanlah selagi hangat."


Bukannya segera menikmati makanannya yang sudah Nisha bawa, melainkan Ray lebih menyukai santapan lainnya.


"Mas akan merasa kenyang dengan memakan kamu, apa boleh untuk malam ini sayang?" Ray bergumam seakan sedang meminta persetujuan dari Nisha.


Ray sudah menenggelamkan wajahnya pada tengkuk Nisha, dengan hembusan nafasnya disana yang telah membantu Nisha untuk menjawabnya.


"Tanpa aku menjawab, mas sudah tahu akan jawabannya."

__ADS_1


Melingkarkan kedua tangannya pada leher Ray, sebagai tanda dan jawabannya kepada sang suami. Mendapatkan lampu hijau tersebut, Ray segera melaksanakannya.


Kehidupan rumah tangga itu berjalan dengan sangat baik, Nisha perlahan sudah dapat menyesuaikan dirinya dengan dunia bawah yang secara tidak langsung melibatkan dirinya sejak ia masuk ke dalam kehidupan Ray.


"Sayang, bisakah hari ini menyiapkan makan siang untukku?"


"Kamu mau dimasakin apa mas? Tumben." Nisha yang merasa aneh dengan permintaan suaminya ini.


"Sudah beberapa hari ini, makanan yang mas rasakan sepertinya sangat aneh. Berbeda dengan masakan yang kamu sediakan saat dirumah, kamu tidak keberatan kan sayang."


"Iya mas, mau dimasakin apa?" Nisha membantu Ray merapikan penampilannya untuk berangkat ke perusahaan.


"Apa saja, yang terpenting itu adalah masakanmu sayang." Ray berjalan bersama Nisha untuk segera sarapan.


Hubungan mereka berdua semakin baik, bahkan melebihi seperti orang yang sedang kasmaran. Karena apa yang dirasakan oleh Ray dalam waktu beberapa minggu ini, Nisha harus turun tangan sendiri mengenai asupan makanan dan keperluannya sehari-hari. Dibantu oleh Meri, bibi Clara dan pak Muh, setidaknya bisa meringankan tugas Nisha dalam melayani suaminya.


"Jangan lupa sayang, Meri. Jangan pernah lengah sedikit pun." Titah Ray pada pengawal istrinya itu.


"Mas." Nisha menegur Ray agar suaminya itu tidak terlalu khawatir.


"Mer, kami ngerasa ada yang beda tidak dari mas Ray?"


"Tidak nona. " Meri tidak ingin terlalu jauh masuk ke dalam urusan rumah tangga tuannya.


Liriknya mata Nisha kepada Meri, benar-benar tidak habis pikir dengan karakter pengawalnya tersebut. Begitu kaku saat membahas tentang urusan yang namanya laki-laki. Fokusnya hanya pada pekerjaan, pekerjaan dan pekerjaan.


Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat, saat ini Nisha dan Meri dalam perjalan menuju perusahaan sang suami, ponsel Nisha tak henti-hentinya bergetar. Terdapat panggilan masuk yang berasal dari Ray, Nisha sengaja tidak menjawabnya. Karena akan sangat panjang jika suaminya itu berbicara, tidak akan ada habisnya.


"Selamat siang Nyonya Tamoez, silahkan." Penjaga pintu kedatangan menyambut Nisha dengan sangat ramah.


"Terima kasih pak Budi."


Memasuki lif dan menekan angka dimana ruangan suaminya itu berada, sesaat Nisha sudah masuk ke dalam Lif. Banyak karyawan yang mulai bergosip.

__ADS_1


"Eh kalian tahu nggak siapa wanita itu? Dia itu istrinya pak Ray, cantik ya."


"Beneran itu istrinya pak Ray? Sepadan sih, cantik dan tampan."


"Ya hancur dan gagal perasaan gue, ternyata pak Ray sudah ada yang punya."


"Wush, kerja yuk. Tuh ada pawangnya."


Mereka berhenti bergosip saat melihat Felix menatap dengan sangat tajam dan segera membubarkan diri, sebelum Nisha tiba di perusahaan. Ray sudah menyuruh Felix untuk mengumumkan statusnya dan wajah sang istri, ia tidak ingin istrinya itu menjadi terhalang saat memasuki perusahaan.


"Dasar wanita penggosip." Cetus Felix dan berlalu.


Ada perasaan tidak enak dalam diri Nisha, ia diperlakukan sangat istimewa oleh suaminya. Dan tempat ini, merupakan tempat yang bersejarah bagi dirinya dan Ray.


"Nisha!" Teriak Caca saat melihat Nisha keluar dari lif.


"Mbak Caca apa kabarnya?" Nisha membalas pelukan yang Caca berikan, mereka sudah lama tidak bertemu.


"Baik Nish, eh salah bu' bos. Kamu ini ternyata eh ternyata, pak Ray akhirnya ada yang menakhlukannya." Dengan lancar ya Caca berkata.


"Mbak bisa saja, oh ya mbak ini kenalin Meri." Nisha mengenalkan Meri sebagai pengawal dan juga bagian dari keluarganya.


Mereka bertiga harus menyudahi pertemuan tersebut saat pintu ruangan utama terbuka.


"Sayang! Kenapa tidak segera masuk, mas sudah lapar." Ray menghampiri Nisha dan merangkul pinggangnya.


Membawa Nisha segera masuk ke dalam ruangannya dan meninggalkan dua wanita yang lainnya, melihat sikap tuannya kali ini membuat Caca terperanggah.


"Itu itu beneran tuan Ray? Wow..." Caca yang sudah lama bekerja bersama Ray, baru kali ini dia melihat sikap Ray yang tidak biasa.


"Hei, kenapa kamu tidak menjawab? Benarkan apa yang aku bilang tadi?" Caca menyikut lengan Meri untuk mendapatkan jawaban atas apa yang ia tanya.


Namun ternyata, apa yang diharapkan Caca kepada Meri tidak tercapai. Ia hanya berjalan melewati dan mengabaikan Caca begitu saja, wajah yang datar dan dingin membuat Caca bergidik merinding.

__ADS_1


"Tu orang manusia apa bukan sih?! Diajakin ngomong tapi nggak ada respon, Jangan-jangan dia makhluk aneh yang baru saja tiba di bumi. Dasar sebelas dua belas sama pak Heru, tapi. Aku masih penasaran dengan perubahan sikap pak Ray yang menjadi sangat manja seperti ini, ah nanti akan aku tanyain langsung sajalah sama Nisha."


__ADS_2