
"Kau benar-benar ceroboh Ray!" Kini Heru berbalik marah setelah mendengar penjelasan dari Ray.
Tanpa berpikir panjang, Ray segera pulang ke negaranya dan mengerahkan seluruh anggotanya untuk mencari keberadaan Nisha. Sedangkan Heru, ia memilih untuk memulihkan tubuhnya yang begitu sangat tragis.
Ddrrtt...
"Hallo nek, emm..." Ponsel Heru mendapat panggilan masuk dari Soraya, ia menanyakan mengenai Nisha.
Menceritakan kejadian yang sebenanrnya terjadi, Heru menjelaskan perkara yang sedang di alami Nisha dan Ray.
"Heh, biarkan mereka sendiri untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang ada. Jangan ikut campur nak, semoga dengan peristiwa ini. Rumah tangga mereka menjadi lebih baik dan kokoh, dunia kalian sangat rentan dengan makhluk yang bernama wanita. Ya sudah, cepatlah pulih dan pulanglah nak." Soraya menyayangi Heru seperti ia menyayangi Nisha.
"Iya nek, bisakah tidak memarahiku saat pulang nanti?" Heru menggunakan kalimat memelasnya.
"Untuk apa nenek memarahimu, yang ada nantinya penyakit nenek akan kambuh. Nenek beri waktu dua hari, setelah itu kau harus pulang."
"Apa! Dua hari?! Wah, nenek benar-benar mau membuat cucumu ini seperti robot berjalan ya. Daripada dua hari, lebih baik sekarang saja pulangnya. Hufh!" Heru berceloteh atas perkataan Soraya padanya.
"Nah, itu benar sekali. Nenek tunggu hari ini, jika kau tidak sampai. Nenek akan menyiapkan hukuman yang tepat untukmu."
Tut tut tut...
Soraya memutuskan pembicaraannya segera, sebenarnya ia sangat merindukan kedua cucunya itu. Namun ia tidak ingin membuat kedua merasa kasihan kepadanya, hanya saja kasih sayangnya itu terlalu besar.
"Nek, nenek?! Aish, hancur semua rencanaku. Lebih baik pulang daripada kehilangan keluarga." Dalam keadaan yang masih begitu lemah dan luka bertebaran di tubuhnya, Ray menyiapkan diri untuk segera pulang.
.
.
__ADS_1
Tak terasa sudah satu bulan berlalu, Nisha semakin betah tinggal dan kerja di sebuah kampung kecil yang cukup jauh dari perkotaan.
"Cha, hari ini kan kita tidak kerja. Cari angin yuk, siapa tahu kita dapat sesuatu yang menguntungkan." Jihan terlihat bersemangat sekali.
"Sesuatu apaan? Kayaknya lebih enak rebahan untuk mengembalikan tenaga." Nisha merasa tubuhnya sedikit tidak enak.
"Ya elah, yok!" Tanpa persetujuan dari yang punya badan, Jihan langsung menarik tangan Nisha dan membawanya untuk pergi ke salah satu pusat perbelanjaan di kota.
Menaiki angkutan desa yang membutuhkan waktu satu jam, mereka telah tiba di kota. Menelusuri setiap pertokoan yang ada, tidak ada yang menarik perhatian dari Nisha. Ia hanya mencari air minum yang bisa membasahi tenggorokan yang terasa sangat kering, sedangkan Jihan. Ia sudah membeli beberapa barang ya g sangat ia inginkan, dan saat ini perut mereka berdua sudha berteriak untuk segera di isi.
"Cha, kita coba makan roti tumpuk yuk. Kayaknya enak banget, melihat gambarnya saja sudah membuat air liurku menetes." Roti tumpukan yang Jihan maksud adalah hamburger.
"Tapi, apa kamu tidak berhemat? Ini masih awal bukan Jihan, tanggal gajian juga masih lama." Nisha mengingatkan Jihan agar tidak terlalu boros, mengingat mereka adalah perantau.
"Tidak apa-apa Cha, sesekali kan boleh. Lagian juga aku masih ada tabungan yang cukup sampai kita gajian nanti, ayo kita makan. Perutku sudah memberontak nih, sekalian mau pesan untuk dibawa pulang. Soalnya jauh kalau mau kesini lagi nantinya, hehehe."Jihan segera mempercepat langkahnya menuju tempat tersebut.
Melihat kekonyolan temannya itu, Nisha menggelengkan kepalanya. Mengikuti jejak langkah Jihan, mereka berdua saling bertatap-tatapan saat akan memesan makanan tersebut.
"Memangnya kamu mau pesan apa? Daripada bingung, lebih baik kita cari tempat yang biasa saja."
"Is kamu, kapan lagi kita akan ke kota. Kita minta tolong sama mas-mas itu saja yuk, daripada malu-maluin." Jihan menunjuk seorang pegawai tempat makanan tersebut yang sedang membereskan meja.
Dengan tersenyum, Nisha berjalan berlawanan arah dengan apa yang diinginkan oleh Jihan. Nisha memesan beberapa roti yang di inginkan oleh Jihan dan juga menu makanan lainnya untuk mereka nikmati, tak lupa ia juga memesan untuk dibawa pulang nantinya.
"Jihan, ayo makan." Panggil Nisha yang masih ragu-ruga untuk meminta bantuan kepada pegawai tersebut.
Kedua mata Jihan membesar, saat melihat Nisha yang sudah duduk pada salah satu meja dengan beberapa makanan didekatnya. Sedikit berlari kecil ia menghampiri Nisha.
"Wow, kamu." Jihan masih kaget dengan apa yang ia lihat saat itu.
__ADS_1
"Sudah, tidak perlu kaget seperti itu. Tadi aku meminta bantuan mbak cantik disana untuk memesan, kalau nungguin kamu kan bisa lama." Senyum Nisha membuyarkam emosi Jihan yang membawa.
"Benar juga, habisnya aku takut bicara sama orang kota. Yang ada nanti malah dibilang wong ndeso, malu lah. Ni roti, boleh dimakan kan Cha?" Sorot mata Jihan begitu memburu makanan yang ada.
"Kalau dibeli hanya buat dilihatin doang, lebih baik aku sedekahkan saja pada orang lain."
Srek!
"Emmm, e enak sekali. Mak... Anakmu akhirnya bisa makan roti tumpuk lezat ini, emmm Cha. Ini buat dibawa pulang ya? Kamu kok belinya banyak? Tadi bilangnya tidak mau." Dengan mulut yang tidak berhenti mengunyah, Jihan menanyakan perihal pembelian makanan tersebut.
"Lebih baik makan saja dulu, tidak baik bicara sambil mengunyah makanan." Senyuman itu semakin mereka dengan sikap Jihan yang begitu lucu.
"Ah, benar sekali." Mereka menikmati semua makanan tersebut dengan begitu bahagia, tampak sekali jika Jihan sangat menghayati setiap kunyahan makanan itu.
Jihan tidak mengetahui jika Nisha sebenarnya adalah orang kota yang kabur, yang ia tahu Nisha adalah Icha dan sama-sama perantau untuk mencari pekerjaan.
Saat setelah selesai dengan acara mengisi perut, Nisha bermaksud untuk membersihkan tangannya dan mencucinya pada sebuah tempat khusus disana. Tanpa sengaja ia bertabrakan dengan seorang wanita cantik yang berakhir dengan ricuh dan membuat dirinya harus hancur kembali.
Dugh!
"Ah, maaf. Maafkan saya nona, saya tidak sengaja." Nisha segera menundukkan wajahnya.
"Apa katamu, maaf? Heh, mudah sekali mulutmu berbicara seperti itu. Kau lihat, sepatuku menjadi lecet karena bersentuhan dengan sesuatu yaang sangat tidak sepadan." Wanita itu secara tidak langsung sudah memperlakukan Nisha dihadapan banyak orang.
Karena Nisha belum kembali, Jihan segera menyusulnya dan melihat keramaian disana.
"Icha, ada apa?" Jihan menepul bahu Nisha yang masih menunduk.
"Hei kamu, bilang sama temanmu ini. Dia harus ganti rugi atas lecetnya sepatuku ini, tapi. Jika di lihat dari penampilan kalian, sepertinya kalian tidak akan sanggup untuk menggantinya." Wanita tersebut memberikan celaan kepada Nisha dan Jihan.
__ADS_1
"Apa katamu, hah!!"Jihan yang tersulut emosi dengan ucapan dari wanita tersebut, namun Nisha segera menarik tangan temannya itu agar tidak memperpanjang permasalahan yang ada.