
Dengan tanpa memberikan sedikitpun celah bagi musuhnya untuk bernafas, Ray selalu memberikan serangan-serangan yang mengakibatkan lawannya tergeletak tak berdaya. Sekali lagi, Ray menghantamkan tendangan dari kakinya untuk menendang Niki dengan cukup keras dan kuat.
"Sayang! Sayang, kamu tidak apa-apa kan?!" Ray menghampiri Nisha yang sudah tergeletak dan membuka semua ikatan yang ada. Membawa tubuh lemah itu ke dalam pelukannya.
"Mm mas." Begitu lirih suara Nisha.
Kedatangan Felix serta bala bantuan yang lain, segera menghampiri tuannya dan memberikan pertolongan. Sedangkan Niki, ia sudah kabur entah kemana. Terkenal dengan kepintarannya dalam melarikan diri, walaupun dengan luka disetujui tubuhnya.
"Mm ma mas, pe perut ku." Tangan Nisha mencengkram kuat perutnya yang sudah sangat menyakitkan.
"Sa sakit!" Erangan Nisha membuat Ray seketika menjadi sangat ketakutan.
"Kita kerumah sakit! Bertahanlah sayang, bertahanlah." Mengendong Nisha dalam keadaan tubuh yang terluka, Ray tanpa peduli lagi dengan dirinya.
"Tuan, luka anda." Felix mengingatkan Ray jika dirinya juga terluka.
Teriakan itu tidak mendapatkan respon apapun dari Ray, yang ia utamakan saat itu adalah keselamatan istri dan anaknya. Mobil yang mereka kendarai melaju dengan cepat, membuat pengendara yang lainnya mengumpat atas laju kendaraan mereka.
"Da darah!" Ray kaget melihat adanya darah yang mengalir dari kaki Nisha, dalam situasi tersebu Nisha sudah kehilangan kesadarannya.
Dugh!
"Cepat! Jika terjadi sesuatu pada istriku, nyawa kalian akan aku habisi!" Ray menendang kursi bagian kemudo dari belakang.
Dalam beberapa menit kemudian, mereka sudah tiba disebuah rumah sakit. Ray begitu cepat membawa Nisha untuk segera mendapatkan pertolongan, rumah sakit itu sedikit gempar dengan keberadaan Ray. Bagaimana tidak, tubuh Ray yang terluka dan bercak darah pada pakaian yang ia kenakan telah berhasil membuat semua perhatian orang tertuju padanya.
Plak!
Seseorang dengan beraninya memukul pundak Ray dan menariknya untuk memasuki salah satu ruangan.
"Kau ini apa-apaan hah! Sorry, aku baru saja mendapatkan kabar jika kalian..." Orang yang berani berbuat begitu pada Ray hanyalah Jackson.
__ADS_1
"Diamlah, jika kau ingin mengobatiku maka cepatlah. Aku ingin menemani istriku!" Ray yang tahu maksud dari sahabatnya itu, walaupun sebenarnya pikirannya hanya tertuju pada istrinya.
...Dasar pria batu, sikapnya masih seperti dulu. Apalagi mulutnya yang tajam, pisau bedahku bahkan kalah tajamnya....
Mempercepat tugasnya, Jackson juga mengkhawatirkan keadaan Nisha. Zahra juga sudah siaga untuk menyambut kedatangan pasiennya itu, mereka mendapatkan kabar dari orang-orangnya jika Ray sedang menuju rumah sakit.
Diruang tindakan, Zahra begitu kaget dengan melihat kondisi yang dialami oleh Nisha. Ia mengupayakan semua penanganan yang terbaik untuk pasiennya, terlebih lagi jika itu adalah orang istimewa dari manusia super kejam. Membutuhkan setidaknya dua jam untuk menstabilkan kondisi pasiennya saat itu, namun semuanya belum membuatnya tenang.
"Ra, bagaimana Nisha?" Ray segera menghampiri Zahra yang baru saja keluar dari ruangan tindakan.
"Nanti saja aku jelaskan, biarkan istrimu dipindahkan dulu." Nada bicar Zahra yang sudah memberikan tanda, jika biasanya ia akan berbicara dengan nada ketus dan tinggi tapi tidak kali ini.
Ray dan Jackson ingin melontarkan pertanyaan lagi, namun pintu berwarna putih itu terbuka dan menampakkan brankar rumah sakit sedang dipindahkan. Mereka pun mengurungkan niatnya dan memilih mengikuti proses pemindahan tersebut.
"Ray." Zahra meminta Ray untuk ikut bersamanya, tetap berada di dalam ruangan yang sama namun lebih sedikit menjauh dari keberadaan pasien.
"Hem."
"Maksudmu? Langsung saja pada intinya." Kalimat tegas itu terdengar sedikit menyeramkan, tatapan matanya pun tidak terlepas dari keberadaan Nisha.
Menghembuskan nafas beratnya yang membuat Zahra dalam keadaan yang begitu sulit, ia tidak ingin membuat kecewa sahabatnya itu dengan apa yang akan ia sampaikan.
"Sampai detik ini, keadaan Nisha bisa dibilang cukup stabil.Tapi, tidak pada janinnya. Saat ini, kondisi janin melemah Ray."
"Aku tidak tahu apa yang terjadi sebelum kalian tiba disini, saat tiba disini. Kondisi ibu dan janinnya dalam keadaan yang cukup berbahaya. Dengan riwayat sebelumnya yang sudah aku jelaskan pada kalian, hal itu bisa membuat salah satu ataupun keduanya tidak selamat."
Kedua mata Ray terpejam sejenak, ia berusaha mendamaikan hati dan pikirannya untuk tidak meluapkan amarahnya saat itu.
"Aku hanya bisa membantu semampuku Ray, untuk selanjutnya aku tidak bisa menjaminkan sesuatu padamu. Beban psikis dan juga benturan yang di alami oleh Nisha, itu sangat berpengaruh. Untuk saat ini, aku hanya bisa menyelamatkannya. Namun aku tidak bisa berjanji untuk waktu kedepannya, Ray." Zahra terpaksa harus mengatakan semuanya yang ia temukan saat menangani Nisha.
Brugh!
__ADS_1
Tubuh yang terlihat begitu kuat dan kokoh itu terhuyung mundur dan hampir jatuh ke lantai, Felix yang masih menemani tuannya itu juga sangat kaget dengan apa yang ia saksikan.
"A aku tidak apa-apa." Ray menolak bantuan yang Felix berikan untuk membantu dirinya.
Dirinya berjalan menghampiri Nisha, menggenggam erat telapak tangan yang punggungnya tercancapkan dengan beberapa alat medis. Jika orang biasa, dengan keadaan terkena tembakan tubuhnya akan menjadi pesakitan. Namun tidak untuk Ray, ia duduk berdampingan dengan tempat tidur sang istri. Jackson memahami situasi saat ini, ia membawa Zahra dan Jackson untuk keluar dari ruangan tersebut. Memberikan waktu untuk keduanya bersama.
"Maaf. Maafkan aku." Suara lirih yang begitu berat terdengar.
Kalimat itu terus terucap dari mulut seorang Ray yang kemudian terdengarlah isakan tangis menyusulnya, dengan kepala yang tertunduk. Ray begitu menyesali dirinya yang telah membawa Nisha ke dalam kehidupannya, yang berarti itu akan secara tidak langsung juga menyeretnya untuk terlibat ke dalam dunia yang ia kerjakan.
"Ma mas."
"Sa sayang! Ka kami sudah sadar." Ray kaget saat suara Nisha terdengar.
Senyuman manis yang diberikan, membuat Ray semakin merasa bersalah akan semuanya.
"Sebentar, mas akan panggil dokter dulu." Saat Ray akan bangkit dari duduknya, tangan Nisha menahan genggaman itu agar tidak terlepas.
"Bisakah aku berbicara berdua saja denganmu mas."
Mendengar kalimat tersebut, membuat Ray mengurungkan niatnya. Ia kembali duduk dan mengusap wajah yang masih terlihat pucat itu dengan perlahan, memberikan kecupan hangat pada kening Nisha.
"Ada apa?" Begitu harusnya perkataan Ray.
Kembali Nisha memberikan senyuman manis itu kepada suaminya, ia menatapnya dengan mata yang begitu indah.
"Jangan menyalahkan siapapun, ini semuanya sudah menjadi garis kehidupan untuk kita mas. Aku bertemu dan bisa bersamamu, itu juga sudah menjadi bagian dari kehidupan yang kita jalani. Hanya saja, itu semua butuh sedikit waktu untuk menyesuaikan."
Tidak bisa untuk berkata-kata, Ray hanya bisa mendengarkan dan juga meresapi setiap ucapan yang Nisha katakan. Namun disaat yang bersamaan, genggaman tangan itu semakin menguat. Ray tampak merasa aneh dengan hal tersebut, ia melihat kedua mata indah itu tertutup dan wajah yang meringis seperti menahan rasa sakit.
"Sa sayang! Sayang kami kenapa? Nisha!"
__ADS_1