
Hari dimana peristiwa yang sangat penting dalam kehidupan Ray sedang berlangsung, tidak ada pesta dan juga tamu istimewa. Semuanya ini adalah permintaan dari Nisha, ia hanya menginginkan suasana yang begitu khusus dan sakral pada momen dimana akan terjadi satu kali selama hidupnya.
"Sah? Sah? Sah?"
"Sah!!!"
Suara itu terdengar begitu lantangnya dan tegas, menyatakan dan meresmikan hubungan diantara sepasang insan manusia.
"Selamat nak, nenek turut berbahagia dengan pernikahanmu." Soraya memeluk tubuh cucunya dengan begitu erat, tanpa ia sadari jika air mata sudah membasahi wajahnya.
"Nenek, terima kasih atas semuanya. Jika tidak ada nenek, aku tidak akan sampai pada hari ini. Tetaplah untuk selalu sehat dan terus bersamaku nek." Nisha melingkarkan kedua tangannya pada tubuh wanita berumur tersebut.
"Sudah sudah, jangan menangis seperti nenek. Ini adalah hari bahagiamu, Ray. Nenek titip cucu nenek yanhnkeras kepala ini padamu, jaga dia." Soraya menatap Ray untuk membenarkan ucapannya.
"Nyawaku adalah taruhannya nek, jangan khawatirkan hal itu." Ray tersenyum kepada dua wanita dihadapannya dengan begitu tulus.
Berselang waktu berikutnya, sahabat terbaik Nisha juga turut hadir. Mereka begitu sangat senang melihat sahabat terbaiknya telah menemukan belahan jiwanya, bahkan mereka sudah memprediksi sebelumnya. Ray memberikan ruang pada wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu, untuk bersama sahabatnya.
"Nisha! Selamat ya sayang, duh cantiknya." Devi memeluknya dengan begitu erat.
"Woi, lu kekencengan tuh meluknya. Kasihan pengantin baru kesakitan, dasar ceroboh ni anak." Satria menarik lengan Devi agar tidak terlalu lepas kendali.
"Iya iya, Nish. Kok bisa ya tuan Ray cinta sama kamu, apa karena lu agak rada-rada gimana gitu."
Syuth!
"Eh, kok main toyor-toyor aja lu bang." Devi memprotes sikap Satria yang mentoyor keningnya dengan kuat.
"Mulai deh mulut lemes aktif, udah Nish nggak usah didengerin ni anak. By the Way, selamat ya. Cepet kasih keponakan, biar kita tambah rame kalau kumpul. Abang sama ni lemes mau wisata kuliner dulu ya, ayo Dev."
"Hahaha, lu kayak nggak tahu gue aja Nish. Ya udah ya, bener kata bang Sat. Wisata kuliner dulu disini, lu mau ikutan nggak Nish."
__ADS_1
Plak!
"Ayo cepetan, ngomel mulu tu mulut. Bye Nish, salam buat nenek."
Satria perlahan telah menjauh bersama Devi, mereka benar-benar menikmati jamuan pada malam itu. Hanya dihadiri beberapa teman terdekat dan juga anggota seluruh kelompok 'Dark Kill' yang berada dalam pimpinan Ray.
Acara pun telah selesai, semua orang sudah beristirahat namun tidak untuk anggota mereka.
"Mas, aku mau menemui nenek sebentar ya."
"Memangnya kenapa? bisakah besok saja, ini sudah terlalu larut malam. Mungkin nenek sudah terlelap, beristirahatlah dulu." Ray melepaskan satu persatu pakaian bagian atasnya dan dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, Nisha menatap bayangan dirinya yang berada pada cermin. Ia tidak menyangka akibat dari ucapannya yang hanya asal saja, berakhir dengan seperti ini.
Pria yang pada awalnya begitu membuatku kesal, kini menjadi suamiku. Apa keputusan yang telah aku ambil ini benar? Aku tidak begitu mengenali dirinya dan juga kehidupannya, apa yang harus aku lakukan? Ya Tuhan, jika keputusan yang aku ambil ini benar, tolong bantu aku untuk membuka hati dan menerimanya. Namun jika ini salah, lepaskan kami dengan jalan yang terbaik.
"Sedang apa baby?" Tangan Ray sudah melingkar pada tubuh Nisha dari arah belakang.
"Ah, kamu mengagetkanku mas. Sudah selesai mandinya?" Tanya Nisha dengan ragu.
"Aa, tidak perlu mas. Aku bisa sendiri." Secepat mungkin Nisha berjalan menuju kamar mandi dan langsung membersihkan diri.
Melihat sikap wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu, membuat Ray tersenyum dengan begitu bahagianya. Sudah cukup lama Nisha berada di dalam kamar mandi, Ray sengaja menunggunya untuk bisa makan malam bersama. Kesabaran itu mulai goyang, ia mendekati pintu kamar mandi dan akan mengetuknya.
Klek!
"Eh, mas." Kepala Nisha tampak keluar dari celah pintu yang sedang ia buka.
"Huh, lama sekali sayang. Apa kau tidak lapar? Ayo cepat, keburu dingin semua makanannya."
"Tu tunggu dulu mas, a aku lupa membawa pakaian ganti." Senyuman lebar Nisha berikan kepada Ray.
__ADS_1
Kening Ray terlihat berkerut, timbul ide di dalam kepalanya untuk menjahili istri kecilnya itu.
"Aakh! Kamu apa-apaan mas!" Nisha berteriak saat tubuhnya ditarik dari dalam, kamar mandi dan digendong oleh Ray.
Tubuh itu, Ray hempaskan dengan perlahan dia atas tempat tidur. Nisha yang pada saat itu hanya menggunakan handuk pendeknya, ia merasa begitu ketakutan akan Ray yang akan meminta haknya. Secepat mungkin ia menarik selimut yang berada di sisi tempat tidur, menutupi tubuhnya yang sudah membuat mata Ray terbuka dengan penuh nafsu.
"Kamu sendiri yang sudah memancingnya, baby." Ray yang hanya menggunakan pakaian kaos oblongnya mengurung tubuh mungil itu dibawah tubuhnya.
"Ma mas, kamu mau apa?" Menggeleng-gelengkan kepalanya, Nisha memberikan isyarat untuk Ray.
"Kenapa, kamu belum siap? Aku tidak akan mengambil hakku sekarang, aku akan menunggunya sampai kamu benar-benar siap sayang."
Mencolek hidung Nisha dengan menggunakan ujung hidungnya, Ray berusaha untuk menahan hasratnya terhadap Nisha. Walaupun saat ini mereka sudah menjadi pasangan yang resmi untuk semuanya, namun Ray memahami akan perasaan istrinya.
"Ta pi, kenapa mas masih seperti ini?"
"Hahaha, kamu benar-benar menggemaskan baby." Ray langsung mencuri ciuman hangat pada bibir mungil tersebut dengan cepat, lalu ia beranjak dari sana dan keluar dari kamarnya.
"Mas Ray!!!" Nisha sudah begitu kesal dengan apa yang barusan Ray lakukan padanya.
Dibalik kebahagian dua insan manusia tersebut, ada seseorang yang sedang melupakan amarahnya pada setiap benda disekitarnya.
Brakh!
Prangh!
Prayr!
"Tidak! Ini tidak mungkin, kau hanya milikku Nisha! Kau hanya milikku!" Vansh, ia mengetahui jika Nisha menikah dengan lawannya.
"Ray Tamoez! Kau benar-benar membuatku marah, jika aku tidak bisa memiliki Nisha. Maka tidak ada siapapun juga yang mendapatkannya!" Vansh berteriak dengan begitu kerasnya, pria yang kini telah berubah karena penolakan dari wanita yang ia sukai.
__ADS_1
Meratapi kekecewaan yang ia alami, Vansh menatap foto Nisha yang ia miliki. Sejak dulu ia menyukai wanita itu, namun perbedaan yang mereka sadari menyebabkan mereka tersiksa. Disaat dipertemukan kembali, memperjuangkan dengan segala yang ia miliki. Bahkan ia harus bertengkar hebat dengan kedua orangtuanya, akan tetapi semuanya menjadi sia-sia.
"Apa salahku, Nish? Kamu dengan tega membuatku diriku menjadi seperti ini, apa gunanya aku berjuang selama ini!! Nisha, Nisha." Tubuh itu tergeletak begitu saja di atas tempat tidur dan terus berceloteh hingga membawanya ke alam mimpi.