Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
35.


__ADS_3

Dalam keadaan yang belum pulih, Nisha merasa tidak ingin bertemu dengan Ray. Mungkin karena dalam keadaan hamil dan emosinya yang tidak stabil, membuat Nisha belum bisa mengobrol semuanya.


"Jangan berpikiran yang bisa membuatmu menguras tenaga, sayang. Baiklah, jika kau marah padaku atas semuanya ini. Memang salahku sudah menyembunyikan semuanya darimu, hanya saja aku memiliki alasan untuk semuanya."


Melihat jika istrinya itu masih membuang muka padanya, Ray tidak ingin memaksakan jika Nisha belum siap untuk menerima siapa dirinya sebenarnya.


"Beristirahatlah, aku akan menceritakan semuanya saat kamu sudah siap sayang. Kamu juga nak, jangan membuat mommy kesusahan ya. Biarkan daddy saja yang menikmatinya, ajak mommy untuk beristirahat."Ray berbicara calon baby dan memberikan kecupan pada perut Nisha.


Ray hendak beranjak dari tempatnya semula, namun saat akan melangkahkan kakinya. Tangan Nisha menahannya, tatapan dari mata itu mengatakan jika ia ingin mendengarkan semuanya.


"Ceritakan semuanya." Nisha mengucapkan kalimat yang sudah Ray duga.


Senyuman itu terukir dari bibir seorang pria dingin seperti Ray, ia kembali mendaratkan tubuhnya untuk berada disisi tempat tidur sang istri.


"Baiklah, sebelumnya maaf sudah membuatmu menjadi seperti ini sayang. Akut tidak tahu kau mengetahui hal ini darimana, tapi aku akui kesalahan besarku..."


Tanpa menutupi sekecil apapun dari dirinya, Ray menceritakan semuanya kepada Nisha. Bahkan saat ia menghilang dalam beberapa minggu sebelumnya.


"Semuanya sudah aku ceritakan kepadamu, sekarang terserah dirimu untuk menanggapinnya seperti apa. Aku akan menerima semua keputusanmu, sayang."


Menghapus jejak air mata yang mengalir begitu saja melewati wajahnya, Nisha menatap wajah pria yang sudah menjadi bagian dari hidupnya saat ini dalam keadaan menunduk. Ada rasa marah dan juga bahagia, tidak ingin saling menyakiti satu sama lainnya. Nisha berusaha menerima keadaannya saat ini, menyesuaikan kehidupan yang mau tidak mau akan ia hadapi.


"Maafkan aku mas, aku terlalu larut dalam perasaanku sendiri." Mata itu mengembun dan siap untuk menetes.


Membawa tubuh wanita yang sangat ia cintai ke dalam pelukannya, mengusap kepalanya dengan perlahan. Bagi dirinya, wanita yang menjadi istrinya ini tidak salah. Jika ada yang harus disalahkan, itu adalah dirinya.

__ADS_1


"Kamu tidak salah sayang, sudah jangan menangis lagi. Hatiku sakit melihat dirimu mengeluarkan air mata terus, kasihan baby didalam. Dia akan ikut merasakan jika mommynya sedang banyak pikiran."


Menarik dirinya dari pelukan Ray, Nisha menatap wajah pria yang kini membuatnya jatuh cinta.


"Berjanjilah jika mas tidak akan menyembunyikan apapun dariku."


"Siap bos, apa yang tidak untuk bidadariku ini."


"Bos bos bos, enak saja." Gerutu Nisha.


"Loh, memang bos kan. Bos dari bosnya mafia, hahaha." Tawa itu akhirnya pecah setelah beberapa waktu tegang.


Cup!


Tawa itu seketika berhenti, wajah Ray menjadi kaku layaknya batu. Kali ini bergantian, Nisha yang tertawa dengan sangat keras. Kedua tangannya menahan perutnya yang terasa terguncang akibat dari tertawa, baru kali ini ia melihat wajah Ray yang begitu berbeda.


Menghembuskan nafas perlahan, Ray membalas pelukan dari istrinya dengan lembut. Ia merasa malu dengan kebodohan yang ia buat sendiri, yang pada akhirnya sang istri bisa membuatnya tak berdaya. Sebagai leader dari sebuah kelompok mafia yang terkenal dengan kekejaman serta disegani, tapi tidak saat sedang berhadapan dengan seorang Nisha.


"Kamu begitu berarti untukku, sayang. Maaf sudah membuatmu tidak nyaman, terima kasih sudah menerima diriku yang seperti ini. Baby, dengarkan nak. Hanya mommy yang bisa membuat daddy menjadi manusia biasa yang terlihat tidak berdaya dengan kecerdasannya." Mengelus perut rata itu dengan begitu hati-hati.


"Daddy saja yang terlalu cinta sama mommy, makanya jadi seperti itu. Hahaha maaf sayang." Nisha berhenti tertawa saat mendapat tatapan tajam dari mata Ray, langsung saja ia memasang wajah sendunya sebagai perisai dari amukan.


Dalam keadaan tidak siap, Ray langsung menyerang Nisha dengan kecupan pada bibirnya. Melemahnya dengan penuh gairah, Nisha yang awalnya merasa kaget namun pada akhirnya mengikuti permainan dadi Ray. Keduanya larut dalam kerinduan yang sudah lama terpendam, akan tetapi permainan mereka harus terhentikan saat seseorang yang menerobos masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Hei!!" Teriak keras bergema.

__ADS_1


"Mas." Wajah Nisha berubah menjadi merah.


"Tenang saja sayang, biar mas yang menghukum dokter bede**h itu." Ray tahu jika Nisha menjadi malu setelah Jackson menyaksikan mereka sedang melepas rindu.


"Apa kau bilang, aku bede**h? Dasar tidak tahu terima kasih, jika aku tidak datang, kau tidak akan tahu mau menjadi orangtua. "Jackson mencibir Ray yang ketahuan mengumpat dirinya.


"Berani kau, hah!"


"Memangnya kenapa kalau aku berani menentangmu, aku tidak takut." Merasa ada Nisha disana, Jackson dengan lantang bisa menentang seorang Ray.


"Kau!" Kini emosi Ray benar-benar tersulut karena ulah dokter tersebut.


"Mas, anggap saja kejahilan Jackson itu udara yang hanya lewat. Tidak perlu ikut terpancing dengannya, sini aku kasih saran." Nisha mencegah Ray untuk tidak menanggapi sikap usia Jackson, namun tidak hanya sampai disana. Nisha membisikan sesuatu pada suaminya itu, dan Ray kemudian tersenyum yang mematikan.


"Hei nona bos, kalian membahas apa hah. Jangan ada udang dibalik terasi!" Jackson yang mulai panik akan melihat sikap dua orang dihadapannya itu.


Berjalan dengan begitu tenang, Ray tersenyum menghampiri Jackson yang terlihat melangkah mundur.


"Heh, rupanya ada orang yang hanya berani menentangku saat istriku disini. Mau mencari pembelaan, tapi itu tidak akan berpengaruh sama sekali. Bagaimana sayang, apa hukuman untuk pria bede**h ini." Ray memicingkan kedua bola matanya.


"Tu tunggu, a aku hanya main-main saja Ray. Jangan dianggap serius."


"Menari dengan berpakaian seperti princess akan lebih menarik mas, bisa menghibur orang banyak. Gimana?" Nisha merasa itu adalah hukuman yang cocok buat Jackson daripada suaminya itu akan menggunakan tenaganya.


Dengan usulan dari sang istri, Ray tampak menyeringai dengan tajam. Namun tidak bagi Jackson, ia merasakan aura yang tidak bersahabat dari ruangan itu. Perlahan namun pasti, ia mundur dengan perlahan dan langsung mengambil langkah seribu. Tidak memperdulikan apapun yang terjadi setelahnya, ia lebih memilih menyelamatkan nyawanya dari seorang Ray.

__ADS_1


"Kalian memang pasangan yang cocok, cocok sekali menyiksa orang!" Teriak Jackson dari kejauhan kepada Ray dan juga Nisha.


Keduanya tertawa dengan penuh kemenangan, bahkan Ray merasakan jika ia tertawa begitu lepas. Dimana selama ini, tawanya itu tersimpan rapi didalam dirinya. Kehadiran Nisha dalam kehidupannya membawa perubahan yang positif, berharap kebahagian ini akan terus berlanjut hingga ia menua.


__ADS_2