Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
106.


__ADS_3

Kehadiran dari pendatang baru di mansion tersebut, membuat Ray harus menjadi orang yang ekstra sabar. Karena tidak mudah untuk menghadapi ke tiga anaknya yang kini sudah beranjak dewasa, apalagi ketiganya mempunyai pribadi yang berbeda juga.


"Nasib oh nasib." Gerutu Ray yang sedang berada di ruang kerjanya.


"Dad." Tiba-tiba saja suara itu membuat Ray kaget.


Memasuki ruang kerja dengan berjalan perlahan, Revan duduk tepat dihadapan Ray. Begitu tampak serius sekali wajah anak itu, entah apa yang akan mereka bicarakan. Anak bungsu dari Ray itu memang terkesan sangat pendiam, melebihi dari kadar abang dan juga daddynya. Namun yang anehnya, hanya Nisha yang Lagi-lagi menjadi pawang dari mereka semuanya.


"Ada apa Nak? Tidak ikut kakak?" Ray kaget saat melihat kedatangan Revan dihadapannya, karena si kembar sedang pergi membeli sesuatu.


Tidak ada jawaban apapun yang dikeluarkan oleh Revan, ia hanya menyerahkan sebuah amplop yang cukup besar kepada Ray. Kening Ray tampak berkerut, karena putra ketiganya itu tidak kan bertemu bertatap muka seperti ini jika tidak ada sesuatu yang genting.

__ADS_1


Meraih dan membuka amplop tersebut, kedua bola mata Ray seketika membesar saat melihat isi dari amplop tersebut. Menatap wajah Revan dengan tajam, mengisyaratkan agar menjelaskan apa arti dari barang itu.


"Daddy tanya saja pada usianya uncle Felix." Revan segera berdiri dan meninggalkan Ray sendirian.


Dengan sikap anak ketiganya yang seperti itu, Ray sudah tidak asing lagi. Ia dan Nisha mengira akan mempunyai anak yang mempunyai karakter lebih lembut dari si kembar, tapi ternyata lebih istimewa lagi.


Segera menghubungi Felix untuk segera datang ke mansion, Ray masih menatap amplop itu dengan sangat heran. Sebenarnya Ray sudah mengetahui apa arti dari kehadiran dan benda tersebut dari putra bungsunya itu, akan tetapi ia tidak ingin menduga-duga.


Kini Felix sudah hadir dihadapannya, Ray melemparkan amplop yang diberikan Revan sebelumnya kepada dirinya. Dengan hal tersebut, Felix menarik nafas panjang dan segera menghembuskannya dengan cepat. Seakan terasa begitu berat sekali penjelasan yang akan ia berikan kepada Ray, bahkan ia lebih memilih untuk menghadapi persoalan perusahaan saja daripada hal ini.


"Tidak, jelaskan saja yang kau ketahui." Ray menopang dagunya dengan kedua jemari telunjuk dan juga ibu jari.

__ADS_1


Mengambil tempat yang cukup nyaman untuk dirinya, Felix mengeluarkan benda pipih dari saju jas yang ia kenakan. Terdapat suatu file yang berisikan hasil rekaman kamera pengawas dari dalam ruangan, dimana ruangan itu merupakan tempat yang cukup mereka kenal.


Didalam video tersebut, Revan yang sedang berhadapan dengan seseorang yang cukup mempunyai reputasi tinggi di negara mereka. Seperti sedang bertransaksi untuk mencapai kesepakatan dari suatu pekerjaan, namun disana terlihat jika Revan tidak terlalu menanggapi perkataan dari orang tersebut.


"Mereka meminta tuan muda untuk menukar masa depannya dengan semua bisnis yang mereka miliki, tuan." Jawab Felix dengan nada yang benar-benar pasrah seperti seakan tidak rela jika hal itu terjadi.


"Katakan saja yang sebenarnya, otakku sudah tidak bisa untuk berpikir terlalu lama." Kening Ray tampak berkerut.


Saat ini usia Ray sudah tidak muda lagi, dimana anak-anaknya kini sudah beranjak dewasa. Bahkan Nathan sudah ia berikan kepercayaan untuk menjalankan perusahaan dengan sepenuhnya, walaupun masih harus ia pantau untuk beberapa kendala yang ada. Fiona, ia memilih jalannya sendiri untuk mengembangkan kemampuannya dalam hal obat-obatan. Dan Revan, ia masih menempuh pendidikan akhirnya di salah satu perguruan tinggi yang ada.


"Tuan muda Revan diminta untuk menikah dengan salah satu anak dari pengusaha tersebut, tuan. Namun hal itu tidak mendapat tanggapan sedikitpun dari tuan muda, karena..." Felix terhenti untuk menjelaskan lebih lanjut, karena ia tahu hal tersebut bisa membuat kepala tuannya sakit.

__ADS_1


Membuat Ray semakin menebak-nebak apa yang sebenarnya yang tengah dihadapi oleh putra bungsunya itu, memang secara fisik dan kemampuan. Revan sangat menonjol dari abangnya, hanya saja Nathan lebih bisa membaur dan menyatu dengan lingkungannya dibandingkan dengan Revan yang terlalu dingin, kaku dan lainnya.


"Jangan suka menggantungkan pembicaraan, kalau pada akhirnya kamu tidak menyelesaikannya." Nada bicara Ray sedikit meninggi, merasa Felix tidak bisa sampai tuntas untuk menjelaskan.


__ADS_2