
"Kalian begitu menyebalkan, bagaimana bisa pria itu menikah tanpa mengundangku." Hardik Jackson kepada Heru.
"Itu terjadi secara mendadak, nanti saja ceritanya. Katakan apa yang membuatnya seperti ini?" Heru kembali melihat Nisha yang sudah mendapatkan penanganan dari seorang dokter.
Jackson baru saja menyuntikkan vitamin pada tabung infus tersebut, bagaimana pun ia kesal. Tapi tidak harus membahayakan pasiennya.
"Apa kalian sudah tahu jika dia sedang hamil?" Dengan santainya Jackson membereskan peralatan miliknya ke dalam tas yang ia bawa.
"Hamil?!" Secara bersamaan Heru dan juga pak Muh berteriak.
" Kenapa kalian kompak sekali mejawabnnya, jadi kalian belum mengetahuinya?"
Kembali pak Muh dan Heru mengangguk bersamaan, hal itu membuat Jackson menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Mungkin usia kandungannya masih begitu muda, lebih baik diperiksakan kembali di rumah sakit. Aku bukan spesialis dibidangnya, apa pria batu itu mengetahuinya?"
Lagi dan lagi Heru dan pak Muh menggerakkan bahunya bersamaan, Jackson Menggeleng-gelengkan kepalanya dengan aksi kedua pria dihadapannya itu. Menghela nafas panjangnya, situasi yang sangat mengesalkan.
"Jangan-jangan, wanita ini dan juga manusia batu itu juga belum mengetahuinya?!" Jackson menatap keduanya untuk mendapatkan jawaban.
Untuk kesekian kalinya, Heru dan pak Muh menganggukkan kepala secara bersamaan. Karena sudah kesal tidak tertahankan, Jackson dengan kasarnya menendang tulang kering Heru.
Dugh!
"Argh! Bang***t kau! Ini sakit." Cela Heru dengan mengelus kakinya yang terasa begitu sakit.
Melihat Heru yang meringis kesakitan, membuat pak Muh mundur beberapa langkah kebelakang. Tatapan dari mata Jackson berhasil membuat kedua pria itu harus bersiap dengan serangan pertanyaan dari dirinya.
"Pak Muh, buatkan makanan untuk dia." Jackson menyuruh pak Muh untuk memberikan waktu untuk dirinya berbicara pada Heru.
Kepergian pak Muh membuat Jackson semakin ingin melahap Heru dengan caranya sendiri.
"Baiklah baiklah, biarkan aku untuk duduk dulu."
"Cepat! Banyak alasan saja."
Heru melihat Nisha sejenak, wanita itu masih terlelap dalam kelelahannya. Heru mengajak Jackson untuk duduk pada sofa yang tidak jauh dari sana, sambil mengelus-elus kakinya yang masih terasa sakit.
__ADS_1
"Pernikahan mereka terbilang sangat mendadak, Ray bertemu dengannya saat sedang bertemu kliennya disalahkan satu Cafe. Dia adalah pelayanan disana, Ray dengan segala upayanya berusaha untuk meluluskan hati wanita itu. Entah keberuntungan atau memang sudah berjodoh, Nisha menggodanya untuk menikah pada hari itu juga. Dan kau mengetahui sendiri siapa Ray, tanpa mengulur waktu ia pun mengatakan 'iya'. Ya begitulah, mereka menikah namun belum mencintai satu sama lain. Seiring berjalannya waktu, akhirnya cinta itu tumbuh."
"Terus." Jackson tidak sabar untuk mendengar kelanjutannya.
"Ya kau sendiri sudah tahu, Nisha sekarang hamil." Tegas Heru.
Dugh!
"Ya! Kau hobi sekali menendangku!" Lagi-lagi kaki Heru menjadi sasarannya.
"Maksudku bukan itu, kampr***t. Ray dimana sekarang?" Nada tinggi dari Jackson membuat Heru berdengus kesal.
Jika bukan dokter dan sahabat, sudah habis kau!
Umpat Heru didalam hati atas sikap Jackason padanya.
"Cepat!"
"Iya bajing**n. Ray sudah berminggu-minggu berada di negara seberang, perusahaan disana sedang mendapatkan serangan dari musuh lamanya. Bisnis kita di dunia bawah juga mengalami hal yang sama, Black. Dia sudah menampakkan diri, namun masih begitu licin untuk kita ringkus. Saat ini Ray sedang memulihkan dirinya dari tembakan yang mengenai tubuhnya dan sedikit mengalami penurunan kesadaran, makanya seluruh akses komunikasi dirinya dari Nisha kami tutup. Bibby memberikan kabar padaku dua hari kemarin, jika saat ini Ray sudah sadar dan beberapa hari lagi akan kembali."
"Ray sebagai pemimpin dari Dark Kill, tidak ingin
Mereka berdua asik dengan berbalasan tendangan satu sama lain, sehingga tidak menyadari jika ada seseorang yang sudah membuka matanya dan mendengar seluruh percakapan diantara mereka.
.
.
Keesokan harinya, keadaan Nisha sudah membaik. Heru mengikuti saran dari Jackson untuk membawa Nisha ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut, tidak ada yang nampak mencurigakan.
"Ayo Nish, Jackson sudah mengatur jadwalnya untukmu." Saat berada dirumah sakit, Heru segera membawa Nisha untuk menemui dokter.
Berjalan bersamaan menuju ruangan tersebut, Nisha bersikap tenang dan menuruti semua apa yang Heru katakan padanya.
"Hai Nish, gimana keadaanmu?" Sapa Jackson saat kedua sudah tiba diruangannya.
"Baik tuan." Dengan memberikan senyuman, Nisha sangat ramah.
__ADS_1
"Jackson, cukup panggil nama saja. Aku akan habis jika suamimu mengetahui kau memanggilku dengan sebutan itu."
"Ah, maaf. Aku terbiasa seperti itu kepada orang yang baru saja aku kenal."
"Oke, tapi untuk kedepannya cukup nama saja ya. Her, kita langsung saja keruangan Obgyn."
"Jadi, bukan kau yang memeriksakan? Heh, dasar dokter abal-abal." Dengus Heru yang nampak kesal.
" Kau kira aku ini dokter abal-abal, hah! Jika itu terbukti, sudah lama kau suntik radiasi saja dari dulu, dasar mulut sampah. Sudah Nish, tinggalkan saja pria menyebalkan ini." Jackson menarik tangan Nisha untuk seger mengikutinya.
Nisha hanya tersenyum geli melihat tingkah laku kedua pria itu, jika ia bisa mengungkapkan isi hatinya. Ia akan mengatakan jika kedua sama-sama pria yang menyebalkan, tapi tidak cocok dengan wajah.
Mulut Heru terus menggerutu atas ucapan Jackson padanya, kini mereka telah tiba di depan ruangan obgyn. Jackson langsung saja membuka pintu ruangan tersebut, dan masuk tanpa rasa malu dengan beberapa pasien yang sedang antri menunggu.
"Hai Ra, cepat kau periksa dia."
Sorot mata orang yang disebut Jackson itu menatapnya dengan sangat tajam, bahkan ia menggerutkan keningnya.
"Jackson! Kau benar-benar dokter tidak tahu etika, lihat pasienku masih banyak yang menunggu. Seenaknya kau main masuk dan menyuruhku memeriksa, dasar pria bang***t!" Hardik Zahra, seorang dokter kandungan dan juga merupakan teman dari ketua dari kelompok Dark Kill.
"Sudah-sudah, lebih cepat kau memeriksanya. Maka cepat pula pasienmu masuk." Dengan tenang Jackson menjawabnya semua.
"Kenapa aku harus memeriksa dia? kalian benar-benar membuatku darah tinggi, Heru jelaskan padaku." Zahra sengaja menanyakan kepada Heru, jika bertanya pada Jackson. Yang ada hanyalah sia-sia saja.
Begitu tenang dan asik dalam menyaksikan aksi dari dua dokter yang membuat dirinya terhibur, Heru menggelengkan kepalanya.
"Jelaskan apa?" Heru pun mengikuti permainan keduanya.
Kedua sorot mata Zahra dan Jackson begitu tajam kepada Heru.
"Baiklah, Perkenalkan dia adalah Nisha. Istri dari Ray. "
"What! Dia istri Ray? Bagaimana bisa?" Benar-benar kaget dengan apa yang dikatakan Heru.
"Ya bisalah, sudah periksa sana. Nish, ayo. Jangan didengerin ni perempuan cerewet." Jackson kembali berulah.
Kepala Zahra terasa sakit dengan kejadian saat ini, baginya ini adalah hal yang bisa memicunya untuk terkena serangan jantung.
__ADS_1
"Sus, bantu nona ini untuk kesana."
Memberikan perintah kepada seorang bidan untuk membantu Nisha menuju tempat pemeriksaan. Sedangkan kedua pria itu tidak boleh melihatnya.