Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
26.


__ADS_3

"Dimana ini?" Nisha terbangun setelah efek dari bius tersebut telah habis.


Membuka mata dan melihat sekitarnya yang begitu sangat asing baginya, namun disaat ia akan bergerak. Kedua tangan dan kakinya dalam keadaan terikat, Nisha tergeletak begitu saja di atas sebuah alas yang lusuh.


"Kau sudah bangun, sayang." Suara itu terdengar begitu hangat.


Melihat siapa yang sedang berbicara padanya, Nisha membuka matanya dan menatap orang tersebut dengan tatapan tidak suka.


"Ada apa sayang, mari kita makan dulu. Aku sudah membawakan makanan ini untukmu, aku akan menyuapimu." Vansh dengan wajah gembiranya mulai mendekati Nisha yang melihatnya dalam keadaan ketakutan.


Perlahan Vansh menggerakkan tangannya untuk memberikan makannya tersebut mendekati bibir Nisha, namun bibir itu masih begitu rapatnya tertutup. Kembali meletakan makanan disisinya.


"Akh!" Nisha berteriak saat tangan Vansh menekan rahangnya.


"Kau tidak ingin aku bersikap secara halus, maka cara kasarlah yang kau inginkan sayang." Tatapan mata Vansh begitu menyakitkan Nisha.


Tanpa bisa memberontak, Nisha mendapatkan perlakuan kasar dari pria yang pernah ia kagumi. Akan tetapi, semuanya kini telah memperlihatkan siapa sebenarnya Vansh.


Air mata mulai menetes dari sudut mata yang begitu indah, perlahan namun pasti. Makanan tersebut mulai dimasukkan ke dalam mulutnya, rasanya ingin sekali ia memuntahkannya. Perutnya bergejolak tak beraturan, tidak memberikan kesempatan sedikitpun pada dirinya untuk bernafas dengan bebas bahkan untuk berbicara. Makanan itu sudah hampir habis, kali ini Nisha sudah tidak bisa menahan gejolak tersebut.


Huek!


Huek!


Pada akhirnya Nisha memuntahkan apa yang sudah tidak bisa ia tahan, wajahnya yang sudah sangat memerah menunjukkan suatu tanda.


"A a pa yang ka kak berikan padaku?"


"Ada apa, kenapa kau memuntahkannya? Aku sudah bersusah payah untuk membelinya untukmu! Dasar wanita tidak tahu terima kasih!"


Plak!


Plak!


Tamparan begitu keras Vansh berikan pada Nisha, amarahnya sudah tidak terkendali. Ia mulai menunjukkan sikap kasarnya pada Nisha, menarik rambut panjang itu hingga menyebabkan kepala itu ikut tertarik.


"Akh! Sa sakit kak, to long lepaskan." Nisha merintis menahan rasa sakit yang sudah ia terima.

__ADS_1


Makanan apa yang dia berikan kepadaku? Apakah ada seafoodnya?


"Dengarkan aku, Nisha! Jangan pernah menolak ataupun membuatku kecewa, jika itu terjadi. Maka kau akan menerima akibatnya, paham!" menepuk-nepuk pipi Nisha dengan perlahan.


"Ta tapi kak, makanan apa yang kakak berikan padaku? Apakah ada seafoodnya? Aku punya alergi terhadap makanan itu." Nisha memberitahukan alasannya dalam menanyakan makanan tersebut dan kini nafasnya sudah mulai sesak.


"Seafood?" Vansh tampak sedang berpikir.


"Argh!"


"Jangan pernah mempermainkan aku Nisha, aku bisa saja memperlakukanmu semauku." Vansh menghempaskan tubuh kecil itu dengan sebelumnya ia menarik rambutnya dengan sangat kuat.


Sementara itu, Nisha semakin merasakan tidak enak pada tubuhnya. Nafas yang mulai sesak membuatnya menangis dengan terisak, bahkan disaat seperti ini ia merasa hidupnya sangat menyedihkan.


"Makanan tadi, aku memang memesannya dengan menu yang terbaik disana. Seafood? Oh tidak!" Tiba-tiba saja Vansh menyadari akan kebenaran yang diucapkan oleh Nisha.


"Nish, Nisha! Apa kamu tidak apa-apa?"


Kondisi Nisha benar-benar dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, Vansh melepaskan ikatan pada tangan dan kaki Nisha. Tubuh itu sudah terkulai lemas dengan nafas yang sudah begitu pendek, kulitnya berubah menjadi kemerahan.


"A apa yang harus aku lakukan, apa kamu benar-benar alergi terhadap seafood?" Kepanikan menerpa Vansh.


"To tolong bawa aku kerumah sakit kak, ini benar-benar sakit. A aku mohon kak." Rintihan Nisha memohon untuk mendapatkan pertolongan.


Tidak ada rasa belas kasihan yang ditampakkan pada wajah Vansh, ia bahkan menyeringai. Mencengkram rahang Nisha begitu kuat, ia menyeret tubuh itu dan menghempaskannya begitu saja.


"Kau kira aku akan mempercayaimu begitu saja, itu tidak akan pernah terulang lagi. Kau meninggalkanku disaat aku berjuang untukmu, apa kau tahu aku bahkan hampir saja kehilangan nyawa untuk membelamu dihadapan kedua orangtuaku."


"Kini, kau membuat hal seperti ini agar aku mempercayaimu dan melepaskanmu lagi. Heh! aku tidak sebodoh itu Nisha."


Dress yang Nisha kenakan tersingkap, memperlihatkan kaki jenjangnya yang begitu menggoda seorang Vansh. Nisha yang menyadari arti dari tatapan mata itu, ia segera merapikan pakaiannya dan berusaha untuk menjauh.


Tolong, kumohon. Siapapun itu, kumohon tolong.


Berjalan tertatih menghindari pria yang seakan-akan ingin mencelakai dirinya, sesak di dada semakin membuat Nisha tidak bertahan.


"Mau kemana kau, hah!" Vansh menarik tubuh Nisha dari arah belakang dan menahannya.

__ADS_1


"Le lepas kak." Nisha sekuat tenaga memberontak.


"Jika kau terus seperti ini, jangan salahkan juga benda ini akan melukaimu."


Sebuah benda tajam yang berada tepat didepan tubuhnya, membuat Nisha terdiam.


"Bagus, aku suka dirimu yang seperti ini sayang." Vansh menghembuskan nafasnya disamping telinga Nisha.


Namun, keadaan Nisha benar-benar sudah tidak bisa dianggap remeh. Alergi seperti itu akan membawa suatu petaka besar jika hanya dibiarkan begitu saja, tanpa ada penanganan yang khusus.


Tubuh kecil itu ambruk dan jatuh secara tiba-tiba, mendapati hal seperti itu. Vansh mengira jika Nisha memberontak dan ingin kabur darinya. Sehingga membuat senjata yang masih dalam genggaman tangan Vansh itu secara refleks menggores dan menancap tubuh bagian perut Nisha.


Tidak ada teriakan ataupun perlawanan yang diberikan, tubuhnya terlalu lemah untuk melakukan hal tersebut. Mendapati senjata ditangannya telah melukai Nisha, Vansh menjadi panik.


"Nish, Nisha. A a apa yang sudah aku lakukan." Tangan pria itu bergetar dan ia menarik tubuh Nisha yang sudah tidak bergerak ke dalam dekapannya.


Masih dalam keadaan sadar, walaupun tubuhnya sudah tidak memiliki tenaga sedikitpun. Melihat darah yang sudah begitu banyak mengalir dari perutnya, membuat Nisha memasrahkan dirinya.


Kini, mata itu mulai perlahan tertutup. Tidak cukup kuat untuk melawan dan menahan rasa sakit pada tubuhnya.


"Nisha! Nisha!" Suara teriakan terdengar cukup keras.


Seseorang pria sudah menerobos masuk ke dalam bangunan tersebut dengan cepat, ia mulai menelusuri setiap ruangan disana.


Brakh!


Pintu itu terbuka dengan menggunakan tendangan yang cukup keras, mata itu langsung menangkap sesosok tubuh wanita yang begitu ia cintai sudah tergeletak di lantai dengan posisi memunggungi dirinya. Berjalan terseok-seok menghampiri tubuh tersebut, lalu ia ikut terjatuh disisinya.


"Baby, apa kamu baik-baik saja?" Perlahan ia meraih tubuh itu dan membaiknya.


"Da darah!"


"Ti tidak, Sayang! Sayang bangun! Sayang!" menepuk-nepuk wajahnya dengan harapan bisa membangunkannya.


Felix dan beberapa anggota lainnya baru saja tiba, melihat kondisi tuan dan nona mereka seperti itu. Ia langsung menarik tubuh Ray dengan sangat kuat.


"Jangan menatapinya, cepat kerumah sakit!"

__ADS_1


Teriakan itu menyadarkan Ray dari kepanikannya, mengendong tubuh kecil itu dan berlari menuju mobilnya, Felix mengambil alih kemudi dan Ray bersama Nisha pada kursi bagian belakang.


__ADS_2