
Suara kegaduhan terjadi diruang utama mansion utama, dimana si kembar yang tepatnya adalah Fiona sedang berdebat dengan aunty Jihan.
"Ayolah Fio, aunty benar-benar lelah. Nanti saja ya kita perginya, tunggu uncle Heru datang." Keluh Jihan sembari menarik nafasnya yang terlihat begitu lelah.
"Aunty nggak seru gih, ya sudah biar Fio saja yang pergi dan meminta uncle Bib untuk menemani." Wajah anak kecil itu begitu menggemaskan dengan bibir ya g bertekuk.
Menghela nafas panjangnya, Jihan tidak bisa lagi menahan gadis kecil itu jika kemauannya tidak segera dipenuhi. Memijat kepala yang sudah berdenyut sangat hebat yang di akibatkan oleh ulah Fio, kini ia menghubungi Heru untuk segera menyusulnya.
"Hallo sayang, sudah sampai?" Tanya Heru.
"Sudah, tapi keponakan kita sedang kembali membuat ulah. Aku sudah tidak bisa menghadapinya, kapan kamu sampainya?"
"Ini sudah …didepan pintu, hahaha." Heru mematikan pembicaraan mereka dan memasuki ruang utama yang langsung memperlihatkan Jihan disana.
Jihan mencium punggung tangan Heru dan kembali mendaratkan tubuhnya pada kursi yang ia duduki, Heru mengelus puncak kepala Jiham dengan perlahan. Kini mereka berdua tidak lagi canggung ataupun malu-malu atas hubungannya, karena Heru sudah mengesahkan status mereka menjadi sepasang suami istri.
"Ada apa sayang?" Heru melihat ada sesuatu yang membuat wajah Jihan sedikit berbeda.
"Huh, Fio. Anak itu masih tetap ingin pergi, aku benar-benar lelah menghadapinya. Lihatlah, dia sedang membujuk Bibby untuk menemaninya." Menunjuk ke arah orang yang sedang mereka bicarakan.
__ADS_1
Benar adanya, Fio sedang menelfon dengan suara yang cukup manja dan ingin segera dipenuhi kemauannya. Heru tersenyum melihat hal itu, ia berjalan mendekati gadis kecil itu dan mengambil alih telfon yang ia gunakan lalu menutupnya.
" Uncle!" Teriaknya Fio yang merasa kesal.
Membawa tubuh kecil itu melayang di udara dna berakhir dalam gendongan sangat uncle, Heru membawanya untuk duduk bersama.
" Memangnya Fio mau kemana? Kenapa tidak mau bersama aunty Jihan?" Mentoel hidung mancung dengan ujung jari telunjuknya.
Dengan tangan yang bersilang didepan tubuhnya, gadis kecil itu memanyunkan bibirnya saat memandangi Jihan.
"Fio, bukannya aunty tidak mau menemani kamu pergi. Tapi kita belum izin dengan mommy, nanti itu akan membuatnya menjadi cemas." Akhirnya Jihan membuka suara sebab mengapa menolak kemauan Fio.
Tangan kecil itu mendarat di keningnya, seakan ia melupakan sesuatu. Lalu ia tersenyum memandangi Heru dan Jihan secara bergantian.
Deru suara mesin mobil yang khas terdengar, Ray kini memasuki mansion dengan begitu cepat. Namun langkah itu terhenti saat melihat putri kecilnya sedang bersama Heru dan juga Nisha, menghampiri mereka dan memberikan kecupan hangat pada kening sang putri.
" Sudah pulang sayang, mana abang?" Tanya Ray yang tidak mendapati keberadaan putranya disana.
"Abang di dalam kamar dad, dad. Mommy mana? Fio belum bertemu dari awal pulang sekolah tadi, apa daddy tahu dimana mommy?" Wajah polos itu memegang kedua sisi wajah Ray.
__ADS_1
Mata tajam Ray menatap wajah Heru maupun Jihan, mengharap keduanya menjawab apa yang sedang ia pertanyakan. Namun keduanya juga tidak mengetahui apa-apa, sibuk membujuk gadis kecil yang sedang merajuk.
"Dad!" Suara teriakan Nathan dari lantai atas membuat semuanya kaget dan melihat ke arahnya.
Seakan merasakan sesuatu yang tidak beres, Ray melangkah dengan sangat cepat seperti berlari menuju lantai atas. Begitu juga dengan yang lainnya, mereka ikut menyusul langkah panjang itu.
"Ada apa bang!" Tanya Ray yang sangat khawatir.
"Badan mommy sangat panas dad, cepat!" Nathan menarik tangan kekar itu memasuki kamar mereka.
Betapa kagetnua Ray sangat melihat wajah Nisha yang begitu pucat, bulir-bulir penuh memenuhi wajah dan tubuhnya. Telapak tangan menempel pada keningnya tersebut, panas!
"Sayang, sayang bangunlah." Perlaham Ray mengusap wajah pucat itu.
Berjalan mendekati, Jihan memeriksa tubuh Nisha. Dengan suhu tubuh yang begitu tinggi, mengecek denyut nadi dari tangan dan juga bagian belakang telinganya. Jihan membuka kedua kelopak mata yang tertutup itu, seketika reaksi wajah itu berubah.
"Panggil Jackson kemari, segera. Nisha tidak sadar!" Ucap Jihan setengah berteriak.
Hal itu membuat Ray kaget dan terdiam, menatap Nisha yang memejamkan matanya tanpa adanya respon apapun saat disentuh. Kedua tangan itu mengusap wajah yang benar-benar tidak ada respon apapun.
__ADS_1
"Mommy!" Kedua anak kembar itu juga menjadi panik saat Jihan mengatakan kalau Nisha dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Menghubungi Jackson dan meminta datang secepat mungkin, mengusap wajahnya dengan kasar. Ray sudah merasakan keadaan Nisha tidak baik-baik sebelum berangkat keperusahaan, namun wanita itu mengatakan dirinya dalam keadaan baik dan menyakinkan semuanya agar tidak mengkhawatirkan dirinya. Namun kini, semuanya tidak panik melainkan hampir tidak bisa bernafas lagi mendapati keadaanya seperti ini.