
Walaupun sudah berkali-kali mendapatkan larangan untuk bekerja oleh Ray, namun Nisha masih dengan kemauannya untuk tetap bekerja. Sudah hampir satu bulan ini, Nisha bekerja tanpa adanya gangguan dari Ray, hal itu juga menjadi sesuatu yang membuat dirinya merasa aneh.
"Hari ini kok sepi ya bang, tidak seperti biasanya." Obrolan Nisha pada Satria yang saat itu sedang satu tempat dengannya.
"Namanya juga tempat nongkrong Nish, nggak selalu harus ramai. Nanti jam break orang kerja juga datang sendiri tu pelangan. Kamu kenapa nanya begitu? Kan sudah biasa dengan keadaan dan situasi seperti ini, tumben." Satria menatap dan membolak balikan tubuh Nisha, mencari keanehan dari sahabatnya.
Plak!
Nisha memberikan tepukan pada lengan Satria, karena Nisha merasa pusing dengan ulahnya. Bahkan Satria dengan polosnya mengulangi kembali ulahnya yang belum menemukan jawaban.
"Stop bang, pusing!" Nisha berteriak sedikit keras.
Menyadari akan teriakan dari Nisha, Satria segera menghentikan ulahnya. Mendapatkan tatapan tajam dari sahabatnya itu, ia pun dengan berpura-pura melirik ke berbagai arah untuk menutupi ulahnya. Tatapan itu berlangsung cukup lama, sehingga membuat Satria menjadi salah tingkah.
Kok, aku merasa aneh sendiri dengan sikapku ini. Ada apa sebenarnya, apa aku mau demam? Hem, sepertinya tidak. Dalam lamunannya, Nisha berperang dengan alam pikirannya sendiri.
Duar!
"Hei!"
"Yak!" Teriak Satria dan Nisha bersamaan setelah dikeluarkan oleh suara keras.
"Hahaha, kalian berdua lucu sekali." Devi tertawa sambil memegangi perutnya yang sakit akibat dari tertawanya.
"Devi!" Bersamaan pula Satria dan Nisha berteriak menyebut sahabatnya yang begitu mengesalkan.
Tanpa aba-aba, Devi sudah terlebih dahulu kabur saat mendapati kedua sahabatnya itu sangat kesal pada dirinya dan siap untuk menerkam dirinya. Tak lama kemudian, aktivitas pengunjung mulai berdatangan. Mereka kembali disibukkan dengan pekerjaannya maisng-masing, hingga jam kerja pun berakhir. Kini Nisha pulang tidak sendirian lagi, Ray sudah menugaskan salah satu orangnya untuk menghantarkan dan menjemput Nisha pulang, yaitu Heru.
"Tuan permisi, boleh saya bertanya?" Walau ragu untuk menanyakannya, namun rasa penasaran pada dirinya lebih besar.
"Ah iya nona, silahkan." Jawab Heru.
"Emm, tidak jadi deh." Nisha menarik lagi rasa keingintahuannya.
Mengurungkan niatnya untuk tidak bertanya, Nisha melihat ke arah luar jendela mobil. Ia masih merasa penasaran dan mengetuk-ngetuk kepalanya dengan menggunakan jarinya, masih merasa ragu akan maksudnya untuk bertanya.
__ADS_1
"Tuan Ray kemana ya, sudah begitu lama tidak terlihat." Akhirnya pertanyaan itu keluar sendiri dari mulut Nisha.
"Oh, nona menanyakan tuan. Maaf nona, bukan kapasitas saya untuk menjawabnya. Anda bisa menghubungi tuan langsung dan mendapatkan jawabannya." Heru dengan senyuman kecilnya mulai menyadari jika Nisha mulai memperhatikan tuannya.
"Menghubunginya?" Dengan sangat pelan Nisha bergumam.
"Ya ampun, ponselnya dimana ya. Aduh, kenapa jadi begini sih." Nisha baru menyadari jika ia tidak pernah menyentuh lagi ponsel tersebut semenjak Ray memberikannya padanya.
Menepuk-nepuk kursi bagian kemudi dari arah belakang, Nisha meminta Heru untuk lebih cepat membawanya sampai dirumah. Sikap Nisha saat itu sangat terlihat begitu konyol, bagaimana bisa ia memperlihatkan kekhawatirannya pada pria yang sebelumnya ia tolak agar tidak mendekati dirinya. Namun kini, hanya tidak ada kabar dan komunikasi apapun dari pria tersebut. Membuat dirinya menanyakan keberadaannya, ini sangat bertentangan dengan prinsipnya.
...----------------...
Dilain negara, Ray saat ini sedang menangani beberapa kendala yang terjadi pada perusahaan miliknya.
"Tuan, ini temuan kita." Felix menyerahkan beberapa berkas yang sangat penting.
Sudah hampir satu bulan lamanya Ray berada di salah satu cabang perusahaan miliknya di negara seberang, terjadi banyak kekacauan yang merusak kinerja dan juga menyebabkan kerugian cukup besar. Ray membaca berkas tersebut dengan begitu teliti, keningnya tampak berkerut.
"Huh, permainan yang kotor. Panggil mereka semua, adakan rapat dalam waktu sepuluh menit."
"Bagaimana Black?" Pertanyaan yang membuat Felix menghembuskan nafas kasarnya.
Inilah alasan kuat buat Ray berada dinegara seberang saat ini, Black sudah mengacaukan beberapa perusahaan dan juga bisnis Ray dari dunia bawah. Keberadaannya selalu menjadi bayangan yang sulit untuk ditemukan.
"Belum tuan, kita belum menemukan jejaknya." Felix juga tahu akan isi dari kepala tuannya.
Ray menyandarkan punggungnya dan memejamkan mata, lingkaran pada matanya sudah begitu terlihat.
"Ya sudah, sepuluh menit Felix."
Mengingat waktu, Felix segera keluar dari ruangan Ray dan mengumumkan adanya rapat dalam waktu sepuluh menit. Semua kepala divisi menjadi kalangan kabut dengan pemberitahuan tersebut, mereka tidak mempunyai persiapan untuk menghadapi bos besar.
Dalam waktu tersebut, ruang rapat segera berisikan dengan sangat cepat. Ray dengan langkah kaki panjangnya berjalan menuju ruang rapat. Semua mata menunduk saat bos mereka memasuki ruangan, terasa aura yang begitu mencekam didalam ruangan tersebut.
"Nama yang akan saya sebutkan, harap tetap berada didalam ruangan. Dan yang lainnya silahkan untuk bekerja kembali." Felix menyebutkan beberapa nama dan ruangan segera dikosongkan dari orang yang tidak berkepentingan.
__ADS_1
Hanya tertinggal beberapa orang saja disana, mereka pun dalam keadaan yang cukup tegang.
Brakh!!
Berkas dilemparkan begitu saja oleh Ray dihadapan semua orang, kertas berhamburan dan hampir memenuhi dari ruangan tersebut. Ray berdiri dari duduknya dan berdiri menghadapi mereka yang tidak berani menatapnya.
"Jelaskan semuanya." Suara Ray begitu sangat begitu menyeramkan untuk orang-orang tersebut.
Tidak ada yang dengan berani untuk menaikkan wajahnya, mereka menyadari akan kesalahan yang telah mereka lakukan.
"Tidak ada satupun dari kalian yang ingin menjelaskan pada saya!" Suara berat itu penuh dengan penekanan.
Empat pria dan dua pegawai wanita yang belum memberikan penjelasan dan juga masih menundukkan kepalanya, Ray duduk diatas meja miliknya. Menahan amarah yang sudah memenuhi dirinya dan siap untuk meledak, melihat pegawainya tidak ada yang menjawab dari ucapannya.
Brakh!!!
Brakh!!!
Dua meja hancur berserakan dihadapan mereka, Ray menggerakkan kakinya untuk menendangnya yang berakhir dengan hancurnya meja tersebut.
"Jika kalian masih terus bungkam, maka hidup kalian akan berakhir seperti meja itu! Cepat katakan!!" Bentak Ray dengan begitu lantangnya.
Perlahan ke enam orang tersebut mulai memberikan reaksinya, mereka saling menunjuk untuk menjelaskan kepada bosnya. Felix hanya berdiri pada tempatnya semula, ia tahu jika tuannya sedang dalam situasi yang tidak ingin dicampuri. Maka ia hanya menjadi penonton dari kejadian tersebut, tentunya dengan penuh drama.
"Ma ma afkan kami tuan, ka mi mengaku salah. Tolong maafkan kami tuan, kami mohon jangan hukum kami." Salah satu dari mereka akhirnya angkat bicara, dalam keadaan bersujud dan menunduk.
Mendapatkan pengakuan dari orang-orang tersebut, yang sudah mengakui jika mereka bersalah. Hilangnya dana perusahaan dalam jumlah yang cukup banyak, bahkan beberapa tender kerjasama dengan beberapa klien juga ikut terbengkalai. Dengan muka yang merah menahan marah, Ray mengepalkan tangannya dengan sangat kuat. Ia bermaksud menghampiri ke enam tersangka yang membuat perusahaannya kacau, namun langkah itu terhentikan oleh sesuatu.
Ddrrtt...
Ddrrtt...
Ponsel milik Ray bergetar dari saku kemejanya, menghentikan langkah kakinya dan mengambil ponsel tersebut karena telah mengganggunya. Ray sudah siap dengan segala emosinya saat akan berbicara pada sang penelfon, akan tetapi itu berubah seketika saat melihat nama yang tertera dari sang penelfon. Lalu ia mengisyaratkan kepada Felix untuk meneruskannya.
Siapa yang menelfon? Sang dewa penyelamat untuk ke enam orang ini, jika tidak kalian akan habis di tangan tuan. Felix merasa ada sesuatu pada tuannya.
__ADS_1