
Harus bekerja keras untuk menemukan siapa yang menjadi otak utama dari peristiwa yang lalu, Ray menguras isi kepalanya agar segera menemukan siapa orangnya.
"Ini susunan acara yang kau minta, apa ini tidak terlalu berbahaya Ray?" Heru menyerahkan sebuah berkas yang sebelumnya sudah Ray inginkan.
Menerima dan membaca dengan sangat teliti, Ray mencermati satu persatu acara yang yang tertera. Nampak keningnya berkerut namun belum mengeluarkan satu kata pun, sungguh terasa berat untuk dilakukan.
Melemparkan berkas tersebut di atas meja kerjanya, Ray menyandarkan tubuhnya untuk bersandara pada kursinya. Mata terpejam menandakan ia sedang berpikir, suatu keputusan yang sangat besar untuk diambil.
"Bagaimana Ray?" Heru menanyakan kembali tujuannya untuk melihat berkas tersebut.
"Entahlah, aku belum bisa mengambil keputusan." Jawab Ray seadanya, kini ia merasa sangat dilema untuk mengambil keputusan, yang biasanya ia akan dengan sangat mudah dalam hal tersebut dan kini semuanya tidak berjalan begitu baik.
Heru pun berpendapat sedemikian rupa, namun acara tersebut adalah kondisi dimana mereka akan membersihkan nama Ray dari peristiwa sebelumnya. Walaupun Nathan sudah membersihkan namanya, tapi itu belum seutuhnya. Ray menghela nafasnya dengan berat panjang, membenarkan posisinya untuk duduk berhadapan dengan Heru.
"Menurut kalian?" Melemparkan pertanyaan yang sebelumnya ia terima kepada Heru, Ray menatap dengan sangat serius kepada Heru.
"Hah, kau bertanya padaku? Lebih baik kau berikan aku tugas berperang saja, Ray." Heru tidak menduga jika Ray mempertanyakan hal tersebut kepada dirinya.
__ADS_1
Kedua pria itu sedang dilanda dilema yang begitu berat, mempertaruhkan nyawa banyak orang untuk membersihkan nama baik klan dan juga pemimpin mereka. Jika saja nyawa yang dipertaruhkan adalah para anggota mereka, itu tidak akan membuat Ray sepanik ini. Namun kali ini, nyawa keluarganya yang menjadi taruhannya dan itu tidak mungkin Ray lakukan.
"Lebih baik batalkan saja, sisanya akan ku urus. Keluarlah."
"Apa itu tidak akan berbuntut panjang Ray? Sepertinya, untuk kali ini kita harus bertindak tegas. Mereka mempunyai cara seperti saja, sudah membuat pusing. Tapi, jika kau yakin akan hal ini. Aku hanya bisa menyetujuinya, keselamatan adik dan keponakanku adalah yang utama." Heru bangkit dari tempatnya dan menepuk bahu Ray dengan perlahan dan keluar dari ruangan, tersenyum walaupun begitu berat agar dapat memberikan dukungan atas apa yang sudah menjadi keputusan Ray.
Dalam diamnya, Ray sungguh tidak ingin melibatkan keluarganya. Terutama Nisha, dalam keadaan yang sedang mengandung anak ke tiga mereka dan juga si kembar yang masih sangat kecil.
.
.
.
"Jangan ada hal sekecil apapun yang bisa membuat acaraku menjadi berantakan." Ucap seorang pria dengan memiliki tubuh yang cukup menawan, bahkan mata pria pun terpana dengan ketampanannya.
Gino Consesta, pemimpin dari klan Draco yang cukup terkenal seperti Ray. Hanya saja, Gino adalah manusia yang tidak pernah mengenal apa itu wanita dan kasih sayang, ia akan menyamakan semua posisi pria ataupun wanita dihadapannya. Siapapun yang melakukan kesalahan dan membuat dirinya menjadi marah tanpa terkecuali, maka nasib mereka akan menjadi abu.
__ADS_1
"Baik tuan, semuanya sudah siap. Hanya saja, ada satu tamu kita membatalkan untuk hadir."
"Siapa itu?"
"Pemimpin dari klan Dark Kill dan juga pemilik dari Win'R, Ray Tamoez. Beliau baru saja memberikan konfirmasi atas ketidakhadiranya." Cleon, orang kepercayaan dari Gino menyampaikan apa yang baru saja ia dapatkan.
"Alasannya?" Suara Gino mulai meninggi dan seperti tidak terima akan apa yang dilakukan oleh Ray.
"Tidak ada tuan, mereka hanya memberitahukan jika tidak bisa hadir." Cleon sudah melihat raut wajah Gino yang tidak bersahabat, ingin dirinya segera berlalu dari sana.
Tatapan dingin serta tajam itu benar-benar seperti membunuh orang lain, dalam genggaman tangan kekar itu terdapat sebuah tongkat kayu yang cukup tebal. Akan tetapi itu tidak berarti apa-apa jika berada didalam kuasa Gino, dalam hitungan detik tongkat itu sudah berubah menjadi potongan yang terbelah beberapa bagian.
Kletak!!
Brak!
Potongan kayu tersebut dilemparkan begitu saja oleh Gino sehingga berserakan, Cleon hanya bisa menatapnya dalam keadaan yang begitu menegangkan. Apalagi disaat Gino memberikan sebuah perintah yang tidak bisa untuk ditunda dan dibatalkan, dan juga tidak menerima yang namanya kegagalan.
__ADS_1