
Terlelap setelah merasakan kedua matanya yang sangat berat untuk terbuka, Ray tidak tahu jika dirinya sudah tertidur berapa lama. Sampai ketika dirinya merasakan ada sesuatu yang menyentuh puncak kepalanya, dikarenakan posisi dirinya tidur dengan meletakkan kepala diatas lengannya disisi Nisha.
Tap!
Ray menahan sesuatu yang telah menyentuh kepalanya itu dengan tangannya, membuka mata dan melihat apa yang telah membuat dirinya merasa terganggu. Tidak ada kemarahan sedikitpun terlihat, wajah itu malah menampakkan keterkejutan.
"Sa sayang! Kamu sudah sadar?!" Dengan menahan tangan Nisha yang masih berada dalam genggamannya, Ray menatap dengan tidak percaya.
Tidak menjawab ucapan Ray padanya, Nisha hanya tersenyum dan menggerakkan kepalanya. Memberikan kecupan kerinduan pada semua sisi wajah sang istri, Ray benar-benar merasa sangat bahagia atas kesadaran Nisha.
"Mas, bisa bantu duduk?" Ucap Nisha yang merasakan pegal pada setiap sendinya.
Dengan cepat Ray menganggukan kepalanya dan membantu Nisha untuk duduk, bersandar pada tempat tidurnya. Memberikan minuman yang diminta Nisha, karena ia merasakan tenggorokannya begitu kering.
"Sejak kapan kami sadar sayang? Kenapa tidak memberitahu mas?" Ray masih menggenggam tangan Nisha dan sedikit memberikan kecupan hangat pada punggung tangannya.
"Mas benar-benar khawatir sayang, tapi syukurlah kamu sudah sadar."
Ray terus memberikan pertanyan-pertanyaan yang membuat kepala Nisha berdenyut, tidak ada kesempatan untuk dirinya berbicara ataupun menanyakan sesuatu.
"Stop!" Ucap Nisha dengan sedikit tinggi nada bicaranya kepada Ray, dan itu berhasil membuat Ray terdiam.
__ADS_1
"Sayang, kamu." Ray benar-benar kaget dengan ala yang baru saja terjadi.
Tidak pernah menyangka jika Nisha menjadi seperti ini, biasanya Nisha bersikap lemah lembut dan tidak pernah berkata keras maupun kasar kepada siapapun. Namun kali ini, hal itu terjadi secara langsung dihadapannya.
"Hufh. Maaf mas, bukan bermaksud tidak sopan, tapi mas dari tadi bicara terus-terusan. Tidak ada memberikan kesempatan untuk aku berbicara ataupun bertanya, wajar kan jika aku harus setengah berteriak untuk membuat mas berhenti bicara." Nisha menjadi begitu malas untuk menatap suaminya itu.
"Mmpphh, hahaha. Ternyata, istriku ini juga bisa marah ya. Iya sayang, mas minta maaf. Terlalu larut dalam rasa bahagia dengan kamu, ya ampun mas lupa. Sebentar." Ray melepas genggaman tangannya dan berlari keluar ruangan.
Merasa heran dengan sikap Ray, Nisha menaikan satu alis matanya. Tak lama kemudian Ray kembali dengan nafas yang terengah-enggah, dia tidak sendirian melainkan sambil menarik seseorang yang berpakaian menggunakan jas berwarna putih.
"Dasar bre****ek! Walaupun kau itu pemimpin klan, tapi tidak begini juga carayanya Ray! Aku harus melaksanakan tugasku dulu, apa matamu tidak lihat jika pasienku sedang antri untuk diperiksa? Jika bukan leader, sudah ku steril keberadaanmu dimulai bumi ini. Lepas! Jatuh sudah wibawaku sebagai dokter." Celoteh Zahra akan sikap Ray padanya.
Disaat sedang memeriksa pasiennya dimana ia praktek, Ray datang menerobos begitu saja memasuki ruang kerjanya. Hal itu membuat Zahra sangat geram, sehingga ia harus memundurkan jadwalnya. Baru saja selesai berbicara kepada asistennya, tangan Zahra langsung saja ditarik Ray dan membawanya ke ruangan dimana Nisha berada.
"Ah! Nisha sudah sadar?" Zahra yang baru saja menyadari keberadaannya yang sudah berada diruang perawatan, pandangannya langsung beralih melihat ke arah ranjang pasien.
Kedua bola mata Zahra melebar ketika mengetahui Nisha sudah sadar dan sedang bersandar, ia langsung menghampirinya.
"Akhirnya. Kamu benar-benar sudah sadarkan kan Nish? Biar aku periksa dulu." Zahra langsung melakukan pemeriksaan awal saat pasiennya yang sudah sadar dari koma.
Nisha menatap Ray yang begitu sangat terlihat bahagia, beberapa saat setelah pemeriksaan. Zahra merasa puas dengan semuanya, tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan dengan kondisi Nisha.
__ADS_1
"Keadaanmu cukup baik untuk saat ini, apa ada keluhan yang lain?" Tanya Zahra.
"Ada?" Jawab Nisha dengan singkat.
Namun jawaban itu singkat itu membuat semuanya panik, mereka menyangka jika kondisi Nisha belum pulih dan masih ada yang harus mereka tangani.
"Dimana anak-anakku?" Pertanyaan itu sudah lama ingin Nisha tanyakan, namun situasi yang membuatnya tertahan.
Degh!
Semua orang yang berada disana, termasuk juga Felix dan Caca yang baru saja ikut bergabung diruangan tersebut menjadi kaget.
"Perutku sudah rata, selamat atau tidaknya anak-anakku. Pasti kalian mengetahuinya kan, dan kini dimana mereka?"
Sorot wajah Nisha berubah menjadi datar, tidak ada yang bisa mengartikan apa yang sedang dirasakan oleh dirinya.
Plak!
Merasa geram dengan sikap Ray, Zahra kali ini tidak bisa lagi menahan emosinya kepada leader mereka itu. Menatap tajam kepada Ray, sekarang tatapan itu menyakan kejelasan atas pertanyaan yang baru saja Nisha ucapkan.
"Kau ini, sungguh keterlaluan. Bagaimana mana bisa untuk masalah inti tidak jau beritahukan kepada Nisha? Dasar aneh." Zahra bermaksud untuk memberitahukan semuanya kepada Nisha.
__ADS_1
Lagi-lagi mereka dibuat kaget dengan kehadiran kemunculan dari orang yang dipertanyakan oleh Nisha, Heru bersama Jihan dan juga Soraya memasuki ruangan tersebut. Mata mereka menatap Nisha yang sudah sadar, sungguh mereka saling membuat kejutan.