Wanita Istimewa Sang Mafia

Wanita Istimewa Sang Mafia
34.


__ADS_3

"Lepas, lepaskan mas." Teriak Nisha yang memberontak untuk melepaskan diri dari genggaman Ray.


Ray tidak mengucapkan sepatah katapun, ia juga merasa sangat kaget dengan apa yang di ucapkan oleh Nisha. Bagaimana bisa ia mengatakan jika dirinya adalah seorang mafia, hal tersebut membuat Ray menjadi berubah.


"Lepaskan Mas, lepaskan. Kamu pembohong." Semakin kuat Nisha memberontak, maka semakin kuat pula tangan kekar itu menggenggam lengannya.


Bugh!


Membawa tubuh mungil itu ke dalam pelukannya, Ray benar-benar membuang semua keegoisannya untuk seorang Nisha.


"Kamu pembohong mas, pembo hong. Argh!" Tangan Nisha meremas perutnya yang terasa sakit.


"Sayang! Ada apa, kenapa?" Ray panik saat Nisha berteriak dengan keras.


"Sa sakit!"


"Sakit? Sayang ada apa ini, sakitnya dimana?" Ray mendaratkan tubuh mereka kebawah.


Melihat Nisha yang terus meringgis kesakitan, dengan wajah yang berubah seketika menjadi pucat seperti kapas. Tatapan mata Ray menangkap tangan Nisha yang menggenggam perutnya.


"Kita kerumah sakit, kamu bertahanlah sayang." Ray menggendong Nisha dan bergegas membawanya.


Terlihat jika seorang Ray yang biasanya akan membuat semua orang segan dan takut, namun saat ini wajah itu menampakkan kepanikan yang luar biasa. Heru dan Felix yang saat itu sedang bercengkrama di luar mansion, mendadak ikut panik ketika melihat Ray keluar dengan menggendong Nisha.


"Cepat kerumah sakit!" Teriak Ray pada keduanya.


Tanpa bertanya ataupun mengucapkan kata, keduanya segera membukakan pintu mobil terdekat dan mempersilahkan Ray untuk masuk. Laju mobil tersebut cukup cepat.


"Nisha, tuan. Ada apa dengan Nisha?" Heru membuka suara saat ia mendapati Nisha yang tengah meringgis kesakitan.


"Aku tidak tahu, istriku mengeluh perutnya sakit."Ray begitu sangat panik.


Tidak ingin menambah kepanikan, Heru mempercepat laju mobilnya. Ingin rasanya dia memberitahukan tuannya jika Nisha sedang mengandung, namun ia membiarkan hal itu agar Ray mengetahuinya sendiri.


Mobil berhenti tepat di depan ruangan gawat darurat, Nisha segera mendapatkan pertolongan dari tenaga kesehatan disana.


"Ray! Ngapain kalian disini?" Jackson yang saat itu sedang bertugas, melihat teman-temannya berada disana.

__ADS_1


"Diam kau!" Jawab Ray dengan tegas.


Heru dan Felix menahan tawanya saat melihat Jackson terkena semprotan Ray, bahkan mereka berdua memilih untuk diam saja daripada ikut terkena dampaknya.


Pintu ruangan berwarna dominan putih itu terbuka, seorang dokter keluar untuk menanyakan keberadaan keluarga pasien.


"Dokter Jackson." Dokter tersebut melihat rekannya satu profesi.


"Ya Dokter Said, ada apa?" Jackson yang belum mengetahui hal apa yang membuat ketiga pria itu berada disana.


"Apa kau mengenal keluarga pasien atas nama Nisha?"


"Nisha!" Jackson begitu kaget mendengar nama tersebut, lalu ia memberikan tatapan tajam kepada ketiga pria disana.


"Saya suaminya, bagaimana keadaan istrinya saya?" Ray terlebih dahulu menyela pembicaraan kedua Dokter tersebut.


"Hem baik tuan, bisa berbicara diruangan saya saja." Dokter itu mengajak Ray untuk berbicara diruangannya.


Sebelum mereka berlalu, terlihat sebuah brankar keluar dari ruangan tersebut. Nisha yang berada disana, akan di pindahkan menuju ruangan perawatan. Tentunya ruangan yang terbaik disana, Heru dan Felix memilih untuk mengikuti kemana brankar itu berjalan daripada menyaksikan Jackson dan Ray saling berada tatapan.


"Begini tuan, keadaan dari seorang wanita yang sedang hamil muda. Lebih baik dijaga akan emosi dan pikirannya untuk tidak berada dalam tekanan yang bisa menimbulkan stres, hal itu sedikit berbahaya untuk perkembangan janin." Dokter Said menjelaskan hasil dari apa yang dia dapatkan.


"Hamil? Apa maksud anda?" Ray yang benar-benar tidak mengetahui apapun yang terjadi, ia sangat kaget dengan semuanya yang ia dengar saat itu.


"Apa anda tidak mengetahui jika istri anda sedang hamil, tuan?"


Menggelengkan kepalanya, sebagai tanda jika ia benar-benar tidak mengetahui apapun. Tatapan itu beralih kepada Jackson yang sedari tadi mengikuti mereka ke dalam ruangan tersebut, mengerti akan arti dari tatapan itu. Jackson langsung mengalihkan pandangannya ke arah berlawanan, dan itu membuat Ray mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.


"Jangan lari kau!" Ray berteriak sedikit keras kepada Jackson yang mundur perlahan untuk kabur dari ruangan tersebut.


Tanpa menyelesaikan penjelasan dari dokter tersebut, Ray menarik kerah jas berwarna putih itu keluar dari ruangan.


"Ada-ada saja kelakuan manusia sekarang, aku belum selesai menjelaskan tentang keadaan istrinya, hufh. " Dokter Said menjelaskan nafasnya dengan kelakuan dari Ray.


Melepaskan tarikan tangannya dari jas yang digunakan oleh Jackson, Ray kini terlihat seperti orang yang akan menyerang seorang musuhnya.


"Jelaskan semua ini, dokter sialan!" Ray menatap tajam kepada orang berjas putih tersebut.

__ADS_1


"Menjelaksan apa? Apa kau sendiri sadar akan kesalahan yang sudah kau lakukan pada wanita yang kau anggap sebagai istri itu, hah?!"


"Apa maksudmu?" Ray tidak mengerti akan perkataan yang Jackson katakan padanya.


"Dasar bo**h! Kau meninggalkan istri untuk dalam waktu yang lama dan tidak ada kabar apapun, wajar saja jika dia merasa kau tidak mempunyai perhatian. Bahkan saat ini dia sedang mengandung saja kau tidak tahu, habis nyoblos lupa ingatan. Manusia batu jaman jebot!" Jackson meluapkan rasa kesalnya kepada manusia yang kurang peka seperti Ray.


"Kau!"


Dugh!


"Yak!!" Rasa sakit dari kakinya yang ditendang Ray menggunakan sepatu, bagi Jackson lebih baik dia bertarung saja.


Ray mendaratkan tubuhnya pada kursi terdekat, menghela nafasnya dengan menutup kedua matanya. Jackson pun saat ini melihat Ray seperti tidak biasanya, wajah pria dingin dan kejam itu kini seperti orang putus asa.


"Kau terlihat sangat tragis sekali." Dengan mengelus kakinya yang masih terasa sakit, Jackson ikut mendaratkan tubuhnya disamping Ray.


"Huh! Nisha mengetahui aku seorang mafia." Ucap Ray dengan lirih.


"Apa?! Kau serius? Selama ini kau tidak memberitahukan hal itu padanya? Aish, kau manusia batu dan ceroboh." Betapa kagetnya dan tidak percayanya Jackson dengan apa yang baru saja Ray katakan.


Keduanya hening dan tidak ada yang melanjutkan pembicaraannya, hingga sesuatu yang membuat mereka terkagetkan.


"Sayang!"


"Nisha!"


Pintu ruang perawatan terbuka, Nisha yang sudah sadar bermaksud untuk pergi dari tempat tersebut. Namun keinginannya itu tidak berjalan dengan baik, ia pun menghembuskan nafasnya dengan cukup kasar.


"Kenapa berjalan sendiri, sayang. Kamu belum boleh turun dari tempat tidur, ayo kembali." Ray menghampiri Nisha yang sudah terdiam di depan pintu.


Akan tetapi, hal yang Ray lakukan langsung mendapatkan penolakan. Nisha menepis tangan Ray dari tubuhnya, yang membuat Ray dan Jackson menjadi kaget.


"Sayang, kamu masih sakit. Ayo kembali ke dalam, tidak baik mengabaikan kesehatan apalagi sudah ada baby disini." Telapam tangan Ray mengelus perut Nisha yang masih sangat datar.


"His, kalian berdua membuat mataku tidak suci lagi. Lebih baik aku pergi saja dari sini." Jackson segera berlalu dari pasangan tersebut.


"Ayo sayang."

__ADS_1


__ADS_2