
Setelah dari peristiwa yang terjadi pada waktu itu, hari-hari Nisha pun berubah sedemikian rupa. Setiap pagi harinya, akan selalu ada rangkaian bunga di depan pintu rumah Nisha. Bahkan pekerjaan Nisha kini hanya bisa dibilang hanya berdiri saja, tanpa melakukan pekerjaan apapun.
"Ayolah bang, Nisha seperti makan gaji buta kalau kayak gini. Sini, biar Nisha saja yang mengerjakannya ya." Berusaha merebut sapu yang berada di tangan Satria, Nisha terus merengek.
"Aduh Nis, bisa the end abang hari ini kalau kamu ngerjain pekerjaan abang." Satria terus menghindar agar Nisha tidak mengambil alih pekerjaannya.
Flashback on.
Hari yang begitu melelahkan telah dilewati, walaupun ada sedikit kejadian yang tidak bisa dihindari. Kini semua karyawan Cafe sudah berkumpul untuk mendapatkan beberapa wejangan.
"Semuanya sudah berkumpul, saya akan mengucapkan terima kasih pada kalian semuanya atas kinerja hari ini. Kerja kalian benar-benar memuaskan, akan tetapi. Peristiwa tadi itu benar-benar diluar perkiraan kita semuanya, tidak perlu kita bahas lagi ya." Erwin menghentikan ucapannya saat melihat seseorang yang baru saja hadir disana.
"Ah, tuan Felix sudah tiba. Baiklah semuanya, ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh beliau, silahkan tuan."
Dengan penuh wibawanya, Felix berdiri dihadapan semua karyawan Cafe tersebut.
"Saya Felix, asisten dari Win'R. Saya ingin menyampaikan perintah langsung dari tuan Ray. Mulai besok dan seterusnya, nona Nisha tidak diperbolehkan untuk melakukan pekerjaannya seperti biasa."
Perkataan Felix mengundang tanya dan keheranan dari semua karyawan disana, terutama bagi Satria dan Devi.
"Memangnya kenapa tuan? Bukannya semua orang yang bekerja itu akan melakukan sesuatu untuk dikerjakan, tuan." Salah satu karyawan menanyakan keheranan mereka dan mewakili semuanya karyawan yang lainnya.
Wajah datar dan juga dingin Felix, sepertinya sudah bisa membuat orang lain menduga jika dia adalah orang yang tidak bisa diajak bercanda.
"Jawaban kalian akan didapatkan, jika diantara kalian melanggar perintah tersebut. Erwin, kau bertanggung jawab atas semuanya." Felix segera berlalu dari hadapan mereka semua.
__ADS_1
Terdengar krasak krusuk dari semua karyawan, mereka sepertinya masih bingung dengan teka-teki ucapan dari Felix.
"Pak, pak Erwin. Sebenarnya apa sih yang dikatakan oleh tuan tadi, kami masih bingung." Tanya Satria yang sudah tidak dapat menahan penasarannya.
"Duh Satria, Satria. Ini ni akibat dari kelamaan sendirian, katanya si. Saya juga belum tahu yang jelasnya, Pak Ray pemilik Win'R itu menyukai Nisha. Kalian tahu sendiri kan kalau dia itu orangnya seperti apa, jadi jangan coba-coba cari penyakit dengannya. Bersyukur saja, karena dari itu Cafe kita mendapatkan rekomendasi dan menjadi tempat karyawan Win'R untuk Coffee break dan tentunya gaji kalian juga ikut naik. Ah, terima kasih Nisha."Erwin tersenyum bahagia.
Mendengar penjelasan dari sang manager, membuat semua karyawan kaget namun bahagia. Mendengar jika gaji mereka akan bertambah dan juga mendapatkan hadiah setiap bulannya, hal itu semakin merasa senang. Akan tetapi, tidak untuk Satria dan Devi. Mereka masih sangat penasaran dengan apa yang terjadi.
Flashback off...
Penolakan Satria untuk Nisha, membuat dirinya menjadi heran. Dengan diam-diam, Nisha mengerjakan pekerjaan yang biasa ia lakukan seperti biasanya. Mencuci semua perbendaan yang sudah terpakai oleh para konsumen. Seketika itu juga, terdengar suara sumbang yang sangat menyakiti telinga.
"Ada apa? Kenapa kalian semuanya pada berkumpul disini, bukannya kalian sedang bekerja?" Heran Nisha saat melihat semua temannya berkumpul diruang utama Cafe dalam keadaan kepala menunduk kebawah.
"Sudah aku katakan, kita akan menikah. Jangan coba-coba, menolaknya. Inilah akibatnya, baby." Bisik Ray yang sudah berada disamping Nisha berdiri.
"Akh! A an da." Keterkejutan Nisha berujung manis, saat terkagetkan. Membuat keseimbangan dirinya menghilang dan hampir terjatuh, namun hal itu tidak terjadi.
Tangan kekar itu kembali merangkul pinggang Nisha dan membuat dirinya tidak terjatuh, sehingga pandangan kedua bertemu dan terlihat seperti pasangan kekasih yang saling menyayangi. Mendapati dirinya menjadi perhatian banyak orang, Nisha segera melepaskan diri dari dekapan Ray dan pergi menjauh, terasa sesak didalam dada membuat kedua matanya mengeluarkan air yang tak dapat dibendung lagi.
"Baby, tunggu!" Ray segera mengejar Nisha yang sudah terlebih dahulu pergi.
Mengetahui jika Nisha melakukan pekerjaannya, membuat Ray yang itu saat sedang bertemu dengan salah satu kliennya dan langsung saja ia tinggalkan begitu saja. Menghubungi pihak Cafe dan memberikan hukuman kepada semua karyawan disana, tentunya melalui Felix.
"Mau kemana baby?" Ray telah meraih tangan Nisha yang sudah berada di pinggir jalan raya.
__ADS_1
"Lepas, lepaskan tangan anda tuan." Nisha meronta dengan cukup kuat agar bisa terlepas dari genggaman tangan Ray.
Menikmati setiap gerakan dan sentuhan yang Nisha lakukan pada dirinya, namun Ray semakin mengeratkan genggaman tangannya.
"Anda manusia aneh, lepaskan tangan saya. Saya tidak mau menikah dengan orang aneh seperti anda!" Selain memberontak, Nisha juga berteriak dengan begitu kencang.
Merasa jika dirinya akan sia-sia saja untuk melepaskan diri, tanggis Nisha kembali pecah dan tubuhnya melemah. Ia menjatuhkan dirinya dan menekuk kakinya dengan satu tangan, karena tangan satunya masih dalam genggaman Ray.
"Saya tidak mengenal anda siapa, dengan mudahnya anda mengatakan untuk menikah. Hanya orang tidak waras yang mau menikah dengan saya, sebaiknya anda menjauh dan jangan ikut campur dengan masalah kehidupan saya. Lepas, tangan saja sudah sakit dengan genggaman anda." Dalam keadaan menunduk, Nisha mengucapkan setiap perkataannya.
Perlahan, tangan Nisha terlepas dan langsung memeluk kedua kakinya. Tangisan itu semakin memilukan, dengan terus mendapatkan pengamatan dari seorang Ray yang masih berdiri dihadapannya. Tangan kekar itu menyentuh puncak kepala Nisha an mengelusnya, namun hal itu mendapatkan terpisan dari tangan Nisha tanpa menolehkan wajahnya.
"Pergilah tuan, biarkan saya hidup dengan tenang." Tangan Nisha bergerak berayun seperti menyuruhnya menjauh.
Bukannya mengikuti permintaan dari yang berbicara, Ray bahkan merasa tersebut emosinya dengan sikap Nisha padanya. Kembali ia menarik tangan Nisha dengan cukup kuat, membuat tubuh wanita itu berdiri mengikuti tarikan pada tangannya.
Bugh!
Tubuh keduanya bersatu dalam pelukan, tangan Ray begitu erat memeluk tubuh mungil wanitanya. Menatap tajam kedua bola mata Nisha yang masih basah oleh tanggisannya, tiba-tiba saja Ray melakukan sesuatu yang membuat Nisha begitu kaget dan shock.
Cup...
"Jangan pernah menolak ucapanku, apa yang sudah aku katakan tidak bisa terbantahkan. Aku memang sudah tidak waras akan semua yang kamu miliki, baby. Jadi, aku tidak akan melepasmu untuk selamanya."
Kecupan sekilas diberikan Ray kepada bibir Nisha yang sudah sangat menggoda dirinya, ia tahu akan penolakan yang diberikan Nisha kepadanya. Masa lalu Nisha yang sudah ia selidiki sebelumnya, membuat dirinya semakin yakin jika Nisha adalah miliknya.
__ADS_1