Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
90.


__ADS_3

Kebisingan yang terjadi diantara Ray dan kedua anaknya kembarnya, berhasil membuat Nisha membuka mata. Dengan perlahan dan masih sayup, ia berusaha untuk menyaksikan pemandangan yang langka. Tatkala Ray harus menghadapi sikap dari si kembar, biasanya ia akan bersikap acuh dan selalu memberikan izin kepada si kembar, tapi tidak untuk kali ini.


"Daddy, Fio hanya mau nemenin mommy. Kenapa tidak boleh? Lagian, untuk nemenin Fio tidur saja mommy tidak boleh." Gerutu Fio dengan sikap Ray yang melarang kedua anaknya berada disana.


"Bukan begitu Fio, mommy sedang butuh istirahat yang banyak. Jika kalian disini, bagaimana sekolah kalian nak. Nanti sepulang sekolah, kalian bisa menemani mommy lagi." Mengusap puncak kepala Fio yang masih cemberut.


Dengan tangan menyilang, Fio menatap Ray dengan sangat tajam. Untuk Nathan, ia malah sudah berada disamping Nisha. Menatap wanita yang sudah melahirkannya sedang terlelap, begitu menyakitkan.


"Mom, jangan tidur begitu lama. Abang tidak mau bersama daddy terus, membosankan. Adek abang yang baru jadi kecebong, buat mommy sadar ya. Love U mom." Natham mengecup kening Nisha dan keluar dari kamar.


Melihat Nathan yang sudah tidak ada didalam sana, membuat Fio mengkerutkan keningnya. Menatap Ray seakan meminta penjelasan atas keberadaan Nathan saat itu, namun Ray menggerakkan bahunya sebagai tanda tidak tahu.


"Huh, daddy ngeselin! Mommy, Fio berangkat sekolah dulu ya. Bye mom, Love U." Fio juga mendaratkan ungkapan kasih sayangnya pada Nisha dan menjulurkan lidahnya pada Ray, lalu menghilang.


Menghembuskan nafas beratnya dan panjang, memijit pelipis dengan kedua jarinya. Benar-benar menguras tenaga yang cukup besar jika sudha berhadapan dengan si kembar, apalagi Nathan yang sangat irit dalam berbicara tapi tidak saat ia bersama Nisha.


Mendaratkan tubuhnya berada disisi tempat tidur, Ray menggenggam tangan Nisha dengan perlahan. Mengecup punggung tangan yang tidak terkena jarum infus, namun wajah itu tersenyum.

__ADS_1


"Wajahku tidak akan berubah walaupun mas menatapnya terus-terusan."


Ray menaikan wajahnya, mendengar suara dari wanita yang memiliki jiwanya telah membuat dirinya seperti sedang mendapatkan hadiah yang super besar.


"Sayang, kamu sudah sadar?" Seakan menyakinkan jika mata dan telinganya tidak salah.


"Hehehe, sejak mas beradu argumen dengan Fio. Mas, sini." Nisha meminta Ray untuk membantunya duduk dan bersandar pada dinding tempat tidurnya.


Dengan perlahan dan sangat hati-hati, Ray membantu Nisha agar biasa duduk dan merasa nyaman dengan posisinya. Memberikan segelas air untuk diminum oleh Nisha, Ray benar-benar memperhatikan dan menjaga Nisha.


"Apa kamu mau makan sayang? Dari semalam bahkan siangnya kamu belum makan apapun."


"Tapi sayang, kamu sedang ha.."


"Iya mas, aku sudah mendengarnya. Mas, mau dipeluk." Ucap Nisha seakan manja dengan suaminya.


Tanpa berpikiran apapun, Ray memeluk tubuh Nisha dengan sangat hati-hati. Kebahagian yang selalu menghiasi hidupnya, wanita yang benar-benar telah mengisi kehidupannya.

__ADS_1


"Selamat ya, mau jadi daddy lagi." Ucap Nisha dengan menghirup aroma tubuh Ray yang sangat membuatnya nyaman.


"Eh, kamu tahu darimana sayang?" Ray tampak bingung dengan apa yang di ucapkan Nisha.


"Ish, dikasih selamat tapi malah bengong. Tadi Nathan yang mengatakan adiknya kecebong, dan itu membuatku berpikir jika diriku sedang mengandung mas." Nisha melepaskan tangannya dari tubuh Ray namun dengan cepat tubuh itu kembali kedalam dekapan semula.


Hening untuk beberapa saat, Ray membiarkan suasana hening itu untuk mereka masing-masing menenangkan diri. Hingga waktu yang dirasa telah cukup, Ray menatap wajah Nisha.


"Terima kasih mom, sudah mau mengandung kembali penerus kita. Terima kasih juga sudah hadir sebagai kekuatan dan juga nyawaku, terima kasih sayang, terima kasih." Membawa Nisha kembali ke dalam dekapannya, namun itu tidak berlangsung lama.


Huek!


"Mas, mmpp. Bantu aku ke kamar mandi mas, huek!" Nisha membekap mulutnya yang sudah mau mengeluarkan sesuatu dari dalam perutnya.


Ray langsung mengendong tubuh Nisha dan membawanya menuju kamar mandi, akan tetapi sebelum langkah kaki lebar itu tiba disana. Nisha sudah mengeluarkan cairan bening bercampur bau yang sangat menyengat pada dada bidangnya Ray, merasa tidak enak dan bersalah pada suaminya itu. Namun perutnya kembali bergejolak.


"Mmmm, huek!"

__ADS_1


Mengeluarkan semua apa yang perutnya ingin keluarkan, Ray menikmati kembali proses itu setelah lima tahun melupakannya. Setelah merasa lega, Ray membersihkan tubuh Nisha yang terkena cairan muntah tersebut. Awalnya Nisha menolak, akan tetapi tubuh itu memang belum bisa bergerak seperti biasa dan terlalu lemah yang pada akhirnya menerima apa yang suaminya itu lakukan.Tubuh Nisha sudah kembali bersih seperti sedia kala, bergantian dengan dirinya untuk membersihkan diri.


__ADS_2