Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
103.


__ADS_3

"Sayang, kamu tidak marah?" Ray seakan tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh istrinya itu.


Padahal Ray dan juga si kembar benar-benar menanti dengan penuh kecemasan dengan respon yang akan Nisha berikan pada mereka, dan ternyata itu diluar dugaan.


"Marah? Itu akan hanya membuatku semakin banyak pikiran mas, mau gimana juga itu adalah bakat alami yang mereka miliki. Untuk saat ini, biarkan aku fokus pada kehamilan ini. Selebihnya, kamu yang bertugas menghadapinya ya mas."


Memang benar apa yang dikatakan oleh Nisha, bakat yang dimiliki oleh si kembar adalah secara alami. Mereka memilikinya begitu saja dengan seiring waktu tanpa ada yang memberikan contoh ataupun mempraktekkannya, secara alami saja sudah membuat Ray sakit kepala. Apalagi jika kemampuan itu terus di asah dan ditekuni.


Ray memberikan ruang pada Nisha untuk istirahat, karena kondisi yang dimana ia masih begitu lemah. Walaupun sempat menembak, lebih tepatnya latihan menembak menurut si bumil.


Membawa si kembar untuk sedikit menjauh dari keberadaan Nisha, membiarkannya untuk memulihkan tenaganya yang sudah terkuras habis. Dan kini mereka bertiga sudah berada di dalam ruang kerja milik Ray, memerintahkan kepada para anggotanya untuk berjaga agar tidak ada yang masuk.


Nathan memutar kedua bola matanya dengan sangat malas, ia sudah mengetahui jika Ray akan meminta bukti nyata atas apa yang sudah mereka lakukan. Sedangkan Fiona, ia hanya tersenyum kecut kepada Ray yang sedang berhadapan dengan mereka.


"Ceritakan pada daddy mengenai ini semua, kenapa kalian memberitahukan setelah semuanya menjadi kacau kepada daddy, yang seharusnya daddy menjadi orang pertama untuk mengetahui ini." Tatapan Ray begitu tajam kepada kedua anaknya, kali ini ia mengetahui penyebab dari keduanya suka sekali keras kepala.

__ADS_1


"Daddy, jangan marah ya. Sebenarnya abang sama Fio takut jika daddy marah, maka dari itu kita berdua merahasiakannya dari daddy dan mommy." Fio yang selalu tidak mau terlihat lemah, kini celotehnya sudah menjawab perkataan Ray.


"Takut?" Tanya Ray dengan menatap Fio dengan begitu dekat.


"Ish, mata daddy. Ya takutlah, kan daddy suka marah-marah nggak jelas gitu." Fio melipat kedua tangannya dan menampakkan wajah yang cemberut.


Menahan diri untuk tidak meledak amarahnya, perlahan Ray mengusap wajahnya dengan kasar serta menghembuskan nafas beratnya. Menyandarkan tubuhnya yang lelah sehabis menghadapi kekacauan yang terjadi, dan kini ia dilanjutkan untuk menghadapi keunikan anak kembarnya.


"Jika kalian takut pada daddy, kenapa yang lainnya lebih dulu mengetahuinya daripada daddy. Kalian anggap daddy ini apa?" Ray menatap langit-langit ruangan tersebut.


Deg!


"Jika kalian seperti ini dan daddy tidak mengetahuinya, itu sama saja daddy mengumpankan kalian dengan bahaya. Beruntunglah mommy kalian tidak marah, jika itu terjadi. Kalian akan daddy hukum." Ray kembali menegakkan tubuhnya dengan masih menatap si kembar dengan tajam.


"Daddy, Fio baru saja mengeluarkan kemampuan Fio. Selama ini , abang yang selalu menggunakannya. Jadi, daddy hukum abang saja." Kilah Fio yang berhasil membuat Natha berdengus kesal.

__ADS_1


Tatapan elang itu begitu menusuk Fio, baru kali ini ia mendapatkan tatapan seperti itu dari abangnya. Buru-buru Fio mengalihkan pandangannya agar terhindar tatapan Nathan padanya, menghindar dari tatapan Nathan dan berakhir mendapatkan tatapan tajam dari Ray.


...Mampus kau Fio, abang pasti ngambek dan daddy juga.. Ih, kok aku merinding ya....


Seakan tidak memperdulikan tatapan dari keduanya, Fio memilih menenggelamkan wajahnya pada bantal kecil dari sofa yang ia duduki. Sungguh saat ini, Fio ingin segera keluar dari ruangan tersebut.


"Abang." Suara Ray sedikit mengandung penekanan.


Dan itu, Nathan sudah tahu akan maksud dari perkataan Ray. Ia diminta untuk mejelaskan semuanya yang telah terjadi, tanpa pengecualian. Sebenarnya Nathan begitu malas, namun mau apa juga pasti Ray akan meminta penjelasan darinya.


"Maafkan abang dad."


"Jelaskan semuanya, jangan membuat daddy sakit kepala dengan ulah kalian."


Menunggu penjelasan tersebut, Ray mengunci tatapan kedua anaknya tersebut. Fio kini sudah tidak mau ambil pusing dengan apa yang Ray ucapkan, karena ia merasa belum terlalu banyak mengeluarkan kemampuannya dibandingkan dengan Nathan. Jadi, Nathanlah yang harus menjelaskan lebih banyak kepada Ray.

__ADS_1


Menikmati perdebatan yang terjadi diantara Ray dan juga Nathan, Fio hanya menjadi penonton yang setia. Walaupun usia Nathan sangat jauh dari Ray, akan tetapi perdebatan itu begitu alot. Fio pun memilih untuk tidur daripada pusing melihat dua pria dihadapannya saling beradu argumen.


...Sama-sama menyebalkan, tidka ada yang mau mengalah. Dasar copy paste....


__ADS_2