
"Hahaha, ampun Ray." Membuka masker yang ia gunakan, Haykal yang baru saja selesai melakukan operasinya mendapati Ray yang sedang didorong menggunakan kursi roda.
Jiwa menggodanya terlintas begitu saja, bahkan ia merasa sangat senang dengan reaksi yang diberikan oleh Ray.
Mereka melanjutkan tujuannya, Haykal yang masih menahan tawanya mengikuti mereka dengan mengobrol bersama Heru. Meri hanya bisa menatap kedua pria itu dengan dingin, benar-benar tidak menampakkan apapun.
"Hei, kalian!" Zahra yang kaget saat mendapati Nisha dan Ray memasuki ruangan prakteknya.
"Mbak, apa kabarnya?" Nisha menyalami dan memeluk Zahra.
"Baik, loh Ray kenapa Nish?" Zahra melihat wajah Ray yang sudah begitu pucat.
"Biasalah, palingan cuma manja-manja doang. Hahaha." Haykal dengan recehnya menggoda Ray.
Sruth!
Begitu cepat Heru menutup wajah Haykal dengan topi medis yang ia kenakan, menahannya dan menarik keluar dokter tersebut dari ruangan. Heru tidak ingin memperburuk keadaan dengan posisi Ray yang memasang wajah dinginnya, apalagi mulut Haykal yang tidak bisa dikontrol.
"Memangnya ada apa Nish dengan suamimu ini?" Zahra bersedekap dan menatap Ray dengan wajah yang sangat datar.
"Aku juga tidak terlalu tahu mbak, mas Ray muntah-muntah dan sangat lemas. Memang sih dalam beberapa hari ini, mas Ray suka makan makanan yang sifatnya asam dna pedas. Sudah aku wanti-wanti mbak, tapi ya begitulah mas Ray."
"Sayang."Mengeluarkan perkataan yang cukup manja.
Wajah Zahra sudah tak sanggup untuk menahan tawanya, bahkan yang ia lihat saat ini bukankah Ray sang leader .Melainkan seorang pria manja yang sedang merenggek pada istrinya, benar-benar diluar dugaan jika Ray bisa bersikap seperti itu.
"Berhenti menertawaiku." Ray menatap Zahra dengan tajam.
"Hahaha, oke oke. Aku periksa dulu, Nish ayo." Zahra mengintruksi Nisha untuk berbaring di atas brankar.
Sontak saja hal itu membuat Nisha bingung dan juga Ray.
"Hei, aku yang sa..." Ray yang menyela segera dihentikan oleh Zahra.
__ADS_1
"Ssstthhh, kau diam saja. Walaupun kau yang sakit, tapi aku harus memeriksa istrimu dan itu akan membantu menemukan penyakit yang sedang kau alami saat ini." Jelas Zahra yang segera menyuruh Nisha untuk segera berbaring.
Tanpa bantuan dari asistennya, Zahra segera mengoleskan jel pada perut Nisha. Jika ia saat ini menggunakan asisitennya, yang ada Ray akan semakin mengeluarkan ketidaksukaannya saat Nisha disentuh oleh orang lain.
Alat tersebut diletakkan di atas perut Nisha dan mulai menekan sedikit dan berputar, terdapat sebuah tangkapan pada layar datar yang mereka lihat.
"Wah wah wah, ini benar-benar gawat. Sudah selesai Nish, kamu bisa duduk dan mengajak pria itu bersamamu. Jangan biarkan dia merusak ruanganku ini." Zahra yang sudah paham akan sifat dan karakter seorang Ray.
Baik Nisha maupun Ray sangat dibuat kebingungan dan penasaran dengan apa yang Zahra katakan, mereka kini berhadapan dengan dokter cantik itu.
Tatapan Ray semakin tajam dan begitu mengintimidasi Zahra untuk segera menjelaskan semuanya, namun Zahra bersikap santai dan sengaja mengulur waktu agar bisa memancing emosi seorang Ray.
Brakh!
"Kau kira aku suka menunggu!" Gebrakan meja itu membuat Zahra semakin pecah untuk tertawa.
"Hahaha."
Benar-benar suasana saat itu membuat Nisha berada dalam posisi ya g tidak mengenakan, ingin rasanya ia menampol sang suami yang tidak bisa menahan emosinya walaupun sesaat. Akan tetapi ia juga tidak paham akan situasi yang sudha diciptakan oleh Zahra, seakan-akan ia kini harus menyaksikan perdebatan diantara Zahra dan Ray.
"Hahaha, baiklah. Akan aku jelaskan tentang penyakit yang sedang kamu alami Ray."
"Bagaimana bisa kamu menjelaskannya? Aku yang sakit, tapi Nisha yang kau periksa!" Begitu ketus Ray menjawab perkataan Zahra, namun hal itu hanya ditanggapi dengan senyuman oleh Zahra.
"Kau ini, apa kalian berdua tidak belajar dari sebelum-sebelumnya? Jika ada orang yang masuk ke dalam ruanganku, maka sudah dipastikan akan berhubungan dengan profesiku sebagai dokter kandungan kan! Jadi, hal apa yang bisa kalian berdua simpulkan?" Lagi-lagi Zahra memancing emosi Ray.
"Zahra!" Suara Ray meninggi.
Lagi-lagi Nisha harus bisa menahan emosi Ray yang sudah meluap itu, berdebat juga akan percuma.
"Makanya, jangan suka membuatnya saja. Lihat layar itu dan itu hasil dari pemeriksaan pada perut Nisha tadi, ada dua titik yang ada disana. Itu tandanya?" Zahra melemparkan pandangannya pada kedua insan yang berada dihadapannya.
Pandangan Nisha dan juga Ray melihat gambar tangkapan pada layar tersebut, membenarkan jika disana ada dua buah titik. Setelah beberapa saat, Nisha mulai mengerti namun tidak untuk Ray yang masih belum menyadari.
__ADS_1
"Ah, mbak! Benarkah?" Nisha yang kaget dan wajahnya berubah berseri.
"Hem, kau bisa melihatnya sendiri." Zahra membenarkan apa yang Nisha ingin ungkapkan.
Mengetahui maksud dari yang Zahra katakan, Nisha yang awalnya nampak berseri dan kini merubahnya menjadi datar.
"Sayang, ada apa ini?" Ray yang masih tidak menyadari sesuatu kebahagian sedang menghampirinya.
Plak!
"Sayang!" Ray protes mendapatkan tangan Nisha menepuk lengannya.
"Hahaha, kau benar-benar bukan Ray. Ray Tamoez tidak se lelet ini untuk berpikir, titik dua itulah penyebab dirimu menjadi seperti ini. kau terkena sindrom simpati Ray." Jelas Zahra yang sudah tidak dapat menahan tawanya dengan sikap Ray.
Kembali lagi Nisha memberikan tepukan pada lengan Ray, kali ini ia sangat marah akan pemikiran Ray.
Plak!
Plak!
"Kamu ini mas, masa tidak paham juga. Aku hamil mas, dan titik dua itu adalah calon anak kita." Begitu berangnya Nisha dengan sikap Ray.
Ekpresi wajah Ray terlihat seperti orang yang baru saja bangun tidur, sangat polos dan tidak terlihat seperti seorang Ray Tamoez yang begitu kejam dan dingin.
Kedua wanita itu, Zahra dan Nisha menghela nafas panjangnya. Lalu mereka membiarkan Ray begitu saja dan Zahra pun menjelaskan beberapa poin kepada Nisha mengenai kehamilannya, dengan pengalaman kehamilan sebelumnya. Zahra lebih mengantisipasi semuanya.
"Ingat, jadikan pengalamanmu yang sebelumnya untuk kali ini. Waspada lebih baik, karena kamu sudah memahami siapa Ray sebenarnya. " Zahra memberikan nasihat pada Nisha untuk lebih waspada.
Karena status Nisha sebagai istri dari seorang Ray sudah diketahui oleh seluruh kalangan dunia bawah dan juga dunia bisnis. Tidak menutup kemungkinan akan ada orang-orang yang berniat jahat padanya, lebih baik meningkatkan kewaspadaan daripada mengulang kembali kejadian sebelumnya. Meresepkan beberapa vitamin dan juga memberikan saran mengenai apa saja yang dibutuhkan dan tidak selama kehamilan berlangsung, karena Nisha pernah kehilangan pada kehamilannya yang pertama.
"Terima kasih mbak atas nasihatnya." Nisha memeluk Zahra dan bermaksud untuk keluar dari ruangan tersebut.
Kaki Nisha sudah berada didepan pintu dan Ray baru menyadari hal tersebut.
__ADS_1
"Tunggu sayang, tunggu."