
Flashback on...
Ray yang sebelumnya sangat begitu tertarik dengan sikap Nisha yang merona, saat sedang ia godaan. Disaat Nisha kabur dan masuk ke dalam kamar mandi, Ray bermaksud untuk meneruskan kejahilannya dengan menunggu Nisha di depan pintu kamar mandi. Akan tetapi, disaat bersamaan ponselnya bergetar dan Ray melihat nama dari orang yang menghubunginya melalui panggilan Video call. Dengan cepat ia berjalan meninggalkan kamarnya menuju ruang kerja miliknya.
"Ada apa?" Ucap Ray saat menerima panggilan telfon tersebut.
"Hay sayang, sudah lama tidak mendengar suara sexy milikmu. Aku dengar, kau saat ini telah menikah."
"Tidak ada hubungannya denganmu, katakan terus terang maksudmu menghubungiku kembali." Perkataan Ray begitu tegas didengar.
"Ayolah Ray, aku tahu kalau kamu masih sangat mencintaiku. Dan aku tidak akan tergantikan oleh siapapun, benarkan." Dengan penuh percaya diri yang besar, orang tersebut mengatakan tentang mengenai hubungannya dengan Ray.
"Kau!" Ray bergetar saat mendengar ucapan orang itu.
"Aku akan menunggumu disini, jika kau tidak datang. Kau akan tahu sendiri yang akan aku lakukan, Ray."
Perempuan tersebut berasal dari masa lalu Ray, berkecimpung dalam dunia yang sama. Yaitu dunia bawah, selalu bertemu membuat mereka menjadi lebih akrab dan begitu sangat dekat. Banyak yang mengira jika mereka berdua adalah sepasang kekasih, namun tidak untuk kenyataannya.
Kini pikiran Ray sangat goyang, bagaimana pun juga ia merasa masih harus membalas semua bantuan yang telah Perempuan itu berikan padanya. Namun, disisi lainnya ia tidak mau mengecewakan wanita yang sudah menjadi pemilik jiwanya, Nisha.
"Baiklah Queen, aku akan menemuimu. Apa yang kau inginkan?"
"Hahaha, Ray sayang. Kau masih seperti yang dulu, selalu mengerti dan memahamiku. Aku tidak membutuhkan apa-apa selain dirimu, oke sayang. Aku merindukanmu Ray."
"Emm, tunggu saja disana."
"Baiklah sayang, bagaimana dengan istrimu? Akankah dia curiga dengan kepergianmu ini hanya untuk menemuiku disini, Ray? Tapi, aku rasa kau tidak memperdulikannya dan lebih memilihku. Benarkan?" Queen merasa jika dirinya lebih menarik perhatian Ray daripada Nisha, istri sahnya Ray.
"Hem." Ray segera memutuskan pembicaraan mereka, yang tanpa disadari olehnya jika seseorang telah mendengar percakapan tersebut yang tidak lain adalah Nisha.
Flashback off...
__ADS_1
Kehadiran kembalinya seorang Queen dalam dunia bawah, membuat seluruh anggota kelompok Dark Kill menjadi gempar. Orang yang begitu panik adalah Heru, karena baginya Nisha sudah menjadi bagian dari keluarganya yang menjadi tanggung jawabnya.
Kedatangan Ray di negara seberang, membuat Bibby dan yang lainnya kaget.
"Selamat datang tuan." Mereka menyambut kehadiran Ray disana, yang terkesan mendadak.
"Hem, atur pertemuanku dengan Queen. Awasi pergerakannya dan berikan pengamanan untuk istriku." Ray berlalu menuju kamar pribadinya yang berada di markas.
"Baik tuan." Setelah menghantarkan Ray untuk beristirahat, Bibbi segera menunaikan tugasnya.
Menghubungi Heru dan juga Felix, mereka membahas langkah-langkah apa yang akan mereka ambil untuk menghadapi Perempuan yang sangat meresahkan itu.
"Bagaimana menurut kalian, aku sudah muak dengan perempuan tidak waras itu. Kenapa harus kembali lagi, menambah pekerjaan saja." Bibby mengawali pembahasan mereka melalui layar datar.
"Untuk menyingkirkannya bahkan melenyapkannya juga sangat membutuhkan waktu, siapkan saja misi rahasia untuk menjaga situasi yang tidak kita inginkan. Nona bagaimana?" Felix pun merasa resah.
"Bukannya Nisha akan aman jika berada di mansion, kita berikan pengamanan ekstra saja." Heru mengusulkan hal tersebut.
Mereka pun menyelesaikan pembahasan mengenai hal tersebut dan mulai fokus dengan tugas yang sudah menunggu.
Waktu pun beranjak gelap, Ray merasa istirahatnya sudah cukup untuk memulai rencana yang telah ia susun dengan begitu baik. Sebelum memulainya, ia menghubungi istrinya yang belum sempat ia berikan kabar akan dirinya.
"Kenapa tidak di angkat?" Ray mengkerutkan keningnya.
Mencobanya dengan berulang-ulang kali, namun hasilnya tetap sama tidak terhubung bahkan nomor yang tidak aktif. Lalu Ray menghubungi pelayan mansion.
"Hallo..."
"Dimana istriku? Kenapa ponselnya tidak aktif?" Ray langsung menyela perkataan dari sang pelayan.
"Eh tuan, Nona Nisha minta dihantarkan untuk menginap bersama nenek Soraya tuan." Pelayan tersebut kaget, mengetahui jika Ray yang menelfon.
__ADS_1
Tut tut tut....
Ray memutuskan pembicaraan, lalu ia mencoba menelfon pelayan dari rumah yang ditempati Heru dan juga Soraya. Tidak ada yang mengangkat, hingga pada akhirnya ia menghubungi Heru.
"Hubungi rumahmu dan nenek, pastikan istriku dalam keadaan baik-baik saja dan tidak terjadi apapun."
"Ba...." Heru baru saja hendak menjawab ucapan Ray, namun telah terputus.
"Dasar pria tidak tahu sopan santun, jika bukan tuanku dan juga suami dari Nisha. Sudah lama akan aku keplak kepalanya itu, tenang saja. Nisha akan aman bersama nenek." Mengetahui jika Nisha pergi kerumahnya untuk bersama sang nenek, namun Heru belum mengetahui jika Nisha dihantarkan kerumah mereka yang lama.
Meneruskan pekerjaannya dan melalaikan mengenai keberadaan Nisha, dan Ray kini sedang menghadapi Perempuan yang begitu membuatnya pusing.
"Ray! Ah, aku begitu rindu padamu." Queen yang baru saja tiba di markas milik Ray, ia segera menghampiri sang leader yang sedang duduk menikmati secangkir minuman hangat.
Bergelayut manja pada lengan Ray, Queen seperti melupakan jarak diantara mereka berdua. Menggunakan pakaian yang begitu minim bahkan bisa dikatakan sangat tidak pantas saat itu, Ray menahan agar dirinya tidak terpancing dengan sikap Queen padanya.
"Jaga sikapmu, Queen!" Suara berat Ray begitu tegas kepada Queen.
Merasa kaget dengan sikap Ray yang begitu kontras berbeda dari yang dulu ia terima, Queen menenangkan pikirannya agar biasa terlihat seperti biasanya.
"Ah, kau ini. Aku hanya meluapkan rindu ini Ray, sudah cukup lama kit tidak bertemu. Oh iya, selamat atas pernikahanmu." Queen mencoba membelai wajah Ray dan memberikan kecupan hangat pada salah satu pipi Ray, dan Ray pun tidak menolaknya. Karena bagi Ray, hal itu masih bisa ia maklumi.
"Apa tujuanmu kembali? Sudah aku peringatkan untuk tidak memperlihatkan lagi wajahmu dihadapanku!" Ray kali ini menepis tangan Queen dan mendorong tubuh perempuan itu untuk menyingkir dari sisinya.
"Akh!" Queen terhuyung akibat dari dorongan Ray.
"Ray! Sudah aku katakan jika aku merindukanmu, apa salah jika aku seperti ini?" Queen membenarkan posisinya untuk tetap berada disisi Ray.
Memandangi gelas yang berisikan minuman beralkohol, Ray menaikan salah satu alis matanya.
Prang!
__ADS_1
Gelas tersebut menghantam dinding dan hancur, Ray melemparkan gelas tersebut dengan wajah yang begitu menahan amarah.