
Seorang pria dengan tenang duduk pada salah satu tempat yang berada pada sudut ruangan dari Cafe tersebut, disaat akhir pekan akan selalu ramai dikunjungi oleh berbagai pengunjung.
Satria dan juga yang lainnya sudah disibukkan dengan tugas mereka sendiri, begitu juga dengan Nisha. Membawa pesanan dari seorang pengunjung yang berada di sudut ruangan, dengan sangat berhati-hati ia membawanya.
"Permisi tuan, ini pesanan anda. Satu Coffee latte dan juga snack ringannya, silahkan dinikmati." Sapa Nisha dengan sangat ramah.
Pria itu hanya menganggukkan kepalanya dengan ucapan dari Nisha, Nisha pun kembali pada tugasnya. Namun pria tersebut terus memperhatikan dirinya dari balik kacamata hitam yang ia kenakan, hal itu ia gunakan agar tidak menarik perhatian banyak orang.
"Nish, ini pesanan untuk ruang satu. Nanti yang VIP biar gue aja yang bawa." Ujar Devi memberikan nampan yang berisikan pesanan dari tamu disana.
"Oke, lanjut." Nisha membawa nampan tersebut menuju sang customer.
Saat ia melewati lorong keluar dari dapur, melewati pelangan sebelumnya. Namun tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang membekap mulut Nisha pada saat dirinya melewati pintu kaca yang mengarah pada ruang satu, nampan yang ia bawa terhempas begitu saja ke lantai dan berserakan. Tubuhnya dibawa begitu saja oleh orang tersebut untuk keluar dari Cafe tersebut, akan tetapi disaat mereka baru saja akan menuju mobil yang akan digunakan. Tubuh orang membawa Nisha tertahan, pria berkaca hitam yang merupakan pelanggan dari Cafe telah menarik bahu orang tersebut dan melepaskan Nisha darinya.
"Hei, apa yang kau lakukan hah! Jangan ikut campur." Pria itu adalah Vansh, ia membuka penutup mukanya dihadapan Nisha.
"Kak Vansh!" Nisha sangat kaget dengan apa yang ia lihat.
"Kamu mengenalnya?"Tanya pria berkaca mata hitam pada Nisha.
Anggukan kepala Nisha sebagai jawabannya, mendapatkan Nisha yang merespon ucapannya. Vansh kembali menarik tangan Nisha dan membawanya untuk mengikuti dirinya masuk ke dalam mobil, namun Nisha terus memberontak dengan apa yang dilakukan oleh Vansh padanya.
"Lepas kak, ini sakit." Nisha berusaha melepaskan tangannya Vansh dari tangannya, namun Vansh tidak meperdulikannya.
"Jangan memberontak Nisha! Kali ini kau tidak akan aku lepaskan lagi." Vansh membentak Nisha dengan keras, bahkan ia mengancamnya dengan menggunakan sebuah pisau kecil yang dibawanya.
Melihat senjata tersebut, nyali Nisha langsung menciut. Ia terdiam dan itu sangat menguntungkan untuk Vansh, tangan itu ingin menyentuh wajah mungil yang sudah berubah menjadi pucat.
Plak!
__ADS_1
Tangan Vansh di tepis oleh pria berkaca mata hitam itu, ia masih berada disana dan menyaksikan kejadian tersebut.
"Jangan berbuat kasar pada wanita." Ucapnya setelah menepis tangan Vansh.
"Diam kau! Jangan ikut campur, pergi sana. Ayo Nish kita pergi dari sini."
"Tapi kak,.."
Brakh!
Tubuh Vansh terpental beberapa langkah ke arah belakang, hal itu karena terkena pria berkacamata itu menendangnya.
"Kamu masuk saja, dia sepertinya tidak berniat baik padamu nona." Ujar pria tersebut meminta Nisha untuk lari dari sana.
Nisha pun menuruti perintah dari pria tersebut, namun baru saja ia hendak melangkahkan kaki untuk pergi. Vansh sudah menarik tangannya kembali, bahkan kini pisau tersebut sudah berada didepan leher Nisha sebagai ancaman darinya.
"Jangan bergerak Nisha, atau pisau ini akan melukaimu!" Ancam Vansh dengan tegas.
Bugh!
Bugh!
Tubuh Nisha bergeser dan berpindah tempat, dirinya belum berani untuk membuka matanya. Terdengar suara perkelahian yang begitu sangat menegangkan, perlahan Nisha membuka matanya dan ia sudah berada di ujung lorong. Pria berkacamata itu menyerang Vansh tanpa memberikannya kesempatan untuk membalas, hingga akhirnya Vansh terkulai lemas tergeletak di bawah.
"Jika wanita itu tidak menyukaimu, maka pergi dan menjauhlah dari hidupnya. Memalukan sekali, memaksa orang lain untuk menyukai dirimu." Dengan berjongkok, pria itu menepuk-nepuk bahu Vansh dan menjauhinya.
"Breng***k kau! Jangan mencampuri urusanku! Nisha! Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu! Nisha!" Vansh berteriak seperti orang yang sangat frustasi.
Meninggalkan tempat tersebut, Pria itu membawa Nisha kembali menuju Cafe.
__ADS_1
"Kau terluka, mungkin ini bisa membantu." Sebuah saputangan berwarna hitam diberikan pria itu kepada Nisha.
"Ah iya, terima kasih tuan. Terima kasih juga sudah menyelamatkan saya." Nisha menutupi luka pada lehernya dengan menggunakan saputangan tersebut.
"Tidak perlu berterima kasih, sudah sepatutnya aku membantumu. Lebih baik kau pulang lebih awal, tubuhmu masih sangat bergetar."
"I iya tuan, sekali lagi terima kasih untuk semuanya. Suatu hari nanti, saya pasti akan membalas semua bantuan anda ini." Nisha sedikit menundukkan kepalanya sebagai tanda ia menghormati pria tersebut.
"Baiklah, aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik. " Pria tersebut menghantarkan Nisha hanya sampai pada pintu utama untuk masuk ke dalam Cafe tersebut.
Nisha kembali masuk ke dalam Cafe, disana sudah terlihat Erwin sang manager yang sangat kebingungan tidak mendapati dirinya.
"Nisha!" Teriak Erwin saat melihat dirinya.
Berjalan mendekati mereka semua, Nisha menundukkan kepalanya.
"Maaf pak, ta tadi..."
"Kamu tidak apa-apa, Nish? Ah, kali ini aku yang harus meminta maaf padamu. Aku kecolongan lagi dengan Vansh, maaf. Aku terlambat untuk bertindak, CCTV yang menjelaskannya Nish. Oh iya, lihat ponselmu. Tuan Ray menghubungimu berulang kali, katakan saja yang sebenarnya." Erwin meminta Devi untuk menemani Nisha.
Dengan kejadian tersebut, Cafe secara mendadak Erwin tutup. Pelangan yang sebelumnya telah berada sebelum kejadian tersebut, diberikan secara cuma-cuma atas pesanan mereka. Beberapa anggota yang Ray perintahkan untuk mendatangi Cafe tersebut, kini telah tiba dan menjaga secara ketat Cafe tersebut dan terutama keselamatan nona mereka.
"Nish, kamu nggak papa? Lukanya di obatin dulu ya." Devi melihat luka pad lehernya Nisha menjadi merinding.
"Ini hanya luka kecil Dev, nanti juga sembuh sendiri." Nisha tidak ingin membuat sahabatnya khawatir.
"Tapi Nish, nanti tuan Ray akan marah. Peristiwa ini saja sudah membuatnya sangat marah, bahkan dia saat ini dalam perjalanan pulang kemari. Itu cuma buat lu, wah lu tega liat tuan Ray khawatir. Cepetan tu luka di obatin." Devi yang tidak sadar telah memberitahukan kepulangan Ray.
"Apa?! Kamu serius Dev?"
__ADS_1
"Ya iyalah, memangnya gue tukang bohong apa." Devi mengoleskan obat luka pada leher Nisha dan itupun ia meringis menahan rada pedih dari luka tersebut.
Apa benar di sedang dalam perjalanan pulang? Aku rasa itu tidak mungkin, pekerjaannya disana jauh lebih penting daripada hal kecil seperti ini.