
Suasana mansion utama saat ini bisa dibilang cukup hangat, tatkala si kembar sedang libur dari sekolahnya.
"Bang, bisa bantuin mommy?" Nisha menghampiri si sulung yang berada di dalam kamarnya.
"Apa mom? Tapi abang sedang ingin ikut meliburkan diri dari segala hal, bisakah mom?" Nathan yang sengaja menghindar dari Nisha, agar dirinya bisa beraksi dengan benda berlayar datar tersebut.
Tatapan mata Nisha yang terlihat begitu sangat berbeda dari biasa, namun Nathan tidak memperdulikannya saat ini. Yang dimana biasanya ia akan sangat senang jika Nisha memintanya untuk melakukan sesuatu ataupun menemaninya, tapi tidak kali ini.
"Baiklah, maafkan mommy yang sudah mengganggu waktu liburnya. Lanjutkan." Sembari tersenyum, Nisha meninggalkan kamar Nathan dengan berjalan perlahan.
Melihat bayangan tubuh Nisha sudah menghilang dan pintu kamar tersebut tertutup. Nathan memulai aksinya dengan mengeluarkan benda layar datar dari persembunyiannya, mengaktifkannya serta memulai apa yang sudah ia rencanakan.
Meninggalkan si sulung, dengam keadaan perut yang sudah membesar. Nisha memilih untuk banyak menggerakkan tubuhnya, berbeda dari kehamilan pertamanya. Kini Nisha sudah memiliki bekal dalam menghadapi masa kehamilan hingga saatnya melahirkan nanti, langkah kaki itu memasuki kamar Fio.
"Dimana anak itu? Tidak biasanya dia sudah menghilang dari kamarnya saat libur."
Tidak mendapatkan keberadaan Fio didalam kamarnya, Nisha lanjut turun ke lantai bawah. Menggunakan Lif yang dikuatkan Ray untuk dirinya, mengatasnamakan agar dirinya tidak lelah dan lebih efisien.
__ADS_1
"Mery, apa kamu melihat Fio?" Tanya Nisha saat bertemu dengan orang kepercayaan suaminya untuk dirinya.
"Nona muda tadi ikut bersama tuan Bibby, nona. Saya kira sudah mendapatkan izin dari nona." Mery tampak cemas, karena telah melupakan kewajibannya.
"Tidak apa-apa Mer, kirain anak itu kemana. Oh ya, apakah Ray sudah pulang?"
"Belum nona, tuan masih di perusahaan. Apa ada yang nona inginkan?"
"Em, sebenarnya si ada. Tapi itu berhubungan dengan Ray, ya sudah. Kamu bisa lanjut lagi, terima kasih ya." Kembali tersenyum dan berlalu dari hadapan Mery, Nisha melanjutkan langkah kakinya menuju kembali ke kamarnya.
Mery merasakan ada yang berbeda dari sikap Nisha, tapi ia tidak bisa mengungkapkan apa itu. Berharap Nisha dalam keadaan baik-baik saja, lalu ia melanjutkan pekerjaannya.
"Hallo mas, masih lama pulangnya?"
"Ada apa sayang, apa kamu sedang menginginkan sesuatu? Sepertinya tidak ada lagi yang mas kerjakan." Ray memang ingin segera pulang untuk bertemu dengan wanita sang pemilik jiwanya.
"Maaf ya mas, aku ingin sekali makan cheese cake. Tapi..." Nisha tampak ragu untuk mengatakannya.
__ADS_1
"Baiklah, mas akan bawakan untukmu sayang. Tunggu ya, mas akan segera pulang."
"Tunggu!"
"Ada apa sayang?"
"Tapi, cheese cakenya. Maunya mas sendiri yang membuatkannya, apa boleh?"
Suasana hening, Ray tidak menjawab ataupun merespon apa yang dikatakan oleh Nisha. Merasa Ray tidak memberikan respon, Nisha mulai pasrah dengan kemauannya.
"Ya sudah, tidak apa-apa mas. Hati-hati ya dijalannya." Nampak suara Nisha mengandung kekecewaan.
"Mmmhhh hahaha, maafkan mas. Mas benar-benar tidka tahan untuk tertawa. Kamu sungguh menggemaskan, mas akan kabulkan permintaan kamu dan juga anak kita. Tunggu ya, mas segera pulang. Love u mom."
"Kamu benar-benar ya mas, hati-hati dijalannya daddy." Menutup pembicaraan tersebut, wajah Nisha seketika berubah menjadi seperti warna buah tomat masak dari ulah Ray kepadanya.
Entah mengapa, hari ini Nisha merasa sangat ingin menghabiskan waktu bersama keluarganya. Namun semuanya itu tidak dapat ia paksakan, karena setiap orang memiliki kegiatan dan keperluan tersendiri. Dengan tangan yang mengusap perut besarnya, tiba-tiba saja air mata itu mengalir tanpa dikehendaki.
__ADS_1
...Apa yang terjadi pada diriku? Tidak sepertinya aku sangat menginginkan makanan dari tangan mas Ray langsung, apa kamu yang menginginkannya nak? Ah, maafkan mommy yang berubah menjadi sendu seperti ini....