
Beberapa bulan berlalu semenjak Ray dan Nisha mengetahui kemampuan yang dimiliki oleh kedua anaknya tersebut, ada rawa was-was dari dalam diri Ray terhadap kemampuan yang dimiliki si kembar. Ia mengkhawatirkan kedua buah hatinya itu ikut terjun dalam dunia kelam yang ia jalani, berharap semuanya akan berakhir namun nyatanya ia harus dihadapkan dengan jalan seperti ini.
"Mom, ini." Nathan menyerahkan sebuah buku kecil, yang dimana buku itu terlihat seperti buku tabungan.
"Apa ini bang?" Nisha merasa kaget dengan sikap putranya itu.
"Abang pusing mau dibuat apa semuanya itu mom."
Nisha mengambil buku tersebut dari tangan kecil itu, sungguh kaget bukan main. Pada awalnya raut wajah itu menampakkan kerutan pada keningnya, hal itu bertambah saat Nisha membuka dan melihat apa yang tertera di dalamnya.
"Bang, milik siapa ini?" Begitu kagetnya Nisha melihat nilai angka yang tertera disana.
"Milik abang mom, makanya abang bingung harus dikemanakan semuanya itu. Apa mommy mau menyimpannya? Atau mommy bisa gunakan untuk keperluan adek." Nathan begitu cerewet jika sudah berbicara pada Nisha.
"Tapi bang, ini semuanya hasil darimana nak? Tidak masuk akal jika anak seusia kamu sudah memiliki uang sebanyak ini, bahkan ini hampir menyamai milik daddy sayang." Dikuar dugaan dari apa yang Nisha kira selama ini.
Dimana ia hanya mengira, jika putranya itu hanya sedang bermain-main saja dengan kemampuan yang ia miliki. Bahkan Nisha juga tidak pernah mengira bahwa Nathan akan menghasilkan sebanyak ini.
"Mas, mas Ray!" Nisha memanggil Ray untuk bergabung bersama mereka.
"Mom." Rengek Nathan kepada Nisha agar Ray tidak dilibatkan.
"No bang, daddy berhak tahu akan hal ini. Karena kalian berdua sama-sama mengeluti dunia seperti itu, melihat angka ini saja sudah membuat mommy kram nak."
__ADS_1
Benar saja, dengan usia kehamilan yang sudah memasuki masa persalinan. Apalagi kehamilannya kali ini sangat berbeda, Nisha merasakan perutnya berkontraksi akibat terlalu banyak pikiran. Akan tetapi, ia menyikapinya dengan tenang.
Mengatur perlahan nafasnya, agar rasa sakit itu bisa teratasi. Melihat mommy yang meringis kesakitan, membuat Nathan panik dna merasa sangat bersalah.
"Mom, mommu tidak apa-apakan?"
"Sshh, tidak apa-apa nak. Adikmu hanya terlalu bersemangat mendengar kejutan dari abangnya." Nisha tersenyum dan menyembunyikan rasa sakit yang masih menderanya.
"Maaf mom." Nathan sungguh berubah menjadi seperti anak pada umumnya yang menunduk jika sedang berbuat kesalahan.
Tak tak tak...
Suara langkah itu terdengar jelas semakin mendekat, Ray yang baru saja menuruni anak tangga dan berjalan mendekati Nisha. Ray tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh istri dan putra sulungnya itu, ia menghampiri Nisha dan memberikan kecupan pada puncak kepalanya.
"Sedang membicarakan apa, sayang?" Ray mendaratkan tubuhnya disamping Nisha dan melingkarkan tangannya pada pinggangnya.
"Mas, menurutmu ini bagaimana?"
"Biasa saja sayang, sudah menjadi rahasia umum jika seseorang yang mempunyai pekerjaan seperti Nathan lakukan memiliki angka fantastis seperti ini. Apalagi perusahaan dan bisnis daddy nya sendiri yang ia jadikan uji cobanya tidak perlu khawatir dan kaget sayang."
"Tapi mas, nilainya itu sudah hampir menyamai milik kamu. Aneh nggak sih."
"Tidak ada yang aneh, mommy sayang. Nathan pantas mendapatkannya, karena kemampuan yang dia miliki melebihi kemampuanku dan juga Felix. Wajar saja ia menerima kompensasi atas jasanya itu." Jelas Ray yang secara tidka langsung merasa bangga dengan apa yang telah dilakukan dan dihasilkan putranya.
__ADS_1
Tidak bagi Nisha, ia benar-benar pusing jika harus berdebat lebih lama. Yang ia tahu, bahwa kemampuan yang suaminya miliki merupakan kemampuan tiada bandingannya. Jika suaminya saja yang tiada bandingannya, bagaimana dengan anaknya. Benarkah anaknya itu memiliki kemampuan melebihi daddy nya sendiri, sungguh sangat memusingkan.
"Ya sudah, terserah kalian saja. Pikiran mommy tidak bisa diajak kompromi untuk membahasnya."
Ray tersenyum dan menarik ujung hidung Nisha sebagai tanda ia sungguh menggemaskan, Nathan terdiam dengan jawaban Nisha.
"Sebelum itu, kami harus mengganti semua uang yang sudah uncle kalian keluarkan untuk menyempurnakan kemampuan kalian bang. Kasihan mereka, gajinya habis kalian kuras."Ray mengingatkan Natham untuk mengembalikan uang para orang kepercayaanya yang sudah dihabiskan oleh kedua anaknya.
"Sisanya?"
Nathan melemparkan kembali pertanyaan, karena ia tidak mau terlibat lagi dengan angka-angka itu, walau sebenarnya masih ada buku yang lainnya yang tidak tunjukkan. Satu saja sudah membuat Nisha cemas, apalagi kalau semuanya ia keluarka . Masih ada delapan buku lagi yang Nathan miliki, nilainya pun tidak berbanding jauh dengan yang ia tunjukkan.
Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Ray benar-benar sudah ternodai oleh ulah putranya itu. Bagaimana tidak ternodai, dengan usianya yang masih kecil saja sudah berhasil menjadi seperti ini dan membuat seorang Ray hampir terkalahkan.
"Sisanya abang gunakan untuk sosial saja, masih banyak yang membutuhkan uluran tangan dalam bentuk apapun, nak. Jika masih berlebih, mommy tidak bisa berbicara lagi. Bicarakan pada daddy, karena daddy lebih paham akan hal ini. Mommy mau istirahat, pusing akibat melihat angka yang membuat kepala ini berdenyut." Nisha beranjak dari duduknya.
Melihat Nisha berdiri, membuat Nathan dan Ray ingin membantunya. Namun Nisha menolaknya, agar putranya itu mempunyai waktu untuk berbicara bersama Ray.
Awalnya Ray dan Nathan saling bertatapan satu sama lain, yang kemudian Nathan menyerah untuk tidak berdebat agar mommy nya tidak semakin pusing. Karena berdebat dengan daddy nya hanya akan menguras tenaga dan berakhir tegang.
Prangh!
"Mom!"
__ADS_1
"Sayang!"
Suara pecahan dari vas bunga yang tidak sengaja Nisha sengol, hingga jatuh dan pecah. Tubuh itu tidka kuat untuk menopangnya dan terhempas ke lantai.