Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
32.


__ADS_3

Mengoleskan jell diatas perut rata Nisha, Zahra memulai tugasnya.


"Nona, kamu lihat monitor ya." Zahra mengarahkan Nisha untuk melihat monitor yang berada dihadapannya, dan Heru maupun Jackson juga bisa melihatnya.


Pada layar monitor tersebut, memperlihatkan sebuah lingkaran kecil sebesar kacang hijau. Mereka pun masih terlihat bingung dengan hal tersebut, namun semuanya akan menjadi jelas saat Zahra mengatakannya.


"Ini, lingkaran kecil seperti kacang adalah bakal janin yang sedang berproses, usianya memasuki minggu ke enam..." Zahra banyak menjelaskan semuanya.


Tak terasa, sudut mata Nisha mengeluarkan air. Entah itu sebagai tanda kebahagian atau hanya peralihan pikirannya dari pria yang saat ini ia rindukan, menunggu kabar yang tidak pasti akan kedatangannya.


"Baiklah, silahkan nona. Saya akan menjelaskannya, sus tolong dibantu nonanya."


"Baik dok." Nisha kembali membereskan dirinya dan duduk kembali dihadapan Zahra.


"Baiklah, saya akan menjelaskan semuanya kepada nona larangan dan yang dianjurkan apa saja untuk ibu hamil."


Sebelum Zahra melanjutkan perkataannya, Nisha menyelanya terlebih dahulu.


"Maaf dok, ada yang mau saya tanyakan.Tapi ini bersifat pribadi."


Kening Zahra dna kedua pria yang bersama mereka juga nampak berkerut, namun Zahra dapat melihat dari tatapan mata itu menjelaskan ada sesuatu.


"Hem baiklah nona, Hei kalian mendengarnya kan. Tunggu diluar, dasar pria tidak peka terhadap wanita kalian ini." Tegas Zahra kepada kedua pria yang menjengkelkan itu.


"Hei, kenapa kami harus keluar? Bicara saja, kami nanti akan berpura-pura tidak mendengar." Jackson mengumpat Zahra yang secara halus mengusir mereka dari dalam sana.


"Hais, kalian ini. Nona ini mau bertanya masalah kewanitaan, cepat sana keluar." Mata dan mulut Zahra sudah berkomat-kamit mengusir keduanya.


Heru menatap Nisha, mengharap mendapatkan penjelasan mengenai hal tersebut.


"Sebentar saja kak, aku hanya ingin menanyakan masalah yang sedang aku hadapi seputar kewanitaan saja." Senyum Nisha berikan kepada Heru agar dia percaya.


Menarik nafasnya yang berat, Heru menarik tangan Jackson untuk ikut dengannya. Memberontak, itulah yang Jackson lakukan, namun Heru menatapnya dengan tajam dan membuat Heru berdengus kesal. Begitu juga dengan suster yang berada disana, Nisha meliriknya dan langsung mendapat kepekaan dari Zahra. Berpura-pura memberikannya tugas untuk mengecek beberapa obat yang dibutuhkan.


"Katakan, apa yang membuatmu seperti ini Nisha. Memanggil namamu membuatku lebih akrab." Zahra yang habis mengunci pintu ruangannya.


"Terima kasih sebelumnya, ehm. Apa benar kalian adalah teman ataupun sahabat?"


"Maksudmu? Aku dan mereka semua?" Zahra menunjuk ke arah luar.

__ADS_1


"Iya dok."


Melirik wajah wanita itu dengan teliti, dan benar apa yang Zahra rasakan.


"Kau bermaksud untuk mengetahui sesuatu dari kami? Katakan saja Nish, aku akan membantu menjawabnya jika kau memang menginginkannya."


Deg!


Nisha kaget dengan apa yang diucapkan oleh Zahra barusan kepadanya, bagaimana dia bisa menebak isi kepalanya.


"Apa benar Ray seorang mafia?" Begitu ragu Nisha menanyakan hal tersebut.


"Benar, dia seorang mafia dan pemimpin dari kelompok Dark Kill. Kelompok yang terkenal dengan kekejamannya, tanpa ampun menghabisi setiap lawannya. Kau benar tidak mengetahuinya?"


Menganggukan kepalanya, air mata itu kembali membasahi wajah Nisha. Semua kecurigaan dan juga semua latar belakang Ray yang tidak ia ketahui, terjawab sudah. Jantungnya berdetak cepat, begitu pula nafasnya semakin tidak beraturan.


"Tenang Nish, dugaanmu itu tidak seburuk yang kamu kira. Ray memang seorang mafia, tapi aku yakinkan dirimu jika dia orang baik. Dia akan menghukum orang-orang yang melakukan kesalahan saja, jangan berpikiran buruk padanya." Zahra berusaha menyakinkan Nisha agar tidak berpikiran jauh.


Menghapus jejak air mata di wajahnya, pikiran Nisha saat itu benar-benar kacau. Menampakkan dirinya yang baik-baik saja, membuat Zahra merasa lega. Dia menduga jika Nisha bisa menerima siapa Ray sebenarnya, mereka akhirnya berpamitan untuk segera pulang.


Dalam benak Nisha masih banyak pertanyaan mengenai siapa suaminya sebenarnya, apakah dirinya hanya dijadikan alat dan juga tawanan seumur hidup. Setibanya ia di mansion, saat akan masuk ke dalam. Tiba-tiba Nisha berhenti dan menatap Heru.


"Kak, apakah ada kabar dari mas Ray?"


"Baiklah." Dengan langkah gontai Nisha memasuki kamarnya.


Duduk dipinggiran tempat tidur, tatapan matanya menerawang menembus kaca jendela. Air mata mengalir deras dari sudut matanya, rasa sesak didadanya membuat dirinya semakin merasa buruk.


Kenapa kamu menutupinya mas, bahkan setelah semuanya kamu dapatkan dariku. Kamu menghilang tanpa ada kabar sedikitpun, kini dia hadir didalam perutku mas. Apa ini tujuanmu kepadaku? menjadikan aku sebagai pemuas hasratmu dan tawanan di dalam rumah mewahmu ini, setelah kau puas. Dengan mudahnya kamu membuangku seperti sampah begini, hiks hiks hiks. Kejam kamu mas.


.


.


.


Di negara seberang, Ray merasa dirinya sudah lebih baik. Terkena tembakan yang hampir merenggut nyawanya, membuatnya harus tinggal untuk beberapa waktu disana.


"Tuan." Bibby khawatir melihat Ray yang sudah berdiri dihadapannya.

__ADS_1


Memberikan gerakan tangannya sebagai tanda jika dirinya baik-baik saja, Ray menggunakan pakaiannya dan bergegas keluar dari kamar yang menjadi tempatnya dalam beberapa waktu ini menghabiskan hari-harinya.


"Dimana ponselku?" Ray mencari keberadaan benda pilih itu keseluruh sudut ruangan.


Bibby segera membuka lemari khusus milik Ray dan menunjukkan keberadaan benda tersebut.


"Sial, kenapa harus mati. Ganti ponsel itu, sebelum itu berikan ponselmu. Cepat!" Ketegasan ucapan Ray membuat Bibby berlonjak kaget.


Ponsel itu kini sudah berpindah tangan, menghubungi suatu nomor yang ternyata tidak aktif.


Mencoba nomor kedua, yang harus menunggu juga untuk mendapatkan jawaban. Hingga beberapa saat kemudian, usahanya membuahkan hasil.


"Kenapa bro?" Heru yang menjawab panggilam telfon tersebut langsung menyebut nama temannya.


"Bro bro, cari mati kau hah! Berikan telfonnya kepada istriku!"


"Tuan Ray! Ba baik tuan." Heru mendadak serangan jantung mendengar siapa yang baru saja bicara padanya.


Berlari seperti sedang mengikuti perlombaan, Heru dengan langkah panjangnya menuju mansion dan kamar Nisha.


Tok tok tok...


Klek!


"Kak Heru, ada apa?" Nisha kaget saat melihat Heru dengan nafas yang hampir mirip ikan kekurangan oksigen.


" I ni ini tuan Ray mau bicara." Tangan Heru menyerahkan ponsel itu kepada Nisha dengan tangan yang bergetar.


Mas Ray?!


Begitu ragu Nisha untuk menerimanya, namun rasa rindu itu lebih besar daripada keegoisannya.


"Hallo mas."


" Baby! Ah akhirnya, maaf sayang. Mas akan kembali secepatnya..." Perkataan itu terhenti saat Nisha menyelanya terlebih dahulu.


"Pulanglah jika mas merasa punya tanggung jawab terhadap istri, jika tidak. Lebih baik menghilanglah tanpa ada yang tahu." Klik.


"Ini kak, terima kasih."

__ADS_1


Pintu kamar tertutup, Heru hanya bisa tertegun dengan apa yang baru saja ia saksikan. Selama ini belum ada yang berani menyela ataupun membuat seorang Ray merasa terhina seperti ini dengan ucapan yang begitu tajam, namun kali ini orang tersebut sudah menjadi pawangnya sekaligus.


"Mampus, bakalan ada movie berjudul suami hilang istri tenang. Huh, sudahlah." Heru kembali keluar dari mansion untuk menyiapkan kepulangan tuannya.


__ADS_2