Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
20.


__ADS_3

"Hoam." Nisha menguap dan merenggangkan tubuhnya dari rasa pegal yang menyerang tubuhnya.


Tanpa sengaja, tangannya menyentuh sesuatu yang terasa begitu keras dan juga aneh. Perlahan matanya melirik ke arah benda tersebut, betapa kaget dan paniknya saat matanya menangkap gambaran tubuh seseorang berada disamping tempatnya tertidur.


"Aaakh!" Teriak Nisha yang historis, membuat orang tersebut membetulkan posisinya.


"Baby, ada apa? Apa ada yang sakit?" Ray yang terbangun dari rasa lelahnya yang sempat terpejam untuk menjaga Nisha.


Mendengar sebutkan yang diberikan orang tersebut kepada dirinya, membuat Nisha terhadap akan siapa orang tersebut.


"Tu tuan Ray!" Kagetnya saat melihat dengan sangat jelas wajah tersebut.


Tak!


"Yak! Sa kit." Ringisan Nisha saat keningnya mendapatkan sentilan dari tangan kekar milik Ray.


Nisha menatap tajam kepada Ray, mengelus keningnya yang memerah akibat dari ulah Ray padanya.


"Kenapa, mau marah? Dasar ceroboh." Ray menarik tubuh Nisha ke dalam, pelukannya.


"Eh,..."


"Jangan protes, kau yang sudah membuatku berada disini sayang. Jangan membuatku menjadi khawatir seperti ini, untuk selanjutnya. Dengarkan apa yang aku katakan, berhentilah bekerja." Cup, Ray memberikan kecupan pada kening Nisha yang sudah memerah.


Dia benar-benar pulang, apa ini tidak berlebihan. Nisha begitu kaget dengan kedatangan Ray.


Pelukan itu merenggang, kini mereka berdua saling bertatapan satu sama lainnya. Mata Nisha memandangi wajah Ray yang begitu saya, ada perasaan bersalah dalam dirinya untuk peristiwa ini. Tidak sengaja, sorot mata Nisha menangkap ada warna yang berbeda pada pakaian yang digunakan oleh Ray. Perlahan tangan mungil itu mencoba menyentuh bagian tersebut, namun terhalang oleh tangan kekar yang sudah menahannya.


"I i tu." Nisha menanyakan tangkapan matanya pada Ray.


"Jangan, itu hanya luka kecil. Ayo sarapan, nenek pasti mengkhawatirkanmu." Ray mengalihkan pikiran Nisha, agar tidak fokus pada lukanya.


Menyadari akan luka itu, Ray juga merasakan luka tersebut sudah membuatnya tidak nyaman. Demi bertemu dengan wanita yang sangat ia cintai yang sudah membuatnya khawatir, ia melupakannya.

__ADS_1


"Baiklah." Nisha menyambut tangan Ray, disaat telah berdiri. Nisha merubah posisinya untuk ke belakang Ray.


Kedua telapak tangan menutup mulutnya yang membentuk salah satu huruf vokal.


Plak!


"Akh!" Ray meringis setelah luka itu mendapatkan tepukan hangat dari tangan Nisha.


"Kenapa memukulku, baby."


Tanpa menjawab sepatah katapun, Nisha menarik tangan kekar itu untuk mengikutinya. Walaupun ia sebenarnya tidak mengetahui dimana ia berada saat ini, mendudukkan Ray pada sofa yang berada disana.


"Dimana kotak obatnya?" Nisha berjongkok dihadapan Ray.


"No baby, ini hanya luka kecil. Nanti akan hilang dengan sendirinya." Ray hendak membawa Nisha ke dalam dekapannya, akan tetapi Nisha langsung menarik dirinya untuk sedikit menjauh.


"Aku yang mengobati atau kita pergi ke dokter?" Tatapan Nisha dengan sangat serius.


Bukannya segera menjawabnya, Ray malah tertawa akan sikap Nisha kepada dirinya.


"Akh! Baiklah, baiklah. Kotak obatnya ada di dalam lemari kaca sudut itu, ambil saja."


"Kenapa tidak dari tadi jawabnya, suka sekali membuat orang khawatir." Dengan terus menggerutu, Nisha berjalan untuk mengambil kotak obat yang di inginkan.


Memperhatikan gerakan dari wanitanya, ada kebahagian tersendiri yang Ray rasakan. Ia terus menatap Nisha dalam diam, bahkan disaat Nisha membuka pakaiannya.


" I i ni, lukanya cukup besar dan dalam. Bagaimana kamu bisa bertahan seperti ini?" Pandangan mata Nisha sangat tajam saat melihat luka tersebut.


"Ini hanya luka kecil baby, jangan khawatir. Aku lebih mengkhawatirkan dirimu. " Ray meraup wajah Nisha dengan kedua telapak tangannya.


Tidak ada ucapan apapun yang Nisha ucapkan, rasa bersalah itu semakin besar ia rasakan. Bahkan air mata sudah tidak tertahankan untuk mengalir begitu saja, Nisha semakin merasakan ketulusan yang Ray berikan padanya.


"Baby, kenapa menangis. Sudah aku katakan, ini hanya luka kecil yang akan sembuh dan hilang dengan sendirinya."

__ADS_1


Menuangkan obat luka pada kain kasa steril dan dengan perlahan Nisha mulai mengobati luka tersebut, air mata terus mengalir saat melihat luka itu. Setelah selesai, mengembalikan kotak obat pada tempatnya awalnya.


Hiks hiks hiks...


Mendengar suara isakan tangis, membuat Ray menghampiri Nisha yang sedang menunduk. Kedua tangan kekar itu melingkar pada tubuh Nisha, mengecup puncak kepalanya dengan lembut.


"Jangan menangis, hari ini kau sudah berkali-kali menangis karenaku sayang. Aku tidak ingin melihat air matamu ini mengalir kembali, maafkan aku." Ray mengeratkan pelukan pada tubuh Nisha yang bergetar.


Membalikkan tubuh Nisha dengan perlahan yang pada akhirnya membuat mereka berdua saling bertatapan satu sama lainnya, Ray mengangkat wajah yang tertunduk itu dan menahannya.


"Tidak akan aku biarkan mata indah ini mengeluarkan setetes air pun karena diriku, melihatmu seperti ini membuat hatiku terasa perih dan terluka. Sejak awal melihatmu, jiwa ini sudah menyakinkan jika kau adalah pemiliknya. Walaupun sampai detik ini dirimu masih begitu ragu akan semuanya yang aku berikan, aku akan menunggumu sayang." Cup, Ray memberikan kecupan hangat pada kening Nisha.


Suasana semakin hangat, Nisha mulai menyakinkan dirinya jika Ray begitu tulus mencintainya. Tangan kecil itu ikut melingkar pada tubuh Ray, membalas pelukan yang sebelumnya diberikan.


"Terima kasih, mas." Nisha menenggelamkan wajahnya pada dada Ray yang cukup kekar dan luas.


Deg! Detak jantung Ray bergerak sangat cepat, saat mendapatkan balasan atas pelukannya, bahkan Ray membuka matanya dengan lebar saat mendapatkan sesuatu hal yang tidak ia duga.


"What?! Mas? Baby, bisakah nama itu diganti dengan lainnya. Itu sangat menggelikan di telingaku. Bisa love, Bee, bunny dan lainnya. Kenapa harus 'mas', why?" Ray menarik tubuhnya agar dapat menatap wajah Nisha.


"Memangnya kenapa, ada yang salah dengan kata-katanya?" Kening Nisha berkerut dengan perkataan Ray yang cukup aneh untuknya.


"Tapi baby, itu sangat menggelikan dan tidak romantis. Ayolah sayang." Ray merenggek seperti anak kecil.


Plak!


"Akh, ini sakit sayang." Luka itu mendapatkan perkenalan kembali dari tangan Nisha yang mendarat disana.


"Apa! Mau protes, hah! No no dan no, makan tu prinsip tidak mau di protes. Ya ampun, kenapa sampai lupa." Nisha mendorong tubuh Ray dan ia bergegas mencari pintu keluar dari sana.


Nisha tampak seperti sedang mencari sesuatu, ia berjalan kesana kemari dan itu membuat Ray menaikkan salah satu alisnya. Menatap heran kepada wanitanya itu, jika memerlukan sesuatu ataupun mencari benda lainnya. Ia berharap Nisha akan bertanya kepada dirinya, tapi ini tidak terjadi.


"Kamu mencari apa baby?" Ray mengenakan pakaiannya yang baru.

__ADS_1


"Mas, dimana pintunya?" Tanya Nisha masih melirik kesana kemari untuk mencari pintu untuk ia keluar.


"What, pintu? Ya Tuhan, sayang." Ray menepuk keningnya atas ulah Nisha yang menurutnya menggemaskan ini.


__ADS_2